Puasanya Generasi Terdahulu

0
43 views

Ramadhan kembali segera kita masuki.Rasa gembira tentu ada pada jiwa kita karena mendapat kesempatan sekali lagi untuk menikmati ibadah Ramadhan. Puasa merupakan kebutuhan kita secara jasmani maupun rohani, karenanya puasa sudah diwajibkan sejak dahulu, jauh sebelum Nabi Muhammad saw. Bahkan karena kebutuhan itulah, bisa jadi seandainya Allah swt tidak mewajibkan, manusia akan mewajibkan dirinya untuk berpuasa,

Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS Al Baqarah [2]:183).

Kalau mau kita banding-bandingkan puasanya kita dengan generasi terdahulu, ternyata puasa kita tidak seberat puasanya orang terdahulu. Karenanya perlu kita telaah sebagai pembandingnya.

Enam Bulan Dalam Setahun

Puasa kita tidaklah lama, hanya beberapa hari, yakni sebulan Ramadhan. Bahkan Wahbah Zuhaili dalam tafsir Munir menyatakan: “Puasa terbatas pada beberapa hari tertentu yang sedikit jumlahnya, yaitu hanya satu bulan dalam satu tahun, dan ia biasanya berlalu dengan cepat karena hari-hari bulan Ramadhan penuh berkah, berlimpah kebaikan dan ihsan.”

 Mari kita bandingkan dengan puasanya Nabi Daud dan umatnya. Mereka diwajibkan berpuasa selama enam bulan dalam setahun. Rentang waktunya bukan dari bulan pertama sampai bulan keenam atau bukan dari bulan ketujuh sampai bulan kedua belas, tapi sepanjang tahun dengan cara sehari puasa, sehari tidak. Ada saat musim dingin, ada saat musim panas. Ini merupakan puasa yang jauh lebih berat dibanding puasa kita sekarang yang hanya beberapa hari.  Karena itu, puasanya Nabi Daud merupakan puasa yang paling disukai oleh Allah swt. Dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, ia berkata bahwa Rasulullah saw mengatakan padanya:

أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – وَأَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، وَكَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ، وَيَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

Sebaik-baik shalat di sisi Allah adalah shalatnya Nabi Daud ‘alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau shalat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya.” (HR. Bukhari).

 

Bahkan ketika ada sahabat yang mengatakan mampu melebihi puasanya Nabi Daud, tetap hal itu tidak dibenarkan, karena puasanya Nabi Daud adalah puasa yang terbaik, puasa yang paling utama, dalam hadits disebutkan:

 

فَصُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَذَلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ فَقُلْتُإِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ فَقَالَ النَّبِيُّ لَا أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ

Maka berpuasalah engkau sehari dan berbuka sehari, inilah (yang dinamakan) puasa Daud ‘alaihissalam dan ini adalah puasa yang paling afdhal. Lalu aku (Abdullah bin Amru radhialahu ‘anhu} berkata sesungguhnya aku mampu untuk puasa lebih dari itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada puasa yang lebih afdhal dari itu. ” (HR. Bukhari).

 

Tidak Boleh Hubungan Suami Isteri.

Hubungan suami isteri merupakan kebutuhan bagi keduanya. Tapi pada saat puasa Ramadhan, dahulu tidak boleh melakukannya meskipun pada malam hari, karenanya ini menjadi persoalan tersendiri yang pasti diketahui oleh Allah swt. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dari Abdurrahman bin Abi Laila, yang bersumber dari Mu’adz bin Jabal. Bahwa para shahabat Nabi saw. menganggap bahwa makan, minum, dan menggauli istri pada malam hari bulan Ramadhan, hanya boleh dilakukan sementara mereka belum tidur. Di antara mereka Qais bin Shimah dan ‘Umar bin al-Khaththab. Qais bin Shimah (dari golongan Anshar) merasa kepayahan setelah bekerja pada siang harinya. Karenanya setelah shalat Isya ia tertidur, sehingga tidak makan dan minum hingga pagi. Adapun ‘Umar bin al-Khaththab menggauli istrinya setelah tertidur pada malam hari bulan Ramadhan. Keesokan harinya, ia menghadap Nabi saw. untuk menerangkan hal itu.

Selain itu, diriwayatkan oleh al-Bukhari dari al Barra’ bahwa para shahabat Nabi saw, apabila tiba bulan Ramadhan, tidak mendekati istrinya sebulan penuh. Akan tetapi ada diantara mereka yang tidak mampu menahan nafsu.

Dengan sebab itu dan sebab-sebab yang terkait dengan hal itu dalam beberapa riwayat, maka Allah swt menurunkan firman-Nya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa (QS Al Baqarah [2]:187).

Tidak Sahur

Puasa terasa lebih berat pada orang terdahulu karena puasa sudah harus dimulai ketika bangun dari tidur sehingga tidak ada yang disebut dengan makan sahur. Karena itu, bila seseorang tertidur sejak awal malam, maka ia sudah memulai puasa, meskipun ia belum makan pada malam itu. Lebih repot lagi bila karena kelelahan, keesokan harinya ia tertidur lagi pada awal malam. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari al-Barra’ bahwa seorang shahabat Nabi saw tidak makan dan minum pada malam bulan Ramadhan, karena tertidur setelah tiba waktu berbuka shaum. Pada malam itu tidak makan sama sekali, dan keesokan harinya ia bershaum lagi. Seorang shahabat lainnya bernama Qais bin Shirmah (dari golongan Anshar), ketika tiba waktu berbuka shaum, meminta makanan kepada istrinya yang kebetulan belum tersedia. Ketika istrinya menyediakan makanan, karena lelahnya bekerja pada siang harinya, Qais bin Shirmah tertidur. Setelah makanan tersedia, istrinya mendapatkan suaminya tertidur. Berkatalah ia: “Aduh celaka engkau.” Pada waktu tengah hari (keesokan harinya), Qais bin Shirmah pingsan. Kejadian ini disampaikan kepada Nabi saw., maka turunlah surat al-Baqarah:187 di atas.

Dalam melaksanakan puasa pada masa sekarang, kita disunnahkan untuk makan sahur, sedangkan ahli kitab pada masa lalu tidak ada makan sahur, Rasulullah saw bersabda sebagaimanan diriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash ra:

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

Yang membedakan antara puasa kami (orang-orang muslim) dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Al-Imam Muslim dan lainnya).

Karena itu, jangan sampai sahur kita tinggalkan karena ada keberkahan di dalamnya, dalam satu hadits disebutkan:

السَّحُوْرُ كُلُّهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ

Sahur itu seluruhnya adalah berkat, maka itu janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya dengan seteguk air, sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya mendoakan orang-orang yang bersahur. (HR. Ibnu Hibban)

Bahkan waktunya lebih bagus diakhirkan, yakni menjelang waktu subuh sehingga setelah makan sahur tidak begitu lama menunggu waktu subuh.  

Setelah turun ayat 187 di atas, kaum muslimin menjadi amat bergembira karena dengan demikian, puasa dapat dijalani lebih ringan dibanding sebelumnya.

Semoga dengan memahami hal ini, kita semakin termotivasi dan bersemangat untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tahun ini lebih baik dari puasa tahun-tahun lalu. Dengan demikian, insya Allah kita menjadi mukmin yang semakin taqwa kepada Allah swt sebagaimana target percapaian dari puasa itu sendiri.

Drs. H. Ahmad Yani