Saatnya Muslim Bicara!

0
40 views

Pasca peristiwa WTC , Islam dan teroris mendadak populer di Barat. Terlebih lagi di lokasi TKP alias Amerika Serikat. Perang yang dikobarkan oleh Amerika di beberapa negara muslim, dianggap masyarakat dunia sebagai perang antara Amerika dengan dunia Islam. Seiring dengan itu, serangan teroris dan tindak kekerasan kian marak terjadi. Walhasil, masyarakat sipil -baik muslim maupun nonmuslim- menjadi korban terorisme yang kian global ini, baik itu yang mengatasnamakan agama atau tidak.

 

Selain itu, masyarakat dunia pun tak henti-hentinya disuguhi analisis dan paparan opini dari para pakar dan cendikiawan yang menyebut dirinya ‘pengamat terorisme’ yang mempersalahkan ajaran agama Islam atas terjadinya aksi terorisme ini. Bahkan, nyaris seperempat orang Amerika, 22% mengatakan bahwa mereka tidak ingin punya tetangga Muslim (Gallup Poll News Service). Parahnya lagi, isu Islam sebagai teroris ini dijadikan alasan adanya aksi bakar al-Qur’an yang dimotori oleh mereka yang mengaku sebagai agamawan di negeri Paman Sam itu.

 

Bersamaan dengan itu, kelompok-kelompok (jamaah) Muslim ekstrem yang diberi label oleh Barat dan Amerika sebagai teroris terus menyebarkan pesan ke seluruh dunia yang mencap Barat sebagai musuh Islam dan menuduhnya sebagai penyebab semua keperihan di dunia muslim.

 

Di tengah retorika kebencian dan bertambahnya kekerasan yang mengejawantah baik dalam bentuk anti-Amerika di dunia Muslim maupun (Islamophobia) di Barat, diskriminasi atau kebencian terhadap Islam atau Muslim menjadi berkembang luas.  

 

Sehingga, opini yang disebarkan oleh kaum fobia-Islam serta aksi kelompok yang sebenarnya minoritas dari sekian miliar penduduk muslim dunia ini akhirnya mampu membuat citra Islam yang sebenarnya rahmatan lil alamin menjadi sebaliknya di mata dunia.

 

Buku Saatnya Muslim Bicara! berbicara tentang mayoritas muslim yang suaranya dibungkam ini.  Opini mereka sering tenggelam ditimpa suara-suara dari kutub ekstrem yang lebih banyak diekspos media. Buku ini adalah hasil kajian riset raksasa dari Gallup, yang memakan waktu bertahun-tahun. Gallup melakukan puluhan ribu wawancara, tatap muka satu jam, terhadap warga yang tinggal di lebih dari 35 negara berpenduduk mayoritas muslim atau memiliki populasi Muslim yang cukup besar.

 

Setelah mengumpulkan segudang data yang dianggap mewakili pandangan Muslim dunia, mereka mencermati data itu guna mencari jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang sering diajukan oleh banyak orang, terutama nonmuslim yang tinggal di Barat: Siapakah Kaum Muslim? Apa pangkal gelombang anti-Amerika di dunia Muslim? Siapa para ekstremis itu? Apa yang membuat seseorang menjadi radikal? Apakah kaum Muslimin menginginkan demokrasi atau teokrasi?Apa yang sebenarnya yang diinginkan perempuan Muslim? dan seterusnya sehingga diharapkan adanya jawaban dari pertanyaan seperti:

          Apakah mayoritas Muslim menyetujui aksi terorisme atas nama Islam?

          Apakah mayoritas Muslim membenci Barat?

          Manakah yang dipilh Muslim: demokrasi atau teokrasi?

          Benarkah mayoritas Muslimah merasa tertindas? Dan benarkah mereka menginginkan kebebasan seperti wanita barat?

 

Ternyata, berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan sejak tahun 2001 dan baru selesai pada 2007 itu, membuktikan bahwa sebagian umat Islam justru mengutuk terorisme, atau serangan terhadap penduduk sipil (74% di Indonesia, 86% di Bangladesh, 80% di Iran). Angka ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan sikap warga Amerika terhadap serangan terorisme. Hanya 46% masyarakat Amerika yang menganggap pengeboman dan serangan terhadap penduduk sipil tidak dapat dibenarkan. Sementara 24% warga Amerika percaya bahwa serangan semacam itu “sering atau terkadang bisa dibenarkan”.

Di bab pertama buku ini, ditunjukkan pula fakta-fakta bahwa sebagian besar umat Islam yang menyebar di sekitar 57 negara di dunia, justru berada di luar kawasan Arab, dan memiliki budaya lokal yang beragam. Muslim Arab hanya sekitar 20% dari keseluruhan populasi Muslim dunia. Fakta ini tampaknya penting dikemukakan karena masyarakat Barat beranggapan seakan-akan Islam identik dengan Arab, dan bangsa Arab dianggap menyukai kekerasan. Padahal bahkan di negara-negara Arab pun, survey Gallup menunjukkan, sebagian besar umat Islam mengaku “memiliki banyak cinta dalam hidupnya”. (95% responden Mesir dan 92% responden Arab Saudi). Ini berarti, sebagian besar umat Islam di mana pun lebih menyukai kedamaian, dan tidak suka dengan kekerasan.

Pada bab selanjutnya, diuraikan hasil survey mengenai pandangan Muslim terhadap demokrasi. Hasilnya ternyata mengejutkan, mengingat Barat selama ini menilai umat Islam anti-demokrasi. Di hampir semua negara yang disurvey, sebagian besar responden memilih sistem demokrasi, sebagai sistem yang layak menata kehidupan berbangsa dan bernegara mereka (95% di Burkina Faso, 94% persen di Mesir, 93% di Iran, dan 90% di Indonesia). Dukungan atas sistem demokrasi ini, ternyata pula cukup besar di kalangan radikal politik Muslim (50%). Kaum radikal politik Muslim menyatakan bahwa “bergerak menuju demokrasi ke pemerintahan yang lebih baik” akan meningkatkan kemajuan di dunia Arab/Muslim.

Penulis buku ini, John L. Esposito & Dalia Mogahed, berusaha mengubah pandangan Barat terhadap Islam. John L. Esposito adalah dosen universitas dan profesor Studi Agama dan Hubungan Internasional serta menjadi editor in chief untuk The Oxford encyclopedia of the Modern Islamic World. Dalia Mohaged sendiri merupakan analis senior dan direktur eksekutif Gallup Center for Muslim Studies. Dalia juga merupakan muslimah berjilbab pertama yang menduduki posisi dewan penasehat presiden AS, Obama, untuk hubungan dengan komunitas muslim.

 

Apa yang dilakukan Profesor John L. Esposito dan Dalia Mogahed serta seluruh peneliti yang tergabung di lembaga survey tertua dan terbesar di dunia, Gallup World Poll, sehingga menghasilkan buku yang sangat komprehensif ini, benar-benar merupakan proyek raksasa. Survey yang berlangsung selama tujuh tahun itu tidak hanya dilakukan di seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara yang penduduk Muslimnya tergolong minoritas, seperti di Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, Cina, Jepang dan India.

 

Judul Buku     : Saatnya Muslim Bicara!

Penulis          : John L. Esposito & Dalia Mogahed

Penerbit:       : Mizan

Tahun terbit   : 2008

Volume          : 252 halaman

BAGI
Artikel SebelumnyaMusibah
Artikel BerikutnyaTidur Siang yang Membugarkan