Puasa dan Taqwa

0
99 views

Oleh Drs. H. Ahmad Yani

Menjadi taqwa harus kita usahakan semaksimal mungkin. Dengan taqwa itulah, kita menjadi manusia yang paling mulia dihadapan Allah swt.

Ibadah puasa setiap tahun menempa kita agar dapat mencapainya. Diantara yang paling prinsip dari taqwa adalah kehati-hatian tingkat tinggi dalam bersikap, berucap dan bertindak sehingga betul-betul disesuaikan dengan ketentuan dan kehendak Allah swt.

Bila kita sudah meraih ketaqwaan, maka ciri orang tqwa semestinya ada pada diri kita, Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian. (QS Adz Dzariyat [51]:15-19)

Banyak karakter orang taqwa, termasuk yang dihasilkan dari ibadah Ramadhan. Dari ayat di atas orang taqwa itu dicirikan dengan tiga ciri.

Shalat Tahajjud Setelah Tidur Sebentar

Salah satu shalat sunat yang sangat istimewa adalah tahajud, karenanya hal ini tidak ditinggalkan oleh Nabi Muhammad saw, bahkan bagi beliau malah wajib hukumnya.

Tempat terpuji di sisi Allah swt adalah surga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira, karenanya salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa diberi tempat yang terpuji itu adalah dengan melaksanakan shalat tahajjud saat banyak manusia yang tertidur lelap, Allah swt berfirman: Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji (QS Al Isra [17]:79).

Manakala seseorang sudah rajin melaksanakan shalat tahajud, ia merasa menjadi seorang yang begitu dekat kepada Allah swt dan bukti kedekatannya itu adalah dengan tidak melakukan penyimpangan dari ketentuan-ketentuan-Nya, meskipun peluang untuk menyimpang sangat besar dan bisa jadi ia mendapatkan keuntungan duniawi yang banyak. Disinilah salah satu letak penting hubungan orang taqwa dengan pelaksanaan shalat tahajud sehingga orang taqwa selalu berusaha untuk melaksanakannya.

Tidur pada malam hari bukan yang penting lamanya, tapi yang penting adalah efektifnya meskipun hanya sebentar. Tidur yang efentif adalah tidur seperti orang mati yang tidak tahu apa-apa, makanya saat bangun tidur, doa kita adalah segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku sesudah mematikan aku.

Selama Ramadhan, kita dilatih untuk selalu bangun pada sepertiga malam terakhir untuk shalat tahajud dan makan sahur. Bila kebiasaan selama Ramadhan ini dapat kita lanjutkan pada hari-hari sesudah Ramadhan, maka ini merupakan salah satu ukuran sukses ibadah Ramadhan kita, meskipun hal itu tidak bisa kita lakukan setiap malam.

Memohon Ampun Saat Sahur

Manusia harus menyadari bahwa dirinya banyak melakukan perbuatan dosa kepada Allah swt dan sesama manusia. Manusia yang berbuat dosa besar sekalipun akan menjadi baik manakala ia mau bertaubat kepada Allah swt dari dosa-dosanya itu.

Secara harfiyah, taubat artinya kembali kepada Allah, dosa memang membuat manusia menjauh dengan Allah dan ia merasa jauh dengan-Nya. Taubat membuat manusia kembali dekat kepada Allah swt. Karena itu, Allah swt cinta kepada siapa saja yang bertaubat dari segala dosanya, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertaubat dan membersihkan dirinya (QS Al Baqarah [2]:222).

Taubat bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, namun waktu yang paling tepat adalah sepertiga malam terakhir, saat yang penuh dengan keberkahan, saat ketenangan batin dan suasana sekitar dimana begitu banyak orang yang masih terlelap tidur. Karena itu, Allah swt mencintai siapa saja yang mau bertaubat, beristighfar pada saat yang paling tepat itu.

Kejernihan hati dan pikiran pada saat sepertiga malam terakhir untuk bertaubat semestinya membuat manusia bisa bertaubat dengan sebenar-benarnya sesuai dengan seruan Allah swt kepada orang-orang yang beriman: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Allah akan menutup kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS At Tahrim [66]:8).

Taubat yang sesungguhnya adalah taubat yang dilakukan dengan penuh pemahaman, kesadaran, penyesalan yang sangat dalam atas dosa yang dilakukan dan bertekad untuk tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan itu.

Taubat seperti inilah yang akan menghasilkan perubahan-perubahan pada diri seseorang ke arah terbentuknya pribadi muslim yang sejati. Karena itu, wajarlah bila Allah swt mencintai orang yang bertaubat kepada-Nya dan orang yang bertaqwa mungkin saja keliru, tapi kesalahan dan keleiruan itu tidak memberi warna dan karakter kehidupannya.

