Rendezvous Dua Jiwa: antara Cinta dan Nafsu

0
22 views

Mengulas kisah dua anak manusia yang memadu kasih memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Hal ini pula kiranya yang mendasari maraknya pemberitaan baik itu di media cetak maupun elektronik ketika ditemukan video yang ‘mempertemukan’ kedua jiwa yang sedang ‘isyq, kasmaran, terlebih itu dilakukan oleh selebritas tanah air. Ya, saat ini memang banyak muda-mudi yang asyik masyuk terseret dalam arus pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya dan nuansa baru bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih.

Tak dapat dipungkiri lagi banyak keprihatinan mendalam di balik fenomena tersebut. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.

Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase?

 

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu? Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Cinta dan nafsu adalah dua hal yang melekat dalam diri manusia. Keduanya bagai dua sisi mata pedang yang sangat bertolak belakang, namun selalu hadir bersama. Nafsu datang dengan penuh keindahan, tapi tak dapat dipungkiri selalu pada akhirnya memotong iman dengan sekali tebasan.

 

Hubungan antara cinta, nafsu, dan seks memang menarik. Jika antara ketiganya tidak ada relasi yang erat, mustahil muncul istilah “making love”, atau “bercinta”, yang konotasinya kurang lebih menggambarkan keterkaitan tersebut. Kemudian dari keterkaitan tersebut muncullah banyak pertanyaan di benak kita: Apakah cinta berawal dari nafsu, atau nafsu ditimbulkan oleh cinta? Apakah seks merupakan konsekuensi dari nafsu, atau konsekuensi dari cinta? Apakah seks membutuhkan cinta? Apakah ada cinta tanpa nafsu dan seks?

 

Cinta itu anugrah, ia datang secara tiba-tiba. Dalam drama kehidupan ini seringkali terjadi apa yang sering diistilahkan ‘bertepuk sebelah tangan’, kita sangat mencintai seseorang tapi dia tidak mencintai kita atau mungkin sebaliknya ada orang yang begitu mencintai kita tapi apa hendak dikata rasa itu tak muncul juga. Dalam hal ini cinta memang misteri, ia fitrah suci karunia ilahi kepada manusia yang harus dijaga dan diarahkan. Cinta selamanya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

ISLAM adalah agama yang penuh cinta, kita diajarkan untuk hidup dengan saling mencintai, berdampingan dan rukun. Bahkan seorang muslim atau muslimah belum sempurna imannya apabila ia belum bisa mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Hanya saja cinta itu tidak boleh melebihi cinta kita kepada Sang Pemilik cinta itu sendiri dan ada tata tertibnya. Selain itu juga, kita harus mengenali mana cinta dan mana nafsu. Sekali kita terbelit dalam pusaran hawa nafsu, akan sulit untuk kita keluar dari sana.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.

BAGI
Artikel SebelumnyaBerbisnis dengan Allah (bag. 1)
Artikel BerikutnyaIhram