Ramadhan di Korea Selatan

0
49 views

Pada hari Jum’at 5 Agustus 2011, saya berangkat ke Korea Selatan dengan menggunakan jasa penerbangan Catay Pasifik. Dari Jakarta, saya berangkat sendirian. Sempat ada rasa khawatir dalam diri saya karena ini perjalanan pertama saya ke Luar Negeri dimana saya tidak bisa berbahasa negara yang saya tuju. Namun, dengan penuh keyakinan untuk berdakwah menyebarkan kebaikan dan sedikit bekal bahasa Inggris yang pernah saya pelajari, saya pun bertolak menuju Korea Selatan.

 

Pesawat yang membawa saya dari Jakarta menuju Korea Selatan ternyata harus transit di Hongkong. Setibanya di Hongkong, saya sempat bingung ke arah mana yang harus saya tuju untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya, karena semua tulisan yang saya lihat di berbagai sudut bandara Hongkong menggunakan bahasa Cina dan hanya sedikit yang berbahasa Inggris. Pada akhirnya, saya melihat seorang ibu dan anaknya yang menurut saya hanya mereka yang asli orang Indonesia, maka saya beranikan bertanya ke arah mana yang harus saya tuju untuk pesawat berikutnya. Dan ternyata, perjalanan mereka cuma sampai Hongkong.

 

Sebelum saya bertanya kepada para petugas bandara, saya bertemu kembali dengan rombongan pemuda berwajah Indonesia yang ternyata mereka juga sedang mencari arah mana untuk penumpang yang transit karena mereka ternyata satu tujuan dengan saya, yaitu  ke Korea Selatan. Hanya saja, jam keberangkatan pesawatnya tidak sama. Saya lebih awal berangkat daripada mereka.

 

Bersama rombongan itulah akhirnya kami menemukan jalur transit. Dalam pemeriksaan barang-barang kami, saya yang paling lama karena cukup banyak barang yang saya bawa, sedangkan mereka sedikit sekali. Setelah selesai pemeriksaan di bandara Hongkong saya cari teman-teman saya yang tadi sama-sama masuk tempat pemeriksaan ternyata mereka sudah tidak ada, akhirnya saya lihat jadwal penerbangan yang ada di layar dan saya cocokan dengan tiket yang saya pegang maka saya dapatkan saya harus menuju gate 40, saya ikuti gate tersebut dan alhamdulillah akhirnya saya sampai pada tempat untuk menunggu, karena masih sepi maka saya jalan-jalan sebentar sambil mencari musolla karena saya belum shalat Maghrib dan Isya. Tidak jauh dari tempat saya menunggu pesawat,  saya dapatkan tulisan Room for Prayer, saya pun masuk kemudian shalat.

Tepat pukul 05:10 waktu Korea saya tiba di bandara Inceong. Sebuah bandara yang cukup megah. Saya turun dari pesawat menuju pintu pemerikasaan di kantor imigrasi bandara untuk keluar bandara.

 

Setelah selesai pemeriksaan, saya menuju pintu keluar tetapi saya bingung karena HP saya tidak bisa aktif untuk menghubungi penjemput saya di Korea. Akhirnya, saya tukar uang rupiah saya dengan koin won lalu saya telp penjemput saya Hasrul namanya melalui fasilitas telpon koin di bandara. Alhamdulillah, akihirya tersambung dan saya bisa bertemu dengannya yang ternyata sudah menunggu saya. Selanjutnya perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan Subway atau kereta bawah tanah. Cukup baik fasilitas transportasi yang ada di sini. Semua memiliki petunjuk manual dan elektriknya walaupun dengan bahasa Korea. Setelah kira-kira satu jam, akhirnya saya sampai di Stasiun yang terdekat dari KBRI di Korea Selatan. Dengan berjalan kaki kira-kira 500 m, akhirnya kami sampai di KBRI.

 

 

Kegiatan Ramadhan

Hari pertama saya di Korea Selatan, diawali dengan buka bersama yang diadakan oleh pihak KBRI dengan mengundang semua orang Indonesia yang ada di Korea Selatan. Hari itu adalah hari Sabtu, maka cukup banyak pula yang datang karena hari libur.

 

Waktu berpuasa di sini cukup panjang karena sedang mengalami musim panas. Kami baru berbuka puasa pada pukul 19:37, padahal waktu Subuh di sini pukul 04:00. Setelah berbuka, dimulailah kegiatan saya. Dimulai dari shalat Magrib dan Isya berjamaah dimana saya langsung jadi imam dan mengisi kultum setelah shalat tarawih.

   

Hari Ahad hari kedua saya di Korea, saya diajak rombongan dari KBRI untuk safari dakwah ke daerah Daejon dengan menggunakan kereta KTX yang merupakan kereta tercepat di Korea Selatan dengan kecepatan sampai 300km/jam. Sampailah kami di musholla Annoor. Perlu saya informasikan bahwa gambaran musholla di Korea Selatan adalah tidak seperti di Indonesia. Disini adalah ruko-ruko yang disewa oleh komunitas muslim Indonesia Korea yang digunakan untuk musholla, tidak terlalu besar memang mushollahnya tetapi cukup banyak yang datang yaitu sekitar 150-200 orang. Acara berbuka bersama diawali dengan pengarahan dari KBRI tentang ketenagakerjaan dan diakhiri dengan kultum oleh saya sendiri.

 

Hari ketiga di Korea Selatan, saya didampingi oleh pihak KMI Korea. Saya diajak untuk safari dakwah menuju Anseong. Disana, saya bertemu dengan jamaah musolla Nurhidayah. Setelah berbuka puasa dan sholat Maghrib, saya lanjutkan perjalanan menuju salah satu mes TKI untuk bertemu mereka dan sedikit memberikan pengarahan tentang keislaman, Zakat, infaq dan shodaqoh. Malam itu pula kami langsung kembali ke Seoul, tepatnya di Guro, tempat saya menginap sampai hari keempat ini.