Seandainya Dunia Berakhir

0
27 views

Oleh Abd Muid N

Kontroversi selama tiga tahun tentang berakhirnya kehidupan dunia di tahun 2012 berujung anti klimaks. Kiamat tidak terjadi dan kehidupan berlangsung seperti sediakala. Ramalan peristiwa sedahsyat kiamat mampu membelokkan kehidupan manusia secara umum menjadi betul-betul berubah ke titik ekstrim.

Di kelas, seorang mahasiswa saya bertanya, “Pak, benarkah dunia akan berakhir pada tanggal 21 Desember 2012?” Saya jawab, “Saya tidak tahu.” Saya balik bertanya, “Seandainya kiamat terjadi besok, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh manusia sekarang?” Para mahasiswa banyak yang menduga bahwa orang akan beramai-ramai melaksanakan shalat. Jawaban seperti ini mungkin berasal dari nalar religius yang mereka punya.

Ada sebuah novel yang bercerita tentang kiamat. Judulnya, Mimpi-Mimpi Einstein, karya Alan Lightman. Novel itu saya beli karena tipis; isinya pun sebenarnya lebih berupa sekumpulan cerpen-cerpen daripada sebuah novel. Karena sering kesulitan membaca novel-novel yang panjang, saya suka novel setipis seperti ini. Di salah satu bagian novel itu diceritakan tentang dunia akan berakhir.

Konon kiamat bukan hanya pernah diramalkan terjadi 2012. Bahkan di awal abad ke-19, ramalan itu pun pernah muncul dan dipercaya oleh banyak orang. Ketika itu, kiamat diramalkan terjadi pada 26 September 1907 dan sejak itu, kehidupan manusia benar-benar berubah. Semakin jadwal kiamat itu mendekat kehidupan manusia semakin aneh, terutama orang-orang dewasa. Anak-anak tidak. Ketika sekolah-sekolah diliburkan karena orang-orang dewasa merasa tidak ada lagi gunanya proses belajar-mengajar saat kiamat semakin dekat, anak-anak malah senang. Bagi mereka, itu semacam hadiah liburan yang datangnya tak diduga-duga. Mereka bermain dan menghabiskan uang jajan setiap hari. Orang tua mereka tidak peduli. Toh, dunia akan berakhir. Untuk apa lagi mengajari anak-anak itu tentang berhemat?

Semakin dekat jadwal kiamat, kebebasan semakin membahana. Ternyata masa depan sering menjadi pengekang orang untuk mengekspresikan kebebasannya. Di saat masa depan tidak ada lagi, beban pun menguap. Karena itu, tidak ada lagi ketakutan. Kebebasan mencuat.

Diceritakan, ada seorang yang lelaki yang sekian lama memendam dendam kepada atasannya karena berselingkuh dengan isteri sang lelaki. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut kehilangan pekerjaan. Kini ketakutan itu tidak ada lagi. Sang atasan dilabrak olehnya. Kiamat yang tidak menyediakan masa depan membuat keberaniannya tumbuh. Dia tidak lagi takut dipecat. Mungkin atasannya juga tidak akan memecatnya. Untuk apa lagi pecat-memecat? Toh, dunia akan berakhir. Tidak lama lagi.

Di dalam novel ini, tidak sedikit pun disebutkan tentang ramalan kiamat yang berdampak kesalihan. Novel ini tidak menyebutkan bahwa ketika kiamat mendekat, gereja, masjid, dan siagog penuh sesak oleh orang-orang yang ingin bertaubat agar kehidupan mereka di akhirat lebih baik. Tidak ada.

Penulis novel lebih memilih kejadian-kejadian yang lebih sederhana. Seorang pengacara tiba-tiba berbincang akrab dan bergandengan tangan dengan seorang tukang pos di mana sebelumnya mereka kadang-kadang berjumpa tetapi hanya bertukar sapa ringan setelah tukang pos membawa beberapa pucuk surat untuk sang pengacara. Di kesempatan hidup dunia yang semakin mepet, mereka bersahabat untuk terakhir kalinya dan selama-lamanya. Masing-masing mengungkapkan rahasia.

Mungkin saja penulis novel ini tidak cukup religius untuk menangkap kemungkinan fenomena religiusitas yang terjadi seandainya dunia akan berakhir. Mungkin juga kesalihan pribadi bukan satu-satunya pilihan seandainya dunia akan berakhir. Besok.[]