Rahmat

0
14 views

Rahmat dalam bahasa arab adalah masdar bagi kata kerja rahima yang mengandung makna mengasihi, Bentuk kata sifatnya, rahmãn dan rahïm, sedangkan dalam kamus bahasa indonesia kata “rahmat” juga mengandung makna kasih, kasihan, kasih sayang, peduli, simpati. Ada juga yang mengatakan bahwa rahmat adalah kumpulan dari segala nikmat . Dalam Al-Qur’an kata rahmat banyak sekali dan mengandung makna dan tafsiran yang berbeda-beda misalnya; dalam (QS. al-Isra[17]:28), yang artinya ” jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhan mu yang kamu harapkan”. Kata rahmat dalam ayat ini mengandung makna Rezeki. Dalam (QS. Hud [11]:9), “jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut darinya, pastilah dia menjadi putus asa dan lagi tidak berterima kasih”. Kata rahmat dalam ayat ini bermakna Nikmat. Dalam (QS. Asy-Syura[42]:28), “Dia-lah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebutkan rahmat-Nya”. Kata rahmat dalam ayat ini bermakna Hujan. Dalam (QS. az-Zukhruf [43]:32),” Apa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhan mu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhan mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. Kata rahmat dalam ayat ini bermakna Risalah Kenabian. Luasnya Rahmat Allah swt Kata rahmat yang kandungan maknanya begitu banyak maka ketika kata itu disandarkan kepada Allah swt ia semakin luas maknanya, dalam salah satu hadis Rasulullah saw bersabda; عن أَبَي هُرَيْرَةَ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ” جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ مِائَةَ جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا ، وَأَنْزَلَ فِى الأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا ، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ ، حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ”.(أخرجه البُخاري ، ومسلم) Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) itu seratus bagian, lalu Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan Dia menurunkan satu bagiannya ke bumi. Dari satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sampai-sampai seekor kuda mengangkat kakinya karena takut menginjak anaknya.” (HR. Bukhari no. 5541 dan Muslim no. 2752) hadis ini menunjukan akan luasnya rahmat Allah swt untuk hamba-Nya dan makhluk Allah swt lainnya, Prof.Dr. Muhammad Mutawali dalam bukunya tafsir Asy-Sya’rawi berkata: “Allah swt disebut Dzat Yang Maha Penyayang di dunia karena banyaknya makhluk Allah swt yang tercakup oleh sifat rahmat-Nya ini. Rahmat Allah swt di dunia berlaku umum kepada makhluk-Nya, baik orang mukmin, pelaku maksiat, maupun orang kafir. Di dunia Allah swt memenuhi semua kebutuhan mereka secara merata tanpa memperhitungkan dosa-dosa mereka. Dia memberi rezeki dan ampunan kepada mukmin dan non-mukmin. Dengan demikian, semua manusia di dunia mendapat rahmat-Nya tanpa memandang apakah mereka beriman atau tidak. Akan tetapi, di akhirat Allah swt hanya memberikan rahmat kepada orang mukmin saja, sedangkan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik tidak akan memperoleh Rahmat-Nya. Bahkan sangat luasnya rahmat Allah swt, ia mendahului murka Allah swt, itu karena rahmat Allah swt adalah sifat yang sudah melekat pada diri-Nya (sifat dzatiyyah) dan diberikan kepada makhluk-Nya tanpa sebab apapun. Dengan kata lain, walaupun tidak pernah ada jasa dan pengorbanan dari makhluk-Nya, pada asalnya Allah swt tetap sayang kepada makhluk-Nya. Dia menciptakannya, memberi rizki kepadanya dari sejak dalam kandungan, ketika penyusuan, sampai dewasa, walaupun belum ada amal darinya untuk Allah swt. Sementara murka-Nya timbul dengan sebab pelanggaran dari makhluk-Nya. Maka dari itu, rahmat Allah swt sudah tentu mendahului murka-Nya. Rasulullah saw bersabda: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ : لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ وَهُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَهُوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ عَلَى الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي)البخاري( Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tatkala Allah menciptakan para makhluk, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.” (HR. Bukhari no. 6855 dan Muslim no. 2751) Dan luasnya rahmat Allah swt, amal sebanyak apapun yang kita lakukan tidak akan memasukan kita ke surga Allah swt bahkan Rasulullah saw sendiri tidak akan masuk surga dengan amalnya akan tetapi dengan rahmat Allah swt hal itu ditegaskan dalam sabdanya: Dari Aisyah ra Rasulullulah bersabda : “Perbaikilah dirimu, ucapkan kebaikan dan sampaikan kabar gembira, sesungguhnya amal seseorang tidak akan bisa memasukkannya ke dalam surga” Orang bertanya : “ Termasuk amal anda juga wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab : “ termasuk juga amalku,kecuali jika Allah mencurahkan rahmat-Nya kepadaku. Ketahuilah bahwa amal yang paling disenangi Allah adalah amal yang istiqamah meskipun sedikit” (HR Muslim) salah satu bentuk luasnya rahmat Allah adalah luasnya ampunan Allah bagi para hamba-Nya yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah, selama hamba tersebut mau bertaubat. Allah ta’ala berfirman, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar[39]: 53) Rasulullah saw bersabda dalam salah satu hadisnya yang menunjukan betapa