Rukhshah

0
56 views

abangdani.wordpress.comSecara etimologi , rukhshah (ﺍﻠﺭﺨﺼﺔ )berarti kemudahan, kelapangan dan kemurahan. Secara terminologis, Imam Al-Baidhawi merumuskannya dengan : Hukum yang ditetapkan berbeda dengan dalil karena adanya uzur.

Rumusan ini menunjukan bahwa hukum rukhshah hanya berlaku apabila ada dalil yang menunjukan dan ada uzur yang menyebabkannya. Dengan demikian, hukum-hukum khusus yang sama sekali tidak berbeda dengan dalil-dalil syariat secara umum, tidak termasuk dalam kategori rukhshah. Kehalalan memanfaatkan yang dibolehkan syariat tidaklah termasuk rukhshah tetapi tetap sebagai azimah.

Rukhshah yang ditetapkan berbeda dengan dalil disebabkan adanya uzur, berlaku dalam empat bentuk hukum syariat yaitu ijab, nadb, karahah dan ibahah. Misalnya:

Pertama, Rukhshah terhadap yang wajib, yaitu memakan bangkai bagi orang yang dalam keadaan darurat. Hal ini wajib menurut jumhur ulama.

Kedua, Rukhshah bersifat mandub (sunnah) seperti mengqosor shalat bagi musafir. Menurut jumhur ulama fiqh, mengqosor shalat dalam perjalanan hukumnya mandub(sunnah), tetapi menurut ulama hanafiyyah mengqosor shalat bagi musafir tidak termasuk rukhshah tetapi azimah.

Ketiga, Rukhshah bersifat mubah bagi para dokter yang melihat aurat orang lain, laki-laki atau wanita, ketika berlangsungnya pengobatan. Melihat aurat orang lain pada dasarnya adalah haram, tetapi di bolehkan demi untuk menghilangkan kesulitan bagi umat manusia.

Keempat, Rukhshah bersifat makruh apabila seseorang yang karena terpaksa mengucapkan kalimat kufur (mengaku kufur) sedangkan hatinya tetap beriman. Mengaku kafir adalah haram bagi umat islam, karena hal itu menunjukan bahwa ia telah murtad, tetapi karena dipaksa dengan ancaman hukuman untuk mengucapkan kalimat kufur tersebut, sementara hatinya tetap beriman, maka dalam hal ini rukhshah, tetapi bersifat makruh.

Pembagian Rukhshah

Ditinjau dari segi bentuknya rukhshah dibagi menjadi tujuh macam yaitu:
Pertama, Rukhshah dengan menggugurkan kewajiban seperti boleh meninggalkan perbuatan wajib atau sunnah karena berat dalam melaksanakannya atau membahayakan dirinya apabila melakukan perbuatan tersebut, misalnya orang sakit atau dalam perjalanan boleh meninggalkan puasa Ramadhan, sebagaimana firman Allah swt:

 

قال تعالى :….. فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ …

 “Jika di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. (QS. al-Baqarah[2]:18).
Rukhshah juga diberikan kepada wanita untuk meninggalkan shalat ketika sedang haid atau nifas, tidak berpuasa ketika hamil atau menyusui.
Kedua, Rukhshah dalam bentuk mengurangi kadar kewajiban, seperti mengurangi jumlah rakaat shalat yang empat pada waktu qashar atau mengurangi waktunya pada shalat jama’ karena musafir, Allah swt berfirman:

 

قال تعالى : وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ

 “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar shalatmu (QS. an-Nisaa[4]:101).
Ketiga, Rukhshah dalam bentuk mengganti kewajiban dengan kewajiban lain yang lebih ringan seperti mengganti wudhu’ dan mandi dengan tayammum karena tidak ada air atau tidak bisa atau tidak boleh menggunakan air karena sakit dan lainnya, mengganti shalat berdiri dengan duduk, berbaring atau isyarat, mengganti puasa wajib dengan memberikan makan kepada fakir miskin bagi orang tua yang tidak bisa berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan sembuhnya.
Keempat, Rukhshah dalam bentuk penangguhan pelaksanaannya kewajiban seperti penangguhan shalat Zuhur ke shalat Ashar ketika jama’ ta’khir atau menangguhkan pelaksanaan puasa ke luar bulan Ramadhan bagi orang yang sakit atau musafir.
Kelima, Rukhshah dalam bentuk mendahulukan pelakasanaan kewajiban seperti membayar zakat fithrah beberapa hari sebelum hari raya padahal wajibnya adalah pada akhir Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Nafi’ bahwa Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhu mengeluarkan zakat sehari atau dua hari sebelum hari raya [HR.Bukhari].
Atau seperti mendahulukan pelaksanaan shalat Ashar di waktu Zuhur ketika jama’ taqdim.
Keenam, Rukhshah dalam bentuk merubah kewajiban seperti merubah cara melaksasnakan shalat ketika sakit atau dalam keadaan perang, Allah swt berfirman:


وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُواْ فَلْيَكُونُواْ مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّواْ فَلْيُصَلُّواْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُواْ حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu raka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersalat, lalu bershalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata….. (QS. an-Nisaa[4]:102).
Ketujuh, Rukhshah dalam bentuk membolehkan melakukan perbuatan yang haram dan meninggalkan perbuatan yang wajib karena adanya uzur syar’i seperti melakukan jual beli salam dengan memberikan harga (pembayaran) terlebih dahulu dan barangnya menyusul dengan syarat ditentukan jumlah, sifat, dan tempat penerimaannya juga termasuk rukhshah.

Padahal hukum asal dalam jual beli adalah al-taqabudh yaitu serah terima barang dan harganya dan tidak boleh ada yang ditunda.
Hukum Menggunakan Rukhshah
Apakah orang yang mendapatkan rukhshah karena uzur seperti di atas wajib melakukan rukhsah tersebut atau hukumnya ibahah (boleh mengamalkannnya atau meninggalkannya)?. Masalah ini menjadi perbincangan di kalangan para ulama. Imam Abu Ishaq Al-Syathibi dalam kitabnya al-Muwafaaqat menyebutkan hukum menggunakan rukhsah adalah mubah(boleh), artinya boleh dilakukan atau tidak. Alasannya karena pada dasarnya rukhshah itu hanyalah keringanan agar tidak menyulitkan dan memberatkan, maka seseorang boleh memilih antara mengamalkan rukhshah tersebut atau tidak tergantung uzur kesulitan atau keberatan yang dia hadapi, misalnya orang musafir dia diberikan kelapangan untuk memilih apakah ia mau mengqashar shalatnya atau imam (menyempurnakannya empat rakaat) tergantung kepada uzurnya. Kalau menggunakan rukhshah itu diperintahkan baik secara wajib maupun sunnah maka bukan lagi sebuah keringanan, tetapi kewajiban yang harus dilakukan dan tidak boleh ada pilihan lain.

Pendapat dan argumentasi al-Syatibi di atas dibantah oleh Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa menggunakan rukhsah adalah harus dan kembali kepada hukum asalnya apakah ia wajib atau sunat, misalnya menjaga jiwa agar tidak binasa adalah wajib, maka memakan babi bagi mereka yang terpaksa agar tidak mati kelaparan adalah wajib bukan mubah. Karena kalau dikatakan mubah maka orang tersebut boleh memilih antara makan atau membiarkan dirinya tidak makan walaupun dirinya mati kelaparan.
Pendapat mayoritas ulama yang menyatakan keharusan mengamalkan rukhshah adalah baik itu wajib atau sunnah adalah yang rajih (kuat) dengan alasan :
a). Sesuai dengan karakterisitik Islam yang mudah dan tidak memberatkan.
b). Rukhshah merupakan shadaqah Allah swt yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk menerimanya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ya’la bin Umayyah ia bertanya kepada Umar bin Khatab tentang firman Allah swt :

 

قال تعالى : وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُواْ مِنَ الصَّلاَةِ

 

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu menqasar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu. (QS. an-Nisaa[4]:101).

Dan sekarang kita sudah aman. (tidak perlu qashar).Umar bin Khatab berkata:


عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ . فَقَالَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ .

Saya juga heran sebagaimana anda heran dan saya bertanya kepada Rasulullah saw masalah itu dan bersabda,” Shadaqah yang diberikan oleh Allah swt kepadamu dan terimalah shadaqah-Nya.
c). Karena itu merupakan shadaqah dari-Nya, maka Allah swt senang kalau shadaqah-Nya diamalkan oleh hamba-Nya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar Rasulullah saw bersabda:

 
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تؤتى رُخَصَه كَمَا يُحِبُّ أَنْ تَتْرُكَ مَعْصِيَّتَهُ

Sesungguhnya Allah swt senang untuk diambil keringanan-Nya sebagaimana Dia senang di tinggalkan maksiat kepada-Nya. [HR.Ibnu Hibban dan Ibnu Huzaimah].
d). Rasulullah saw sendiri sebagai teladan kita selalu mengambil dan mengamalkan sesuatu yang paling mudah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah ra ia berkata : “Rasulullah saw (tidak pernah memilih antara dua masalah kecuali mengambil yang paling mudah selama itu tidak berdosa, kalau itu dosa maka beliau orang yang paling menjauhi masalah tersebut dan Rasulullah saw (tidak pernah balas dendam karena pribadinya kecuali kalau melanggar syariat Allah swt maka beliau membalasnya karena Allah swt [HR.Bukhari dan Muslim].
Hikmah Adanya Rukhshah

Adanya rukhshah (keringanan) merupakan bagian dari kasih sayang Allah swt pada hamba-Nya dan bukti bahwa Islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan sebagaimana firman-Nya:


قال تعالى : يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah swt menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS. Al-Baqarah [2]:185).
Juga firman Allah swt.


قال تعالى : يُرِيْدُ اللهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإِنْسَانُ ضَعِيْفا

Allah swt hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah. (QS. An-Nisaa[4]:28).

Referensi :

1.    Al-Khatib, Muhammad Ajjaz, Ushul Hadits:Ulumuhu wa musthaluhuu, Beirut: Daar Al-Fikr, 1981.

2.    Shihab, Muhammad Quraisy, Membumikan Al-qur’an ; Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan bermasyarakat, Bandung:Mizan, 1992.

3.    Sya’ban, Zakiy al-din, Ushul Fiqh al-Islami, Mesir: Dar-al-Ta’lifi, 1961

BAGI
Artikel SebelumnyaDo’a Menjelang Tidur
Artikel BerikutnyaDo’a Masuk WC