Relevansi Al-Qur’an Sepanjang Zaman

0
38 views

Umar bin Khattab bermaksud membunuh Nabi Muhammad saw. Ia berjalan kesana-kemari dengan wajah garang, sementara pedang dipegangnya erat-erat. Seorang temannya bertanya: “Mau kemana Umar, seperti ada yang dicari?”.

“Aku sedang mencari Muhammad,” jawabnya tegas.

”Kalau sudah ketemu?”. Tanyanya lagi.

”Akan aku bunuh dia?”. Jawab Umar lagi.

”Mengapa engkau akan membunuhnya?” tanyanya lagi.

”Aku tidak suka, karena ia terus menyebarkan agama barunya itu,” tegas Umar.

religioncompass.files.wordpress.comMendengar hal itu, temannya menegaskan: ”Kalau itu sebabnya, mestinya adikmu, Fatimah yang engkau bunuh terlebih dahulu, karena ia sudah menjadi pengikut Muhammad”.

Tanpa berpikir panjang, Umar ke rumah adiknya dan ternyata ia sedang membaca Al-Qur’an bersama suaminya. Umar begitu marah hingga memukul adiknya. Tapi ketika kemarahannya reda, ia mau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan ini yang menyebabkannya masuk Islam dan hidup di bawah naungan Al-Qur’an.

Musuh-musuh Islam dan umat Islam selalu berusaha menjauhkan kita dari Al-Qur’an. Namun umat Islam tetap saja mendekati Al-Qur’an, bahkan sejak kecil anak-anak Islam sudah diajari membaca hingga menjadi orang-orang yang tidak hanya bisa membaca tapi juga rajin membacanya. Bahkan orang tua yang belum bisa membaca Al-Qur’an tetap berusaha mempelajari dan meningkatkan kemampuan membacanya.  Meskipun demikian usaha mereka bukan berarti gagal, mereka terus berusaha menjauhkan umat dari hakikat Al-Qur’an yang sebenarnya dengan menanamkan kesalahpahaman terhadap Al-Qur’an. Ini membuat umat Islam tidak memahami tujuan yang sebenarnya dari Al-Qur’an sehingga meskipun umat ini membaca Al-Qur’an, tapi tidak berpedoman kepadanya, bahkan ada yang salah dalam menggunakannya misalnya hanya menjadikan Al-Qur’an sekadar perhiasan hingga sebagai jimat.

Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk terus mendekati Al-Qur’an bahkan hidup di bawah naungannya. Sayyid Quthb, dalam tafsirnya Fi Dzilalil Qur’an menyebutkan bahwa hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah nikmat, kenikmatan yang tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menghayatinya, kenikmatan yang dapat mengangkat derajat manusia, memberkati dan membersihkan kehidupan ini dari segala bentuk kekotoran. Ada banyak manfaat yang dapat kita peroleh dari hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang amat relevan dengan perkembangan zaman. Sekurang-kurangnya, kita bisa menyimpulkannya menjadi tiga. Pertama, kehidupan menjadi terbimbing. Hal ini karena meskipun manusia memiliki akal pikiran yang cerdas, tapi tidak menjamin baginya memiliki kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil atau yang benar dan yang salah, padahal kemampuan membedakan antara yang haq dengan yang bathil merupakan sesuatu yang amat penting menuju kehidupan yang baik. Karena itu manusia amat memerlukan bimbingan yang benar, baik dalam berpikir, bersikap maupun bertingkah laku. Sudah begitu banyak manusia yang tidak berpikir, bersikap dan bertingkah laku secara benar karena tidak mau mengambil bimbingan dari Al-Qur’an. Ini bisa kita lihat dari banyaknya manusia yang menuhankan benda-benda yang memiliki sejumlah kelemahan seperti manusia dan patung, pohon, dan jenis-jenis berhala lainya, Allah swt berfirman: Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah itu adalah makhluk (yang lemah) yang serupa juga dengan kamu. Maka Serulah berhala-berhala itu lalu biarkanlah mereka mmperkenankan permintaanmu, jika kamu memang orang-orang yang benar. (QS Al A’raf [7]:194).

Dengan sebab tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pembimbing hidup, banyak manusia yang dalam masalah hukum tidak mendapatkan perlakuan hukum dan tidak bisa menegakkan hukum secara adil. Kasus-kasusnya begitu banyak mulai dari maling ayam dan maling sandal yang dikeroyok massa lalu dianiaya dan dibakar hingga mati, sementara disisi lain, ada orang yang bersalah dengan kesalahan yang besar tapi tidak dihukum yang sesuai dengan tingkat kesalahannya, bahkan sampai ada yang dibebaskan begitu saja, akibatnya terjadi kekacauan dalam tatanan kehidupan masyarakat sebagaimana yang kita rasakan.

