Ramadhan Kita

0
26 views

Keimanan yang kokoh membuat kita begitu gembira, gembira atas datangnya Ramadhan tahun ini, apalagi kita berada di dalamnya. Karena itu, seruan Allah swt kita sambut dengan antusias untuk melaksanakan ibadah puasa, ibadah yang kepentingannya untuk kebaikan kita, yakni mencapai derajat taqwa, Allah swt berfirman:Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah [2]:183).

Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak gembira dengan kewajiban berpuasa, karena di dalam ayat di atas, kewajiban puasa telah diwajibkan pula atas generasi terdahulu, bahkan bila mau kita banding-bandingkan, puasa orang terdahulu jauh lebih berat, misalnya Nabi Daud as dan umatnya diwajibkan untuk berpuasa selama enam bulan dalam setahun dengan cara diselang-seling, yakni sehari puasa dan sehari tidak, adapun Nabi Musa as dan umatnya berpuasa selama empat puluh hari.

Jalan Taqwa.

Puasa, khususnya pada bulan Ramadhan mengarahkan kita pada jalan menuju taqwa. Paling tidak ada lima hal mengapa puasa ditargetkan la’allakum tattaqun (agar kamu bertaqwa) dan hal-hal ini sangat erat kaitannya dengan membangun pribadi taqwa. Pertama, menumbuhkan rasa takut kepada Allah swt, karena puasa tidak ada yang mengawasinya, kecuali Allah swt. Bila sikap ini sudah ada pada diri kita, bila ada pikiran dan perasaan untuk melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan, maka kita segera mengingat Allah swt sehingga menyadari kesalahan, Allah swtr berfirman:Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya (QS Al A’raf [7]:201).

Takut kepada Alklah swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya, sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan hal itu akan dijauhinya, meskipun ia hanya sendirian. Nabi Yusuf as telah mencontohkan kepada kita bagaimana beliau tidak mau melayani keinginan wanita cantik untuk berzina dengannya meski tidak ada orang yang tahu, bahkan Yusuf jauh dari keluarganya, apalagi secara pribadi iapun ada perasaan tertarik pada wanita itu.

Kedua,  pengendalian hawa nafsu seksual.Secara khusus, ibadah puasa mendidik kita untuk melakukan pengendalian terhadap nafsu seksual, tapi bukan membunuh nafsu seksual sehingga kita tidak memilikinya lagi. Nafsu seksual merupakan salah satu pintu yang digunakan oleh syaitan dalam menggoda manusia menuju jalan yang sesat. Karena itu, tidaklah aneh kalau kita menemukan begitu banyak manusia yang akhirnya jatuh ke lembah yang nista karena tidak mampu mengendalikan nafsu seksualnya. Berapa banyak orang kaya yang jatuh miskin karena masalah seksual, berapa banyak pejabat yang jatuh dari kursi kekuasaannya karena nafsu seksual dan berapa banyak terjadi kasus-kasus kerusakan akhlak lainnya karena berpangkal dari persoalan seksual.

Karena itu, tidak aneh juga kalau ada psikolog menganggap seks sebagai faktor utama   penggerak aktivitas manusia, karena memang begitulah yang banyak terjadi di berbagai belahan dunia, khususnya di dunia barat. Wabah kerusakan moral dan berbagai penyakit telah bermunculan karena bermula dari ketidakmampuan manusia mengendalikan nafsu seksualnya.

Oleh karena itu, bagi seorang muslim, masalah seksual merupakan karunia Allah swt yang pelampiasannya boleh dilakukan pada batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Maka ibadah puasa melatih kita untuk mengendalikan keinginan seksual itu, jangankan kepada wanita lain atau kepada lelaki lain, kepada isteri atau suami saja yang jelas-jelas halal tetap harus dikendalikan dengan sebaik-baiknya pada saat sedang berpuasa, Allah berfirman yang artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari  puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak bisa menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar (QS Al Baqarah [2]:187).

