Saran untuk Pengurus Masjid (1)

0
126 views

Saya sudah sering menjadi narasumber seminar, pelatihan dan ceramah manajemen masjid hingga ke pelosok-pelosok negeri. Beberapa buku tentang masjid sudah saya terbitkan. Pertanyaan, konsultasi hingga curhat tentang masjid saya dengar dengan penuh perhatian dan saya berikan jawaban atau solusinya. Sebagai salah seorang Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI), saya sangat menghargai Pengurus Masjid yang mengurus masjidnya dengan baik hingga mencapai kemajuan. Tapi, saya juga prihatin terhadap pengurus masjid yang tidak serius, bahkan masjid itu seperti tidak ada pengurusnya. Sejak tahun lalu, saya berusaha mempersiapkan pengurus masjid melalui kursus manajemen masjid yang diberi nama SEKOLAH MANAJEMEN MASJID.

Berdasarkan semua itu, melalui media ini, saya ingin menyampaikan saran untuk Pengurus Masjid, ditulis secara berseri, entah sampai berapa seri.

  1. BERBAHAGIALAH

Berbahagialah menjadi pengurus masjid. Kenapa?. Karena Allah swt telah memberikan ladang untuk beramal shaleh. Amal untuk mengajak kaum muslimin memakmurkan masjid, amal untuk melayani jamaah masjid dengan sebaik mungkin, amal untuk menguatkan persatuan dan meningkatkan kualitas umat Islam, minimal amal untuk memperbaiki kualitas diri kita sebagai muslim.

Menjadi pengurus masjid membuat kita malu kepada diri sendiri dan kepada Allah swt bila kita tidak ke masjid. Menjadi pengurus masjid membuat “rem” kita lebih pakem dari penyimpangan, ada beban moral yang kuat dalam jiwa kita. Bahkan bisa jadi, anggota keluarga ikut malu untuk menyimpang. “Bagaimana mungkin saya menjadi tidak baik, padahal suami saya pengurus masjid,” begitu kata hati isteri. “Bagaimana mungkin saya tidak menjadi anak shaleh, padahal bapak saya pengurus masjid,” begitu kata hati anak.

Berbahagialah menjadi pengurus masjid, karena masjid adalah alat untuk berjuang. Berjuang meningkatkan pemahaman dan komitmen umat terhadap Islam, berjuang menjalin kerjasama keumatan, meningkatkan kesejahteraan. Tegasnya, berjuang seperti Nabi saw berjuang. Bila setiap jamaah memperoleh keutamaan memakmurkan masjid, apalagi pengurusnya. Kalau ada orang yang berambisi untuk menjadi pengurus masjid, mestinya karena ambisi untuk berjuang, bukan status untuk mendapat penghormatan, apalagi sekadar mau ngatur agar orang tunduk kepadanya.