Dalam masalah akhlak, telah terjadi kehancuran tata nilai kehidupan sehingga begitu banyak kasus-kasus  yang mengerikan dan mengkhawatirkan bagi peradaban manusia dimasa datang mulai dari perzinahan yang merajalela, pengguguran kandungan yang kian banyak, narkoba yang terus merusak generasi bangsa, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian, korupsi dan sejenisnya yang kian merusah citra masyarakat dan berbagai bentuk kerusakan akhlak lainnya. Akibat negatif yang ditimbulkan bukan hanya menimpa mereka mereka yang jauh dari Al-Qur’an tapi juga bisa terjadi pada mereka yang hidupnya sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an. Oleh karena itu, Al-Qur’an yang akan membawa kenikmatan dalam kehidupan manusia dalam hidupnya berfungsi sebagai petunjuk atau pembimbing agar manusia dapat membedakan antara yang haq dengan yang bathil, Allah swt berfirman: Bulan Ramadhan adalah bulan yang diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan atas petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang bathil). (QS Al Baqarah [2]:185).

Kedua, memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai persoalan hidup. Hidup yang kita jalani ini hampir tidak pernah sepi dari berbagai persoalan, satu persoalan belum teratasi, tapi sudah muncul persoalan berikutnya. Orang yang tidak mengambil bimbingan dari Al-Qur’an menjadi bingung dalam menghadapi persoalan itu, kebingungan mengakibatkan kekalutan dan kekalutan membuatnya melakukan tindakan-tindakan yang tak terkendali yang ujungnya adalah merugikan dirinya dan orang lain, bahkan bukan hanya kerugian di dunia ini saja tapi juga di akhirat nanti. Ada banyak contoh yang bisa kita ungkap, misalnya kebingungan dalam menghadapi persoalan ekonomi membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Bahkan banyak kasus bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang hanya karena terhimpit persoalan ekonomi yang besar, padahal bunuh diri akan membawanya pada kesengsaraan sepanjang masa dalam kehidupan berikutnya di akhirat. Disamping itu kekalutan juga membuat seseorang melakukan tindak kekerasan yang tidak pada tempatnya, bahkan tidak sedikit suami yang bertindak kasar kepada isterinya atau isteri terhadap suaminya, orang tua terhadap anaknya, bahkan anak terhadap orang tuanya dan sesama anggota masyarakat yang semestinya saling hormat menghormati dan cinta mencintai.

Sementara bagi orang yang hidup dibawah naungan Al-Qur’an, dia amat yakin bahwa segala kesulitan dan persoalan hidup pasti ada jalan keluarnya, apalagi hal ini merupakan janji Allah swt yang tidak mungkin salah, Allah swt berfirman: Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS At Thalaq [65]:2-3). Bahkan di penghujung ayat 4 dari surat yang sama, Allah swt berjanji: Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dijadikan baginya kemudahan dalam urusan-urusannya (QS At Thalaq [65]:4).

Ketiga, kehidupan kita menjadi bersih. Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih tanpa noda dan dosa sedikitpun, Islam tidak mengenal ada istilah dosa keturunan dari orang tua terhadap anaknya. Namun tanpa bimbingan Al-Qur’an kehidupan manusia menjadi kotor, kotor jiwanya, kotor pikirannya dan kotor perbuatannya. Jiwa yang kotor telah melahirkan sikap-sikap buruk seperti riya atau ingin mendapatkan pujian dari orang lain, hasad atau iri hati terhadap kemajuan dan keberhasilan yang dicapai orang lain lain, takabbur atau menyombongkan diri dengan sebab merasa memiliki kelebihan pada dirinya dan sebagainya. Sementara pikiran yang kotor telah membuat manusia menjadi orang yang menganggap baik perbuatannya yang buruk, ketentuan yang benar dianggapnya sebagai hambatan dan sebagainya. Sedangkan perbuatan atau amal yang kotor telah mengakibatkan peradaban manusia menjadi begitu rendah, bahkan bisa lebih rendah dari binatang ternak yang biasanya nilainya ditentukan hanya dengan ukuran berat badan. Bahkan secara fisik, kekotoran manusia dalam bertingkah laku juga mengakibatkan malapetaka yang amat besar.

Adapun hidup di bawah naungan Al-Qur’an, maka kehidupan manusia menjadi bersih, bersih jiwanya dengan selalu mengutamakan keikhlasan, husnuzhzhan atau berbaik sangka terhadap orang lain, tawadhu atau rendah hati terhadap orang lain, meskipun orang itu lebih rendah kedudukannya, jujur yang dapat menghangatkan hubungan persaudaraan, tawakkal atau berserah diri kepada Allah setelah berusaha seoptimal mungkin yang akan membawa sikap optimis dan sebagainya. Disamping itu bersih juga pikirannya sehingga yang dipikirkannya adalah hal-hal yang akan membawa manfaat dan kebaikan atau kebenaran, baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat, bangsa dan agamanya, sedangkan bersih perbuatan adalah apapun yang dilakukannya, semua berorientasi kepada amal yang shaleh sebab amal yang shaleh merupakan bekal yang amat penting dalam kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan yang bersih seperti inilah yang akan membukakan dan mendatangkan keberkahan baik dari langit maupun dari bumi, Allah swt berfirman: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS Al A’raf [7]:96).

Untuk memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, para sahabat dan generasi sesudahnya hingga hari ini terus berinteraksi dengan Al-Qur’an dan menjalani hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung di dalamnya.[]

By Drs. H. Ahmad Yani