Psikologi Teroris

0
149 views

Beberapa hari terakhir, ditengah berkecamuknya suasana politik negeri ini terkait dengan kasus bail-out bank century, kita kembali disuguhi berita perburuan teroris di Pamulang dan Aceh. Belum lepas dari ingatan, berita terorisme terkait dengan kejadian bom di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott tanggal 17 Juli 2009 yang tidak hanya membuat sibuk pengamat sosial, politik, keamanan dan budaya tetapi juga para insan olahraga karena tim kesayangannya, klub sepakbola kelas dunia MU, gagal merumput di Gelora Bung Karno.

Istilah teroris populer sejak runtuhnya menara kembar kembanggaan Amerika, WTC 11 September 2001 lalu yang katanya ditubruk oleh sebuah pesawat yang ditumpangi oleh sekelompok teroris. Dan sejak saat itu, dunia pun mulai menyatakan perang terhadap teroris, Say No to Teroris. Slogan-slogan tersebut terus dijejalkan pada masyarakat dan tak lama kemudian dimulailah ‘operasi pembersihan’ di negara-negara yang dituduh sebagai ‘pabrik’ teroris, Irak dan Afganistan (anehnya, keduanya merupakan negara muslim). Meskipun pada perkembangan selanjutnya banyak para ahli yang mulai curiga bahwa ada yang salah dalam cerita tragedi kemanusiaan itu namun masih lebih banyak yang tidak mau mencermati sejarah sehingga dengan mudah mereka menggunakan istilah teroris dan mengaitkannya dengan gerakan Islam radikal, militan, fundamentalis, atau garis keras seperti halnya yang digembar-gemborkan pihak Barat.

Hal ini membuat banyak kalangan kebingungan siapa sebenarnya yang teroris itu? apa arti teroris itu sendiri? Tulisan ini tentu tidaklah cukup refresentatif untuk menjawab pertanyaan itu semua. Tapi paling tidak bisa memberikan sedikit gambaran bahwa terorisme pada dasarnya adalah sebuah ideologi komunitas tertentu yang melakukan aksi bom bunuh diri sebagai sarana untuk menyampaikan pesan anti Amerika dengan mengatasnamakan agama. Hal ini tentunya menodai citra Islam sebagai agama yang mengajarkan keselamatan dan kedamaian, agama yang rahmatan lil alamiin yang semua aspek ajarannya jika dipahami dan diaplikasikan secara integral dalam kehidupan sehari-hari akan melahirkan peribadi yang mulia, secara pribadi maupun sosial.

Karena Islam tidak mengenal konsep jihad dengan makna membunuh ketika berada dalam situasi damai dan ketentraman. Paling tidak ini diungkap oleh seorang ulama dan cendekiawan muslim, Ma’ruf Amien. Menurutnya, “Orang salah paham tentang konsep jihad. Jihad dalam makna membunuh itu ketika dalam keadaan peperangan dan itu pun untuk mempertahankan diri. Yang kedua, jangan mengaitkan antara Islam radikal dengan terorisme.” jihad itu maknanya adalah berjuang dalam dimensi yang luas, yakni bisa bermakna memperbaiki nasib rakyat, bersedekah, mendirikan sarana pendidikan, mengayomi masyarakat dan berbagai kebajikan lainnya. Kalau kemudian jihad diartikan hanya berperang, itu sudah keliru dan akan melahirkan kekeliruan selanjutnya.

Pertanyaannya yang sering muncul adalah mengapa pelaku bom bunuh diri tersebut –yang sering disebut teroris—notabene adalah seorang muslim yang baik, shaleh, rajin shalat, taat menjalankan perintah agama, tidak pernah berbuat onar di masyarakat, menguasai berbagai pengetahuan termasuk ilmu agama? Mengapa mereka bisa melakukan itu semua?

Untuk menilai kepribadian seseorang tidak hanya dilihat dari satu faktor saja. Sangat kompleks permasalahannya karena manusia adalah mahluk yang dinamis. Bisa jadi ketaatan beragamanya yang perlu dipertanyakan karena secara umum masyarakat Indonesia hanya taat dalam hal ritual saja tanpa penghayatan makna yang mendalam dibalik semua ajaran agama yang dilakukannya. Dan banyak juga ini terjadi karena pengaruh lingkungan dan pergaulan. Terlebih jika dikaitkan dengan kecenderungan usia remaja (13 – 18) tahun dimana keterikatan terhadap kelompok pergaulan lebih dominan ketimbang terhadap keluarga.

