Puasa yang Ekspresif

0
427 views
loudprogram.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Ada yang mengatakan bahwa Iman itu harus mencakup tiga hal, yaitu: dinyatakan oleh lisan, diyakini oleh hati, serta diamalkan oleh anggota tubuh. Sesungguhnya ketiga hal tersebut tak terpisahkan karena pernyataan oleh lisan itulah yang diyakini oleh hati. Lagipula amalan oleh anggota tubuh itu seharusnya juga mencakup pernyataan oleh lisan. Bukankah lisan adalah bagian dari tubuh?

Tampaknya Rukun Islam adalah sehimpunan ritual yang merangkum aktivitas anggota tubuh yang paling mendasar sebagai pembuktian keimanan. Karena itulah, Rukun Islam bisa disebut didominasi oleh pernyataan keimanan lewat amalan anggota tubuh. Bukankah syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji adalah aktivitas anggota tubuh?

Lalu di manakah posisi puasa dalam hal ini? Tentu saja puasa termasuk di dalam Rukun Islam itu. Namun jika kata kunci Rukun Islam adalah aktivitas anggota tubuh, maka ada yang agak berbeda pada puasa jika dibandingkan dengan anggota Rukun Islma yang lain. Puasa malah tampak tidak menunjukkan aktivitas apa-apa. Justeru puasa menghilangkan aktivitas karena puasa mendefinisikan dirinya dengan “tidak”: tidak makan, tidak minum, dan tidak berhubungan suami-isteri. Aktivitas apa yang bisa muncul dari kata “tidak” seperti itu?

Mari kita bandingkan puasa dengan anggota Rukun Islam yang lain. Shalat, misalnya. Shalat selalu merupakan tindakan aktivitas tubuh seperti takbir, rukuk, sujud, dan sebagainya. Zakat pun demikian karena ada aktivitas menyisihkan sebagian harta. Haji apalagi. Syahadat pun adalah aktivitas lisan. Lalu, puasa?

Ya, tentu saja puasa tetaplah aktivitas anggota tubuh meski barangkali dalam pemahaman yang berbeda dengan anggota Rukun Islam yang lain. Jika boleh dikategorikan, maka puasa termasuk Rukun Islam yang tidak ekspresif. Disebut tidak ekspresif karena tidak ada aktivitas tubuh tertentu yang menandai seseorang berpuasa. Apakah terlihat lemas dan tak bertenaga adalah tanda aktivitas puasa? Tentu saja bukan.

Barangkali ungkapan lain untuk puasa selain sebagai ibadah non ekspresif adalah ibadah defensif dan ibadah diam. Karena itulah tidak mengherankan jika ada Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.

Karena puasa masuk di dalam kategori ibadah yang tidak ekspresif, maka sungguh aneh jika puasa menjadi ekspresif, bahkan represif. Kita tentu masih ingat upaya penutupan warung-warung makan hingga warung-warung itu terpaksa menjadi tertutup separuh dan terbuka separuh. Atau juga razia hiburan malam dan minuman keras.

Pertanyaan yang timbul adalah: Mengapa puasa yang sejatinya tidak ekspresif menjadi begitu ekspresif, dan bahkan cenderung represif? Tentu tidak ada salahnya jika bulan puasa menjadi bulan warung tertutup separuh atau bulan liburan hiburan malam, tetapi jika para pelaku puasa lah yang mengekspresikan puasanya dengan cara mendesak orang lain untuk melakukan ini-itu atau tidak melakukan ini-itu, maka barangkali memang ada cara pandang lain terhadap puasa yaitu bahwa puasa sama dengan anggota Rukun Islam yang lain; puasa yang ekspresif.[]