Ramadhan di Australia

0
176 views

Tepat pukul 09.00 (06.00 WIB) waktu setempat hari Jumat 29 Juli 2011, pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi mendarat dengan selamat di Bandar udara King Ford-Smite Sydney, Australia setelah menempuh perjalanan dari Jakarta hampir tujuh jam. Dari dalam pesawat, dikabarkan bahwa suhu udara dikabarkan mencapai 8 derajat. Setelah melewati pemeriksaan petugas imigrasi, saya dan ust. Taufik Hamami, Lc berhasil meninggalkan Bandara tanpa ada kesulitan apalagi Sdr. Ihsan, panitia dari CIDE (Centre For Islamic Dakwah And Education) sudah menunggu di pintu keluar untuk menjemput. Udara yang cerah dengan sinar matahari yang terang memberikan kehangatan tersendiri.

Masjdi Ex-Gereja

Jalan yang lengang dengan pemandangan kota yang indah membuat kami cepat sampai ke Al Hijrah Mosque, waktu tempuhnya hanya sepuluh menit. Andai tidak ada papan namanya, saya tidak tahu kalau itu masjid, secara fisik tidak nampak kalau itu bangunan masjid karena memang masjid ini semula sebuah gereja yang dibeli oleh kaum muslimin Indonesia pada tahun 1991. Melihat masjid seperti ini saya teringat dengan Masjid Al Hikmah di Den Haag, dan masjid Al Hijrah di Amsterdam Belanda yang dalam dakwah saya kesana tahun 2001 dan 2004 juga bekas gereja dan memang banyak masjid yang bekas gereja. Menurut keterangan yang saya peroleh dari bapak Lui Affandi, mantan Ketua CIDE yang sudah 34 tahun tinggal disana, tidak kurang dari 193 masjid di seluruh Australia, 90 persen masjid adalah bekas gereja, karena memang tidak mudah mendapatkan izin dari pemerintah untuk mendirikan rumah ibadah apalagi masjid, tetapi memungkinkan membeli gereja yang dijual karena sudah ditinggalkan oleh jamaahnya. Kondisi ini juga terjadi di Eropa dan Amerika.

Hal yang menarik dari sisi bangunan, masjid dengan kapasitas 350 jamaah ini juga memiliki sebuah rumah di bagian belakang dengan empat kamar, ruang tengah dan dapur serta halaman belakang yang cukup luas, di rumah inilah para ustadz yang diundang ditempatkan sehingga mudah bagi pengurus dan jamaah bertemu, dan sayapun amat mudah untuk ke masjid. Menurut informasi pengurus, rumah yang disebelahnya juga akan dijual dan rencana pengurus akan membelinya, bila ini tercapai maka arenya menjadi semakin luas dan ini luar biasa.

Dalam perkembangan teknologi informasi seperti sekarang, patut ditiru oleh masjid-masjid kita di Tanah Air bahwa masjid ini dilengkapi dengan kamera CCTV sehingga para ustadz yang berceramah dan berbagai aktivitas di masjid bisa disiarkan langsung melalui jaringan internet sehingga jamaah yang jauh bahkan dari mana-mana bisa mengikutinya melalui website cidensw channel sehingga rekaman kegiatan bisa dalam bentuk video.

Sesuai dengan pergantian muslim dengan suhu udara yang bisa panas di atas 40 derajat dan dingin dibawah 5 derajat, maka masjid ini dilengkapi dengan AC pemanas dan pendingin ruangan, bahkan ditambah lagi dengan kipas angin.

Aktivitas Ramadhan

Dari sisi cuaca, Ramadhan tahun ini yang bertepatan dengan bulan Agustus cukup menyenangkan, karena bagi Australia berarti musim dingin dengan suhu udara antara 3-15 derajat. Waktu subuh yang merupakan awal memulai puasa tepat puku 05.17 dan maghrib pukul 17.17 waktu Sydney.

Sebagai syahrul Qur’an (bulan Al-Qur’an), Ramadhan disambut dengan program tahsin (memperbaiki) bacaan Al-Qur’an sehingga secara khusus diundang Ust. Nandi Abu Rabani dari Bandung untuk mengajarkan metode belajar dan mengajar Al-Qur’an. Sedangkan untuk mengisi aktivitas Ramadhan diundang tiga orang ustadz, yakni Ust. Drs. H. Ahmad Yani, Taufik Hamim Efendi, Lc dan seorang Imam Thariq Jamil, Al Hafidz (Mahasiswa Indonesia di Al Azhar Mesir yang hafal 30 juz Al Qur’an).

Selain shalat berjamaah yang lima waktu, kegiatan utama adalah shalat tarawih dan ceramah Ramadhan. Meskipun waktu isya tepat pada pukul 18.48 saat dikumandangkan adzan, karena jamaah yang datang dari berbagai tempat yang jauh dan kesibukan bekerja, iqamat shalat isya dikumandangkan pukul 19.30. Sambil menunggu shalat isya, 15-20 menit sebelum shalat dilaksanakan program tasmi (memperdengarkan bacaan) Al-Qur’an oleh imam Thariq Jamil dan seluruh jamaah menyimak sambil memperhatikan teks melalui Al-Qur’an maupun Handphone. Panitia memang telah menyepakati agar setiap malam tarawih bisa menyelesaikan 1 juz, sehingga setengah juz dibacakan saat tasmi, sedangkan setengah juz lagi dibaca saat shalat, baik shalat maghrib, isya dan subuh maupun shalat tarawih.

Kajian umum setiap hari berlangsung dalam bentuk Kajian Hadist Arbain ba’da subuh dibawakan oleh Ust Ahmad Yani. Kajian tematik Al Qur’an ba’da ashar dibawakan oleh Ust Taufik Hamim Effendi, Lc. Kajian sirah nabi dan tazkiyatun nafs dibawakan oleh Ust Ahmad Yani dan Ust Taufik Hamim Effendi. Adapun ceramah tarawih disampaikan selama 10-15 menit ba’da isya. Selain itu para jamaah juga mendapat kesempatan untuk mendapatkan bimbingan membaca Al-Qur’an (tadarus) setelah shalat tarawih dan waktu-waktu yang jamaah berkenan mengikutinya.

Untuk para remaja, program Pesantren kilat diselenggarakan setiap hari sabtu mulai pukul 10.30 am sampai waktu Ashar dan program yang amat penting untuk dakwah ke depan di Sydney khususnya adalah pelatihan khatib dan muballigh pada tgl 14 Agustus 2011 pukul 09.00-15.00. Puncak aktivitas dan ibadah Ramadhan adalah I’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan dengan shalat malam bersama Ust Taufik Hamim, Ust Ahmad Yani dan Ust Toriq Jamil.

Hal lain yang amat menarik dari program Ramadhan di Al Hijrah Sydney ini adalah ditampilkannya para pemuda yang berpotensi untuk memberikan ceramah tarawih sehingga meskipun ada dua muballigh yang diundang dari Indonesia, tidak selalu kami yang memberikan ceramah, ini merupakan harapan besar ke depan sehingga aktivitas dakwah sehari-hari tetap bisa dilaksanakan meskipun tanpa kehadiran ustadz dari Indonesia.

Setelah satu pekan berada di Sydney, melihat kota, mendengar keluhan dan berdialog dengan para jamaah dengan beragam latar belakang, maka keberadaan umat Islam Indonesia di Sydney khususnya dan Australia pada umumnya sebenarnya bisa berkontribusi besar dalam kemajuan dakwah, apalagi bila semua muslim dari berbagai kelompok mau bersatu dan menjalin kerjasama dakwah.

Oleh Drs. H. Ahmad Yani