Psikologi Korupsi

0
115 views

Setiap orang yang melakukan suatu tindakan pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa ia melakukan perbuatan tersebut. Dalam istilah psikologi hal tersebut dikenal dengan istilah defence mechanism of ego (mekanisme pertahanan diri) yang diantaranya adalah dengan rasionalisasi. Dengan melakukan pembenaran rasio tersebut maka ia telah berkompromi dengan dirinya sehingga merasa nyaman dengan pilihannya.

baltyra.comPada dasarnya semua manusia bisa membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar, dan mana yang salah karena sudah dibekali potensi fitri dalam hatinya. Sebagaimana firman Allah dalam surah asy-Syams ayat 8 – 10: “Faalhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa.Qad aflaha man zakkaahaa. Wa qad khaaba man dassaahaa” (maka Dia mengilhamkan kepadanya [jalan] kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya [jiwa itu]. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya).

Banyak contoh yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan hal tersebut. Seorang pelacur misalnya, apalagi ditanya bagaimana jika anak perempuannya atau ibunya dilacuri oleh orang lain pasti ia akan menjawab tidak mau. Itu artinya bahwa dalam hatinya yang paling dalam ia tahu bahwa perbuatan tersebut tidak benar, melanggar susila, hukum dan agama. Permasalahnnya kemudian adalah mengapa ia tetap melakukan perbuatan kotor tersebut. Secara umum biasanya mereka terpaksa melakukan kenistaan itu karena terbentur kondisi, sudah putus asa tidak mampu mencari pekerjaan lain sementara ia harus memenuhi kebutuhan hidupnya atau membiayai sekolah anaknya. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam pasti ia tidak menginginkan anaknya berbuat seperti dirinya sambil berharap semoga anaknya menjadi anak shaleh dan bisa mendoakannya kelak sehingga dosa-dosanya terampuni.

Begitu juga halnya dengan korupsi. Dalam pandangan agama korupsi jelas tidak dibenarkan dan hukumnya sama dengan mencuri karena mengambil hak orang lain.

Pertanyaan yang selalu muncul, mengapa orang yang secara materi berlimpah dan kaya raya masih saja melakukan korupsi?

Kalau kita merujuk ayat di atas maka pelaku korupsi tersebut telah mengotori jiwanya, menenggelamkan potensi kabaikan dalam hatinya. Setiap orang sangat potensial tergoda dan tergelincir untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh nalar sehat dan agama. Kondisi kejiwaan manusia sungguh sangat fluktuatif, selalu bergelombang naik dan turun. Itulah yang disebut emosi yang dalam bahasa Arab disebut qalbu (bolak-balik).

Begitulah kondisi hati manusia sangat mudahnya terpengaruh sehingga suasana kejiwaan seseorang cepat sekali berubah sesuai dengan stimulus yang mesti direspons. Ketika dihadapkan dengan situasi panas ia mengeluh kepanasan dan berharap hujan akan segera turun dan ketika dikasih hujan maka ia mengeluh kedinginan dan berharap ada matahari segera menampakkan sinarnya. “Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan keluh kesah.”  Mereka yang kaya raya, bingung dan gelisah karena kekayaannya. Sebaliknya, yang miskin selalu mengeluh karena kemiskinannya. Yang memiliki jabatan dan kekuasaan tinggi selalu dibayangi perasaan cemas akan datangnya waktu berakhirnya kekuasaan yang dimilikinya sekarang. Yang masih di bawahnya, penasaran ingin sekali merasakan posisi di atasnya lagi. Kalau kita tidak pandai bersyukur maka yang ada di pikirannya hanyalah andai begini, andai begitu, dsb.

Disinilah perlunya pengendalian diri (self-control). Ketika seseorang tidak mampu mengendalikan jiwa sehingga dirinya lebih didominasi oleh dorongan nafsu untuk mengejar kesenangan semata (pleasure principle), sesungguhnya dia terjebak hidupnya pada level hewani (animality), gagal menjadikan nilai dan kualitas insani (humanity). Pribadi yang demikian itu jiwanya sakit, meski lahiriahnya kaya, sesungguhnya jiwanya miskin. Meski cerdas secara intelektual, tetapi bodoh secara moral. Dia tidak sanggup menaikkan kualitas dan komitmen hidupnya pada level lebih tinggi, yaitu pada tataran humaniti yang ditandai dengan sikap selalu mengutamakan nalar sehat dan setia pada bisikan nurani.

Bagaimana membuat jiwa sehat dan selalu setia pada nalar sehat dan nilai-nilai moral? Tentunya ini harus dilatih secara kontinu dan sedini mungkin baik oleh keluarga ataupun pihak sekolah perlu kerjasama yang baik dalam hal menanamkan pendidikan moral berbasis aqidah islamiyah. Sehingga ketatannya pada norma hukum, susila dan agama bukan hnya krena takut hukuman duniawi. Tetapi sebalikya di mana pun dan kapan pun ia berada ia selalu waspada, hati-hati dalam menjaga sikap dan perilakunya agar tidak menggangu dan merugkan orang lain. Karena dia merasa selalu diawasi oleh Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui, Allah swt. Wallahu A’lam.