Menunaikan Hak Harta

Menunaikan zakat bukanlah semata-mata menunaikan kewajiban yang seolah-olah orang lain amat membutuhkan bantuan kita, tapi sebenarnya menunaikan hak orang lain atau mengembalikan hak-hak kepada mereka.

DR. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al Ibadah Fil Islam menyebutkan bahwa hak-hak yang terkait dengan harta yang kita miliki adalah Pertama, hak Allah, karena harta yang kita miliki pada dasarnya titipan atau amanah dari Allah, bahkan manusia tidak akan berdaya terhadap harta yang akan dicarinya seandainya Allah bermaksud tidak akan memberikannya, hal ini digambarkan dalam firman Allah yang artinya: Sudahkah kamu perhatikan pertanian yang kamu garap?. Apakah kamu yang menumbuhkannya atau Kami sebagai penumbuhnya?. Seandainya Kami mau, niscaya Kami jadikan tanaman itu berantakan, lalu kamupun berduka cita (sambil berkata): Sungguh kami dilanda kerugian, bahkan kami hampa. Sudahkah kamu perhatikan air yang kamu minum?. Apakah kamu yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?. Seandainya Kami mau, niscaya Kami jadikan air itu asin sekali, tapi mengapa kamu tidak mau bersyukur? (QS Al Waqiah [56]:63-70).
Oleh karena itu, menunaikan zakat berarti memberikan hak-hak Allah yang penggunaannya untuk menyemarakkan syiar-syiar Allah dan menegakkan nilai-nilai yang datang dari Allah swt, itu sebabnya diantara orang yang menjadi mustahik (yang berhak menerima zakat) adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah).

Kedua, hak fakir miskin, hal ini karena antara muslim yang satu dengan muslim yang lain bersaudara, bahkan digambarkan seperti satu tubuh yang bila mengalami kesulitan harus dibantu oleh muslim lainnya, apalagi memang ada hak mereka pada harta yang kita miliki.

Kemiskinan seperti dalam hadits Rasulullah saw bisa membawa seorang muslim kepada kekufuran, karenanya kemiskinan itu harus diatasi dan zakat merupakan salah satu cara untuk mengatasinya.

Karena itu, diantara faktor yang membuat orang disebut mendustakan agamanya adalah bila tidak memperhatikan anak yatim dan orang miskin (lihat QS Al Maauun [107]:1-7), bahkan seseorang akan dimasukkan ke dalam neraka dengan sebab tidak memberi makan orang miskin, Allah swt menceritakan di dalam Al-Quran dialog penghuni surga dengan penghuni neraka tentang faktor yang menyebabkan seseorang masuk neraka. dialog tersebut artinya: Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, di dalam surga, mereka saling bertanya tentang (keadaan) orang yang berdosa: Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam saqar (neraka)?. Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin (QS Al Muddatsir [74]:38-44).

Ketiga, hak jamaah sesama muslim, hal ini karena ketika seseorang memperoleh harta, maka ada pihak-pihak lain yang terlibat di dalamnya, baik langsung maupun tidak langsung, karena itu sebagai tanda syukur, dia harus membantu muslim lainnya dan itu sekaligus menjadi hak mereka untuk kita keluarkan. Manakala kita tidak menunaikan zakat yang wajib, apalagi infaq dan sedekah yang bersifat sunat, padahal orang lain sangat memerlukan bantuan kita, sedangkan kita juga sebenarnya membutuhkan bantuan pihak-pihak lain.

Dengan demikian, disamping orang lain akan mendapatkan manfaat dari zakat yang kita tunaikan, kitapun mendapatkan manfaat yang sangat besar dari zakat itu dalam bentuk lain. Karena itu, menunaikan zakat tidak semata-mata kewajiban, tapi suatu kebutuhan bagi kita dan Allah swt tahu tentang hal ini, karenanya diwajibkan zakat itu bagi kita.
Secara harfiyah, zakat itu artinya suci, bersih, tumbuh dan berkah. Ketika zakat kita tunaikan, maka keuntungan yang akan kita peroleh adalah memperoleh kebersihan atau kesucian, baik harta maupun jiwa. Dengan zakat, harta yang kita peroleh akan disucikan kembali oleh Allah swt dari kemungkinan adanya unsur-unsur kekotoran karena tanpa kita sengaja memperolehnya dengan cara-cara yang kotor. Disamping itu, zakat juga dapat membersihkan jiwa kita dari kemungkinan memiliki sifat-sifat yang kotor dan tercela dalam kaitannya dengan harta, misalnya terlalu cinta pada harta, kikir, bakhil, serakah dll. Sifat-sifat buruk yang terkait dengan harta merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dalam tatanan kehidupan masyarakat, karenanya harus dibersihkan, salah satunya adalah melalui zakat.
Drs. H. Ahmad Yani


 

BAGI
Artikel SebelumnyaPuasa yang Ekspresif
Artikel BerikutnyaJam (B)enam