Ketiga,pengendalian lisan dari berbicara yang tidak baik.Orang yang berpuasa sangat dituntut untuk mengendalikan lisannya dari ucapan yang tidak dibenarkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Hal ini karena nilai pendidikan puasa bukan hanya secara jasmaniyah dalam arti orang tidak makan dan minum, tapi puasa itu mendidik kearah peningkatan kualitas iman, karena yang Allah swt inginkan dari kita adalah memiliki iman yang berkualitas, bukan agar kita menjadi haus dan lapar, karenanya ukuran keberhasilan puasa bukanlah terletak pada berat badan kita yang turun beberapa kilo gram, tapi bisakah kita mengendalikan lisan dari ucapan yang tidak benar,  Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan bahwa dia meninggalkan makanan dan minumannya (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Pengendalian lisan menjadi amat penting bagi seorang muslim dari ucapan yang tidak benar karena hal itu menjadi salah satu tolok ukur iman yang berkualitas. Ini berarti, dalam kacamata iman, seorang muslim lebih baik diam saja daripada harus melontarkan ucapan yang tidak bisa dibenarkan, ini pula yang oleh masyarakat kita disebut dengan “diam itu emas”, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat,pengendalian Nafsu Makan dan Minum. Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Meskipun demikian, pemenuhan kebutuhan ini harus tetap dalam kendali yang benar sehingga kita hanya mengkonsumsi sesuatu yang halal, baik dari sisi jenisnya maupun cara mendapatkannya. Memperoleh makanan dan minuman secara halal membuat seorang muslim semakin mudah dalam menempuh jalan ketaqwaan, sedangkan memperoleh sesuatu yang tidak halal atau dengan cara yang tidak halal membuat seseorang semakin sulit menempuh jalan taqwa,  Allah swt berfirman: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS Al Maidah [5]:88).

Karena masalah kehalalan merupakan sesuatu yang amat mendasar, maka Allah swt menegaskan agar manusia jangan memutarbalikkan hukum agar sesuatu yang tidak halal seolah-olah menjadi halal, padahal ia sendiri mengetahui bahwa hal itu memang bukan miliknya dan tidak halal baginya, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. (QS Al Baqarah [2]:188)

Dalam konteks pengendalian diri dalam masalah makan dan minum, seorang muslim jangan sampai makan dan minum secara berlebihan melebihi takaran yang ada pada diri kita, akibatnya sekarang ini banyak orang yang terserang penyakit akibat kelebihan dalam makan dan minum. Ibadah puasa seharusnya membuat kita mampu mengendalikan makan dan minum, bukan malah justeru saat berbuka kita memindahkan segala jenis makanan dan minuman yang ada di meja makan ke dalam perut kita tanpa kendali, karenanya Allah swt berfirman:  Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al A’raf [7]:31).

Kelima,pengendalian dari pelampiasan kemarahan kepada orang lain. Ibadah puasa mendidik kita untuk menjadi orang-orang yang sabar, karena itu kemampuan mengendalikan emosi merupakan sesuatu yang harus kita hasilkan dari ibadah puasa, dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda:

  إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

Jika kamu sedang berpuasa, maka jangan berkata keji, jangan ribut (marah) dan jika ada orang memaki atau mengajak berkelahi, hendaknya diberi tahu: “saya berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat yang harus ditiru dalam masalah pengendalian emosi yang luar biasa. Ketika perang satu lawan satu dengan orang kafir, musuhnya itu sudah jatuh tak berdaya, namun saat Ali hendak membunuhnya justeru orang itu meludahi wajah Ali yang sebenarnya membuatnya semakin marah, namun Ali cepat sadar sehingga ia tidak jadi membunuhnya, bukan tidak bisa membunuh, tapi ia khawatir bila membunuh orang kafir itu karena dia meludahi wajahnya, beliau sangat khawatir bila membunuh bukan karena Allah swt.

Semoga ibadah Ramadhan tahun ini  dapat kita optimalkan untuk menguatkan ketaqwaan, apalagi taqwa itu membuat manusia menjadi amat mulia dihadapan Allah swt, meskipun ia dianggap rendah dihadapan manusia.

Drs. H. Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaLapang Dada
Artikel BerikutnyaMenguatkan Empat Komitmen