Kalau kita mau merujuk kepada tulisan sebelumnya tentang religiusitas dan perilaku kita bisa menilai perilaku seseorang dikaitkan dengan keberagamaannya. Bahwa untuk mengukur religiusitas sesorang kita mengenal tiga dimensi dalam Islam yaitu aspek akidah (keyakinan), syariah (praktik agama, ritual formal) dan akhlak (pengamalan dari akidah dan syariah). Keberagamaan dalam Islam bukan hanya diwujudkan dalam bentuk ibadah ritual saja, tapi juga dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula (QS 2: 208); baik dalam berpikir, bersikap maupun bertindak, harus didasarkan pada prinsip penyerahan diri dan pengabdian secara total kepada Allah, kapan, dimana dan dalam keadaan bagaimanapun.

Tenti kita masih ingat gaya terpidana bom bali sewaktu dipenjara, kita bisa lihat perilaku mereka di televisi, mereka merasa bangga dengan ulah mereka dengan mengutuk golongan atau umat lain, dan merasa bahwa cara-cara yang ditempuh oleh teroris dengan kekerasan adalah benar sesuai dengan ideologi mereka.

Sementara itu, ideologi adalah energi. Ketika sebuah gagasan, ideologi, dan keyakinan agama bersinergi, akan terjadi multiplikasi energi. Energi akan mengeras dan memiliki daya rusak tinggi saat digerakkan amunisi rasa dendam dan frustrasi yang tidak tersalurkan, didukung teknologi perakitan bom yang canggih. Dengan mencari pembenaran pada ayat-ayat kitab suci yang tafsirannya disesuaikan dengan situasi batinnya, kematian diyakini sebagai emansipasi jiwa yang diberi lebel syahid, agar terbebas dari beban hidup dan bisa tersenyum saat jalan kematian ada di depannya, dan yakin surga telah menanti.

Keyakinan yang kuat bahwa tindakannya benar ditambah kekecewaan yang mendalam terhadap sikap pemerintah atas berbagai peyimpangan dan kemaksiatan serta dominasi Barat akan menghasilkan sikap menarik diri dari masyarakat dan kemudian melakukan tindakan konfrontatif yang radikal. Para teroris memilih jalan kekalahan dan kematian, dimanipulasi, dan diyakini sebagai kemenangan dan kejayaan di surga. Mereka merasa telah membela agama dan bangsa, padahal yang terjadi adalah meninggalkan malapetaka dan fitnah ideologis berkepanjangan.

Oleh karena itu, untuk mengetahui bagaimana kepribadian para teroris itu terbentuk perlu ada pendekatan khusus. Masyarakat dan pemerintah harus melakukan kajian psikologis dan psikoanalisa jika ada pelaku-pelaku yang tertangkap. Dan sebagai antisipasi, perlu adanya konseling dan pendidikan yang lebih baik bagi keluarga-keluarga teroris yang mempunyai potensi menjadi teroris juga. Bentengi diri dan keluarga kita dengan memupuk dan mengembangkan nilai-nilai keagamaan dalam keluarga sebagai lingkungan terdekat yang membentuk dan mempengaruhi pribadi dan budi pekerti seseorang. Dan tak kalah penting adalah selektif dalam memilih teman atau lingkungan.

Lingkungan keluarga tertutup tanpa disadari bahwa proses tersebut kurang tepat. Perilaku keluarga yang tertutup hanya akan mengkerdilkan wawasan anak. Anak harus diajak untuk bermain dan bergaul dengan teman-teman lain yang heterogen, dengan pemeluk agama lain, dengan suku lain, dan jika ada kesempatan bergaul dengan anak dari warga negara lain. Perbedaan yang disikapi sebagai hal yang tidak baik hanya akan menjadi masalah. Kemajemukan dalam masyarakat harus disikapi dengan terbuka dan saling menghormati. Mari kita bekerjasama untuk mewujudkan Islam yang harmonis. Wallahu A’lam. 

BAGI
Artikel SebelumnyaBerhias Untuk Isteri
Artikel BerikutnyaTeologi UN