luasnya pengampunan Allah swt: Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah ta’ala berfirman, “…Hai anak Adam, sungguh seandainya kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, dan kau datang tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatupun. Sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi, hasan) Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah swt Setelah mengetahui betapa luasnya rahmat Allah swt, maka seharusnya kita lebih bersemangat lagi untuk menggapainya dan jangan sampai berputus asa darinya. Sikap putus asa dari rahmat Allah inilah yang Allah sifatkan kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang sesat. Allah berfirman, قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِ إِلاَّ الضَّالُّونَ Ibrahim berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabb-Nya, kecuali orang-orang yang sesat’.” (QS. Al Hijr[15]:55-56) Dan juga firman-Nya, يَا بَنِيَّ اذْهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلاَ تَيْأَسُواْ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لاَ يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Wahai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf[12]: 87). Selain itu, berputus asa dari rahmat Allah juga termasuk salah satu diantara dosa-dosa besar. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditanya tentang dosa-dosa besar beliau menjawab, “Yaitu syirik kepada Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar/adzab Allah.” (HR. Ibnu Abi Hatim, hasan) 10 Sebab Turunnya Rahmat Allah swt Bagaimanapun luasnya rahmat Allah swt, kita harus berusaha untuk mendapatkannya, oleh karenanya seorang muslim perlu mengetahui faktor penyebab, Allah swt memberikan rahmat kepada makhluk-Nya, yaitu: Pertama, Berbuat Ihsan dalam beribadah kepada Allah swt dengan menyempurnakan ibadah kepada-Nya dan merasa dimonitor (diawasi) oleh Allah swt, bahwasanya kamu beribadah kepada Allah swt, seolah-olah kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu, dan berbuat baik kepada manusia semaksimal mungkin, baik dengan ucapan, perbuatan, harta, dan kedudukan. Allah swt berfirman, إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf[7]: 56) Kedua, bertakwa kepada-Nya dan mentaati-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, Allah swt berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ “Dan rahmatKu meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmatKu untuk orang-orang yang bertakwa,” (QS. al-A’raf[7]: 156) Ketiga, Kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya baik manusia maupun binatang. Rasulullah saw bersabda, “الراحِمونَ يرحمهم الرحمنُ ارْحموا مَنْ في الأرض يرحمكم من في السماء”، مفسَّر بالرواية الأخرى لهذا الحديث ” ارحموا أهل الأرض يرحمْكُم أهلُ السّماءِ ” “Orang-orang yang penyayang, maka Allah swt akan menyayangi mereka (memberikan rahmat kepada mereka), sayangilah/ kasilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi) Keempat, Beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah swt. Allah swt berfirman, إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah[2]: 218). Kelima, Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mentaati Rasulullah saw, sebagaimana Allah swt berfirman, وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. an-Nur[24]: 56). Keenam, Berdo’a kepada Allah swt untuk mendapatkannya dengan bertawasul dengan nama-nama-Nya yang Maha Pengasih (ar-Rahman) lagi Maha Penyayang (ar-Rahim) atau yang lainnya dari nama-nama-Nya yang Agung/ Indah, seperti kamu mengatakan, “Ya Rahman Wahai Yang Maha Penyayang), sayangilah aku (rahmatilah aku), ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang luas yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuni dosaku dan menyayangiku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Allah swt berfirman, فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا “Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisiMu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).” (QS. al-Kahfi[18]: 10). Dan Allah swt juga berfirman, وَلِلَّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ “Hanya milik Allah asma`u al-Husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma`u al-Husna itu.” (QS. al-A’raf[7]: 180). Ketujuh, Mengikuti al-Qur`an al-Karim dan mengamalkannya. Allah swt berfirman, وَهَذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan Al-Qur`an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.” (QS. al-An’am[6]: 155). Kedelapan, Menaati Allah swt dan Rasul-Nya saw sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Allah swt berfirman, وَأَطِيعُواْ اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 132). Kesembilan, Mendengarkan dan memperhatikan dengan tenang ketika dibacakan al-Qur`an al-Karim. Allah swt berfirman, وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan apabila dibacakan Al-Qur`an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. al-A’raf[7]: 204). Kesepuluh, Istighfar, memohon ampunan dari Allah swt. Allah swt berfirman, لَوْلا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agarkamu mendapat rahmat.” (QS. an-Naml[27]: 46). Referensi 1. Kamus besar bahasa Indonesia 2. kamus Hans Wehr. 3. Prof.Dr. Muhammad Mutawali dalam bukunya tafsir Asy-Sya’rawi 4. Ibnu Hajar, Fathul Bari, 5. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim