Puasa dan Bertemu Allah

0
118 views

Tentu sudah sering kita mendengar atau membaca sebuah hadis yang artinya: “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari). Kegembiraan ketika berbuka kita semua pasti merasakannya. Bagaimana halnya dengan kegembiraan ketika bertemu Dzat yang selama ini menciptakan dan memelihara kita? Apakah kita semua sudah merasakannya?

Secara psikologis, perasaan senang atau gembira akan datang diantaranya adalah karena sesuatu yang kita tunggu telah datang; yang kita harapkan tercapai; dan yang kita idamkan terlaksana. Kita bisa merasakan nikmatnya berbuka –meskipun menu yang kita santap sama dengan hari-hari biasa– setelah seharian penuh kita menahan lapar dan dahaga.

Sebagian muslim memahami bahwa yang dimaksud dengan hadis ini adalah dengan amal puasa kita dapat bertemu dengan Allah di akhirat kelak. Benar, bahwa dengan amal puasa dan amal-amal lainnya yang menunjukkan tingkat ketakwaan seorang muslim yang dapat menghantarkan pada kenikmatan tertinggi dari semua kenikmatan yang ada di surga adalah melihat (bertemu) Allah.

Bahkan bagi mereka yang berpuasa, telah tersedia pintu khusus untuk mereka. Dari Sahl dari Nabi bersabda, ”Sesungguhnya dalam surga terdapat sebuah pintu yang bernama ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa akan masuk melaluinya pada hari kiamat, dan selain mereka tidak akan masuk melaluinya. …” (HR Bukhari Muslim).

Namun sesungguhnya kegembiraan berpuasa, bertemu dengan Allah dapat kita rasakan atau kita alami saat kita di dunia. Mereka yang merasakan bertemu Allah di dunia adalah mereka yang gemar mengadukan segala macam persoalan kehidupannya di dunia ke hadapan Allah. Mereka yang dengan sesungguhnya mengatakan bahwa, “… hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS al-Fatihah: 5).

Kegembiraan ketika berbuka diperoleh setelah ada proses menahan lapar dan dahaga; kebahagiaan bertemu Allah derasakan ketika seorang muslim selalu merindukan bermunajat, berdialog, dan berdoa dengan Tuhannya. Dan hal itu akan lebih terasa nikmat ketika seorang hamba dalam keadaan atau sesudah berpuasa. Karena ketika hawa nafsu kita terbakar, maka tidak ada lagi pemisah antara seorang hamba dengan rabb-nya.

Sebagian muslim belum mengimani pertemuan dengan Allah di dunia walaupun tanpa melihat-Nya. Hal ini karena kesalahpahaman memahami firman Allah, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dia-lah Yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui” [QS Al-An’aam: 103]; Allah swt berfirman kepada nabi Musa as, “Kamu sekali-kali tidak dapat melihat-Ku.” (QS al-A’raaf: 143); Demikian juga sabda Rasulullah saw, “Ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang akan bisa melihat Rabb-nya hingga ia meninggal dunia” (HR Muslim). Juga pernyataan `Aisyah ra, ia berkata, “Barangsiapa menyangka bahwasanya Muhammad saw melihat Rabb-nya, maka orang itu telah melakukan kebohongan yang besar atas Nama Allah.” (Muslim)

Keterangan di atas adalah petunjuk bahwa Allah tidak dapat kita lihat di dunia dengan mata kepala (secara dzahir / lahiriah). Namun kita dapat menghadap kepada Allah, bersama Allah, bertemu Allah, berlari kepada Allah (fafirruu Ilallah) ketika di dunia. Contohnya ketika mendirikan shalat.

Nabi Muhammad saw bersabda,  ash-shalaatul mi’rajul mu’minin. Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin, yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.

Hanya muslim yang telah menjalankan puasa kalbu –yakni menahan diri dari segala pikiran dan perasaan yang menyebabkan terjatuh pada dosa– yang bisa merasakan kegembiraan bertemu dengan Allah. Mereka senantiasa mengingat Allah, bersama Allah dan bertemu secara ruhani dengan Allah swt. Itulah makna ihsan yang sebenarnya, ”Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat-Mu.”