Religiusitas dan Perilaku Manusia

0
45 views

Salah satu kenyataan yang terjadi dalam sepanjang sejarah perjalanan umat manusia adalah fenomena keberagamaan (religiousity). Sepanjang itu pula, bermunculan beberapa konsep religiusitas. Namun demikian, para ahli sepakat bahwa bahwa agama berpengaruh kuat tergadap tabiat personal dan sosial manusia.

Secara bahasa, kata religiusitas adalah kata kerja yang berasal dari kata benda religion. Religi itu sendiri berasal dari kata re dan ligare artinya menghubungkan kembali yang telah putus, yaitu menghubungkan kembali tali hubungan antara Tuhan dan manusia yang telah terputus oleh dosa-dosanya (Arifin, 1995).

Menurut Gazalba (1985), kata religi berasal dari bahasa latin religio yang berasal dari akar kata religare yang berarti mengikat. Maksudnya adalah ikatan manusia dengan suatu tenaga yaitu tenaga gaib yang kudus. Religi adalah kecenderungan rohani manusia untuk berhubungan dengan alam semesta, nilai yang meliputi segalanya, makna yang terakhir, dan hakekat dari semuanya.

Menurut Daradjat (1989), ada dua istilah yang dikenal dalam agama yaitu kesadaran beragama (religious conciousness) dan pengalaman beragama (religious experience). Kesadaran beragama adalah segi agama yang terasa dalam fikiran dan dapat diuji melalui introspeksi atau dapat dikatakan sebagai aspek mental dari aktivitas agama. Sedangkan pengalaman beragama adalah unsur perasaan dalam kesadaran beragama yaitu perasaan yang membawa kepada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan.

Untuk mengukur religiusitas tersebut, kita mengenal tiga dimensi dalam Islam yaitu aspek akidah (keyakinan), syariah (praktik agama, ritual formal) dan akhlak (pengamalan dari akidah dan syariah).

Sebagaimana kita ketahui bahwa keberagamaan dalam Islam bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula (QS 2: 208); baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengabdian secara total kepada Allah, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun. Karena itu, hanya konsep yang mampu memberi penjelasan tentang kemenyeluruhan yang mampu memahami keberagamaan umat Islam.

Permasalahannya adalah mengapa sering terjadi orang yang pemahaman keberagamaannya bagus tapi perilakunya menyimpang. Sering kita dengar di berita seorag guru ngaji yang memperkosa muridnya, atau seorang yang pendidikan agamanya cukup bagus dan berasal dari keluarga ulama tapi dia pernah berbuat zina. Ahli ibadah tapi perilakunya tidak mencerminkan keagungan dan keindahan agamanya. Mengapa ini bisa terjadi? Hal ini adalah karena kepribadian seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Jadi sangat kompleks sekali permasalahannya karena manusia adalah mahluk yang dinamis. Bisa jadi ketaatan beragamanya yang perlu dipertanyakan karena secara umum masyarakat Indonesia hanya taat dalam hal ritual saja tanpa penghayatan makna yang mendalam dibalik semua ajaran agama yang dilakukannya. Dan banyak juga ini terjadi karena pengaruh lingkungan, media cetak atau elektronik yang merangsang manusia untuk mengumbar nafsu hewaninya.

Ditambah lagi ketahanan dirinya terhadap stress atau tuntutan dari dalam kurang. Apalagi ada kesempatan yang mempermudah seseorang melakukan penyimpangan-penyimpangan perilaku. Disinilah fungsi kontrol diri. Adalah benar bahwa setiap manusia mempunyai nafsu seperti disinyalir dalam salah satu ayat al-Qur’an, ”Fa`alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ” . tapi permasalahannya adalah apakah ia bisa mengontrol fujûr atau potensi buruknya itu atau tidak. Ini bukan hal yang mudah tapi perlu latihan dan pembelajaran sejak dini sehingga sudah terpolakan dan mendarah daging dalam karakter dan pribadinya. Lagi-lagi peran keluarga terutama dalam menanamkan kedisiplinan yang moderat dan demokratis tentunya akan melahirkan sebuah kedisiplinan yang didasari oleh kesadaran bahwa itu memang penting dan bermanfaat bagi dirinya. Sehingga akhirnya menjadi sebuah keterampilan.

Seorang ahli sosiologi yaitu Hirschi & Gottfretson (dalam Blackburn, 1993) membenarkan pandangan bahwa tidak ada alasan khusus yang diperlukan untuk menjelaskan terjadinya suatu kejahatan karena kecenderungan adanya dorongan manusia yang tidak dapat ditunda untuk mencari atau mencapai kenikmay\tan dan menghindari sesuatu yang menyakitkan. Jadi ada peran kontrol diri dalam sikap atau kecenderungan seseorang untuk melakukan perbuatan menyimpang.

Jadi yang harus dilakukan adalah pertama, bentengi diri dengan keimanan dan ketaqwaan sehingga kita merasa dekat dan merasa diawasi oleh Allah Swt. Hal tersebut akan mengontrol dirinya dari perbuatan maksiat setiap saat dalam seluruh aspek kehidupannya. Kedua, pupuk dan kembangkan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga sebagai lingkungan terdekat yang membentuk dan mempengaruhi pribadi dan budi pekerti seseorang. Ketiga, selektif dalam memilih teman atau lingkungan. Kalau kita tidak bisa merubah lingkungan yang bisa merusak perilaku kita maka lebih baik menghindarinya. Wallahu A’lam.

 

Sumber:

 

Daradjat, Zakiah. (1989). Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental.

Gazalba, S. (1985). Asas Agama Islam.

Blackburn, Ronald. (1993). The Psychology of Criminal Conduct: Therapy, Research, and Practice.

Arifin, HM. (1995). Menguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar.