Sang Pembeda

0
44 views

Oleh Abd. Muid N.

Namanya sangat masyhur di seluruh dunia sejak abad ke-7 Masehi hingga saat ini. Oleh seorang penulis buku yang juga masyhur, Michael H. Hart, dia ditempatkan pada posisi ke-50 manusia paling berpengaruh di dunia; Muslim kedua setelah pembawa agama Islam itu sendiri, Nabi Muhammad saw. Dia malah dianggap lebih masyhur dari penyeru Perang Salib, Paus Urbanus, yang berada pada posisi ke-51.

Karena itu, siapa yang tidak mengenal dia? Umar bin Khattab. Nama itu semakin masyhur dengan gelar yang disematkan padanya yang tidak kalah mentereng, al-Farûq. Sebuah gelar yang cukup untuk membuat bulu kuduk musuh-musuhnya merinding walau hanya mendengarnya dari sayup-sayup kejauhan dengan singkatan: Umar al-Farûq.

Dengan kemasyhuran sedemikian, tidak menakjubkan jika namanya diabadikan di mana-mana di seluruh penjuru dunia. Tidak terhitung nama masjid yang memakai jasa namanya; yayasan, lembaga, sekolah, pesantren, dan sebagainya. Nama “Umar” tidak akan pernah seluas itu pemakaiannya tanpa kehadiran seorang Umar bin Khattab. Di sekitar kita pasti banyak yang bernama Umar walau mungkin tanpa embel-embel bin Khattab.

Tiba-tiba salah satu pesantren yang meminjam nama Umar bin Khattab sebagai namanya memberikan kejutan yang turut membuat pesantren tersebut masyhur, meski belum semasyhur Umar bin Khattab sendiri. Kejutan itu berupa ledakan bom yang menewaskan salah seorang yang dipanggil Ustadz. Kabar masih simpang siur. Polisi ditolak masuk pesantren oleh brikade santri yang memblokir jalan.

Kita jadi kembali teringat nama al-Farûq: Sang Pembeda. Umar bin Khattab mendapatkan gelar itu karena sikapnya yang sangat kukuh memegang prinsip-prinsip kebenaran dan menghindarkan diri dari kebatilan, tanpa kompromi. Tidak hanya terhadap orang-orang lain, juga untuk dirinya sendiri. Konon dia hanya mempunyai dua lembar pasang baju dari bahan yang paling murah, padahal dia seorang khalifah dengan gelar Amirul Mukminin ketika kekuasaan Islam telah jauh melampaui Jazirah Arabia. Gubernur-gubernurnya pun tidak diizinkan hidup bermewah-mewahan dengan ancaman pemecatan jika melanggar.

Siapa pun yang memakai nama Umar bin Khattab dan untuk apa pun nama itu dipakai, maka bayangan tentang al-Farûq itulah yang akan muncul sebagai harapan untuk diwujudkan. Barangkali tidak terkecuali sebuah pondok pesantren yang menamai dirinya Umar bin Khattab.

Tapi mestikah dengan bom? Atau semua ini hanya rekayasa?[]