Saran untuk Pengurus Masjid (2)

0
60 views
  1. SEPENUH JIWA.

Mengurus masjid seharusnya dilakukan dengan sepenuh jiwa, tidak harus sepenuh waktu. Bila sudah sepenuh jiwa, maka waktunya ada. Bila tidak sepenuh jiwa, ada waktupun suka berkata tidak ada waktu, sibuk. Sepenuh jiwa membuat masjid diurus dengan penuh penghayatan. Manajemen modern bisa saja diterapkan dalam mengurus masjid, tapi tetap saja pendekatannya dengan pendekatan organisasi sosial. Sepenuh jiwa membuat seorang pengurus selalu berusaha untuk peningkatan pemakmuran masjid dalam makna yang luas. Ia tidak pasrah dengan keadaan masjid yang kurang makmur, tapi berusaha mengembangkan kreatifitas dan terobosan-terobosan baru.

Agar bisa sepenuh jiwa, kuncinya adalah ikhlas, karena Allah swt saja dalam mengurus masjid. Keikhlasan membuat sesuatu yang berat akan terasa menjadi ringan. Tanpa keikhlasan, yang ringanpun akan terasa menjadi berat. Konflik di kepengurusan masjid banyak terjadi, salah satunya karena tidak ada keikhlasan.

  1. TELADAN BAGI JAMAAH

Menjadi pengurus masjid mestinya tidak sekadar tercantum dalam susunan pengurus. Tapi berusahalah untuk aktif sebagai pengurus sekaligus jamaah. Karena itu, pengurus masjid seharusnya bisa menjadi teladan bagi jamaah pada umumnya.

  1. Teladan dalam pembentukan kualitas pribadi sehingga keshalehan dengan ibadah dan akhlak yang mulia selalu disempurnakan.
  2. Teladan dalam shalat berjamaah sehingga pengurus masjid selalu melaksanakan shalat berjamaah di masjid. Pokoknya, kalau ia ada di rumah, mesti shalat jamaah di masjid yang diurusnya. Jangan sampai umat Islam dihimbau dan ditekankan untuk shalat jamaah di masjid, tapi pengurusnya justeru tidak shalat jamaah di masjid.
  3. Teladan dalam menghadiri majelis ilmu, hal ini karena selain peribadatan, kajian keislaman merupakan kegiatan unggulan di masjid. Pengurus masjid seharusnya hadir di majelis ilmu. Ada ketua masjid mengeluh susahnya menghadirkan jamaah yang lebih banyak dalam pengajian. Lalu saya tanya: “Pengurusnya ada berapa orang?.” Ia menjawab: “Ada 30 orang.” Kalau 30 orang hadir pengurus itu hadir tentu berjalan dengan baik pengajian. Apalagi 30 orang itu mengajak isterinya, tentu jadi 60 orang, belum lagi jamaah biasa. Sambil bercanda saya katakan lagi: “Yang punya isteri dua, ajak dua-duanya, jadi berapa?.”

Tegasnya, pengurus masjid harus menjadi teladan dalam soal kebaikan. Karenanya, pengurus masjid harus bisa menjadi teladan dalam soal kebaikan, dan ia selalu berusaha memperbaiki diri. Tapi, jangan juga beranggapan bahwa pengurus masjid haruslah orang-orang yang suidah sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna, yang dituntut adalah berusaha menyempurnakan diri.

  1. SAMAKAN PEMAHAMAN

Menyamakan pemahaman (persepsi) tentang konsep masjid yang ideal sangat penting. Urgensi, peran dan fungsi masjid serta bagaimana mewujudkannya agar menjadi masjid yang ideal pada masa kini dan mendatang merupakan sesuatu yang amat penting dan mendasar untuk sama-sama dipahami oleh pengurus masjid. Caranya antara lain:

  1. Mengadakan ceramah, diskusi, seminar, pelatihan tentang manajemen masjid.
  2. Pembekalan pengurus secara khusus di awal priode kepengurusan.
  3. Mengadakan rapat tahunan dan bulanan serta mungkin saja dua pekanan atau pekanan untuk menyusun program, evaluasi pelaksanaan program dan kepanitiaan pada momen-momen tertentu seperti kegiatan Ramadhan, Shalat Id, penyembelihan hewan qurban dan kegiatan lain yang memerlukan kepanitiaan secara khusus.
  4. Melakukan dialog kemasjidan yang bersifat informal, obrolan yang rileks dan lepas kadangkala bisa memunculkan gagasan cemerlang dan mendapat solusi atas persoalan yang dihadapi oleh kepengurusan masjid.
  5. Memiliki konsultan ahli manajemen masjid, sehingga mendapat arahan, bila ada persoalan yang belum bisa diatasi bersama dapat dikonsultasikan kepada ahlinya.

Bila persepsi pengurus sudah sama, mudah untuk menjalin kerjasama dan bila ada perbedaan kecil tidak akan menjadi besar apalagi menjadi sumber konflik.

(bersambung)