Psikologi islam: Sebuah Pengantar

0
241 views

Allah menciptakan manusia dengan ilmu-Nya Yang Mahatinggi. Begitu kompleksnya manusia sehingga banyak sendi dalam dirinya masih belum dipahami dengan jelas. Maka dari itu, Allah dan Rasulullah menganjurkan kita untuk berpikir. Proses berpikir ini akan membawa kepada pemahaman hakikat penciptaan kita, yaitu untuk menyembah-Nya.

 

Manusia merupakan makhluk yang bisa dibilang unik. Dia sama sekali berbeda dengan binatang ataupun malaikat. Manusia tidak bisa dikatakan sebagai manusia apabila dia tidak memiliki unsur ‘kebinatangan’ maupun ‘kemalaikatan’. Atau dalam terminologi sufistik biasa disebut dengan unsur lahuut (keilahian atau ketuhanan) dan unsur nasuut (kemanusiaan yang cenderung memperturutkan hawa nafsu). Unsur ‘kebinatangan‘ adalah dimensi fisiologis beserta berbagai kebutuhannya. Sedangkan unsur ‘kemalaikatan’ adalah dimensi psikologis beserta berbagai kebutuhannya.

Potensi ruhani dan jasadi tersebut ketika menyatu dalam tubuh manusia maka ia disebut nafs (jiwa). Jiwa inilah yang menjadi objek bahasan dalam psikologi Islam. Oleh karena itu, kajian kejiwaan dalam Islam sering disebut sebagai ilmu nafs, yang kalau di-indoneia-kan menjadi psikologi Islam. Meskipun ada juga yang mengistilahkannya dengan nafsiologi diantaranya Sukanto MM, namun penggunaaan istilah ini kurang begitu familiar. 

Kedua unsur yang berbeda bentuk, sifat dan karakter kemudian saling tarik-menarik dalam jiwa manusia. Oleh karena itu, meskipun manusia sudah dibekali potensi fitrah yang bersifat suci dan haniif dari ruh yang ditiupkan langsung oleh Allah saat pertama kali ia diciptakan, Allah juga mengirim rasul dengan membawa kitab-kitab-Nya untuk memperkuat potensi fitri tersebut sampai akhir zaman. Hal ini merupakan bukti rahman-rahimnya Allah kepada manusia dalam rangka membendung hawa nafsu yang selalu mengikuti pleasure principle (prinsip kesenangan fisik), yang selalu dihembuskan oleh syetan.

 Al-Qur’an, sebagai salah satu kitab Allah menuju iman yang benar dan perilaku yang berbudi, memberikan pandangan berharga tentang manusia dan sifatnya. Walaupun demikian, al-Qur’an tidak memusatkan perhatiannya pada aspek-aspek fisis dan biologis manusia; atau, paling tidak, aspek ini bukan merupakan perhatian utama al-Qur’an. Tabiat psike (jiwa) manusialah -aspek sosial, moral, dan spiritualnya-yang membentuk tema sentral wacana al-Qur’an tentang jiwa manusia. Namun demikian, keduanya harus berjalan seimbang karena Nabi saw juga mengingatkan kita untuk tidak melupakan dunia.

Ketika manusia hanya memenuhi kebutuhan fisiologis semata, maka ia tak ada bedanya dengan binatang ternak, bahkan masih lebih sesat lagi. Allah berfirman dalam surah al-A’raaf ayat 179: “Dan sungguh akan Kami isi neraka Jahannam dengan banyak kalangan Jin dan Manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untut memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.”

Begitu juga sebaliknya apabila manusia hanya memenuhi kebutuhan psikologis dan mengabaikan kebutuhan fisiologis, maka cara hidup seperti ini benar-benar dikecam oleh Islam. Misalnya saja, syari’at Islam dengan tegas melarang seorang yang ingin menempuh cara hidup monistik (membujang seumur hidup). Islam melarang cara hidup seperti ini karena bertentangan dengan fitrah manusia yanga memiliki motivasi seksual. Demikian juga halnya dengan seseorang yang ingin berpuasa terus menerus (wishaal) tanpa makan sahur dan berbuka, Islam melarangnya karena melanggar hak tubuh untuk mendapatkan energi dari makanan dan juga melanggar hak isteri apabila ia sudah berkeluarga.

Pengetahuan tentang diri adalah pengetahuan yang terpenting. Sabda Nabi saw., “Siapa mengenal dirinya, dia mengenal Tuhannya“, dengan jelas mengukuhkan hal itu. Dan inti dari kedirian manusia bukanlah segi fisiknya, melainkan segi jiwa (psike)-nya.

Dalam upaya pencarian pengetahuan tentang jiwanya, manusia modern -termasuk sebagian kaum Muslim-tampaknya cenderung lebih percaya pada ilmu psikologi/filsafat Barat darpada al-Qur’an. Padahal, sebagai kitab yang sempurna, tidak mungkin al-Qur’an berdiam diri tentang hal yang amat penting ini. Dengan mengkaji ajaran Islam secara mendalam,sesorang sebenarnya akan sampai pada pemahaman yang benar tentang manusia.

Ternyata paham materialistik sangat mempengaruhi berbagai metode pembahasan maupun metode penelitian yang ditempuh sebuah disiplin ilmu, begitu juga dengan Psikologi. Sesuatu tidak dianggap ilmiah apabila tidak bisa diobservasi secara empiris (berdasarkan pengalaman dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan). Hal-hal yang bersifat intuitif (bisikan hati) dianggap tidak mewakili kriteria ilmiah. Oleh karena itu, tidak heran kalau produk ilmu yang tersusunnya hanya bersifat parsial.

Bermula dari kriteria ilmiah inilah akhirnya timbul beberapa kekecewaan diantara pemerhati studi Psikologi yang memang lahir di dunia Barat. Ilmu yang semula mereka anggap mampu memberikan solusi tuntas seputar kejiwaan manusia malah memunculkan masalah baru dengan semakin banyaknya kerusakan lingkungan, perlombaan senjata, kriminalitas, dan lain sebagainya. Kesemua itu bermula dari krisis jati diri serta makin rendahnya penghayatan agama. Berkembangnya masalah kemanusiaan tersebut harus diperhatikan secara seksama terutama oleh para pakar ilmu. Termasuk pula bidang psikologi, maka perlu dikembangkan beragam pendekatan yang efektif dan terobosan-terobosan baru untuk menghadapinya. Begitu ungkap Hanna Djuumhana Bastaman, seorang Psikolog UI kenamaan.

Berangkat dari kekecewaan tersebut, lahirlah inisiatif di kalangan psikolog muslim untuk merubah metode yang dipergunakan studi Psikologi. Mereka berinisiatif untuk menggunakan instrumen yang tidak hanya bersifat empiris.

Akhirnya, kita bisa melihat dan merasakan begitu pentingnya dimensi spiritual ini sebagai sumber dari segala potensi, bakat, sifat maupun kualitas insani seperti hasrat untuk hidup bermakna, hati nurani, keindahan, keimanan, cinta kasih dan banyak lagi. Selain itu juga, dimensi ruhani manusia adalah sumber kesehatan yang tidak pernah sakit sekalipun orangnya menderita sakit secara fisik dan mental. Daya keruhanian ini umumnya tidak disadari dan inilah yang perlu lebih disadari untuk meraih kehidupan yang lebih baik sesuai dengan tuntunan ilahi.

BAGI
Artikel SebelumnyaPesan Sosial dalam Ibadah
Artikel BerikutnyaMiskin