Profil Dai

0
28 views

Dakwah merupakan usaha menyeru, mengajak dan mengarahkan manusia dari kehidupan yang tidak Islami kepada yang Islami. Pada dasarnya, tugas ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim, siapapun dia dan apapun latarbelakangnya. Tapi, dalam konteks pembahasan kita, dai yang dimaksud adalah yang menyampaikan ceramah dan khutbah di masjid dan forum sejenisnya.

Dalam berdakwah, tentu saja seorang dai menghendaki keberhasilan, dan ukuran keberhasilan dakwah adalah terjadinya perubahan pada diri orang yang didakwahi dari kehidupan yang tidak baik kepada kehidupan yang baik, dari benci kepada Islam kepada mencintai. Tegasnya, objek dakwah bisa berubah dari keadaan yang apa adanya kepada yang seharusnya sebagaimana dikehendaki oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

Asep Muhyidin dalam artikelnya berjudul Dakwah Perspektif Al Quran mengemukakan rahasia perintah dakwah dalam surat An nahl ayat 125. Kata beliau: “Kalau dikaji melalui pendekatan munasabah ayat dengan nama surah, ternyata ada keserasian yang mengisyaratkan bahwa para pelaku dakwah (dai) harus bercermin pada prinsip-prinsip lebah (an nahl), antara lain sebagai berikut: (1) mata pencaharian yang akan menjadi konsumsi dai harus halalan thayyiban sebagaimana lebah selalu mengisap makanan yang baik dan secara selektif; (2) prilaku dai harus bermanfaat dan memberi solusi bagi kehidupan sebagaimana lebah selalu memproduksi madu yang sangat bermanfaat (Kajian Dakwah Multiperspektif, Rosda, Bandung, Hal 21)

Oleh karena itu, seorang dai paling tidak harus memenuhi tiga kriteria.

Memiliki Kepribadian Yang Shaleh.

Kepribadian yang shaleh membuat tidak terjadi kontradiksi antara pesan dakwah dengan sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Ini berarti, pada dasarnya akhlaq seorang dai tercermin dari pesan-pesan dakwah yang disampaikannya. Jika dalam dakwahnya ia berpesan agar manusia menegakkan shalat, maka shalat itu memang sudah dilaksanakannya, kalau ia menganjurkan orang untuk berinfaq, maka infaq memang sudah dilaksanakannya. Begitulah seterusnya.

Manakala terjadi kontradiksi antara apa yang dikatakan dengan prilakunya sehari-hari, seorang dai bukan hanya tidak akan memperoleh nilai yang baik dari Allah, tapi dia malah mendapatkan murka dari Allah swt, sebagaimana dalam firman-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ.كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ.

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (QS Ash shaf [61]:2-3).

Bahkan lebih tegas lagi, orang yang demikian dianggap oleh Allah seperti orang yang tidak punya akal, sebagaimana firman Allah:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ.

Mengapa kalian suruh orang lain (melakukan) kebajikan, sedangkan kamu melupkan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat) maka tidakkah kamu berakal? (QS Al Baqarah [2]:44)

Paling kurang ada lima sifat yang berkaitan dengan kepribadian seorang dai yang harus ada pada dirinya.

Hubungan Yang Dekat Kepada Allah

Dai adalah pembawa misi dari Allah swt. Karena itu mutlak bagi seorang dai untuk memperkokoh hubungan yang dekat kepada-Nya, apalagi dakwah itu sendiri memang bermaksud mendekatkan manusia kepada Allah swt. Hubungan yang dekat dari seorang dai kepada Allah swt adalah dalam bentuk tumbuhnya perasaan pada dirinya akan selalu merasa dilihat atau diawasi oleh Allah swt. Tumbuhnya perasaan ini membuat seorang dai  tidak berani melakukan penyimpangan atau penyelewengan dari jalan yang telah ditentukan-Nya, ini yang memang dikehendaki oleh-Nya sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ اْلأَ مْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ.

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari suatu urusan, maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).

  1. Ikhlas Dalam Berdakwah

Dakwah Islam tentu saja menuntut adanya keikhlasan. Ini berarti, seorang dai harus berdakwah hanya semata-mata karena Allah swt. Manakala keikhlasan telah tertanam, maka seorang dai akan terus melaksanakan tugas dakwahnya meskipun banyak orang yang tidak menyukainya, bahkan dia tetap akan berdakwah meskipun tidak ada orang yang memujinya dan juga tidak akan bertambah semangat dalam berdakwah karena mendapat pujian dari manusia.

Dengan keikhlasan, seorang dai akan melaksanakan tugas dakwah  dengan hati yang ringan meskipun sebenarnya tugas yang dilaksanakan itu berat, sebaliknya, tanpa keikhlasan, meskipun ringan tugas yang akan dilaksanakan, dia akan merasakan sebagai sesuatu yang berat. Perintah harus berlaku ikhlas terdapat dalam firman Allah:

 

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُواالزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan penuh keihlasan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (QS Al Bayyinah [98]:5).

Sabar Dalam Berbagai Keadaan

Dakwah merupakan tugas yang secara duniawi bisa dirasakan enak dan tidak. Dakwah menjadi enak dari sisi duniawi apabila banyak orang yang mengikutinya, para pengikut itu kemudian memberikan penghormatan kepada sang dai, baik dari segi status sosial sampai kepada materi sehingga tidak sedikit para dai yang telah mencapai kecukupan materi bahkan kelebihan. Namun sebaliknya dakwah adakalanya memperoleh hal-hal yang tidak menyenangkan, hal-hal yang tidak enak seperti caci maki, permusushan, pemboikotan sampai kepada pembunuhan.

Terlepas dari enak dan tidak enak, seorang dai yang baik akan selalu sabar menghadapinya, sabar dalam arti tetap berpendirian pada yang benar. Kesulitan tidak membuatnya putus asa dari kemungkinan mencapai keberhasilan dakwah dan kesenangan tidak membuatnya menjadi lupa diri hingga tidak berani lagi mengatakan dan menegakkan yang haq (benar). Kesabaran seperti inilah yang membuat seorang dai akan memperoleh keberuntungan dunia maupun akhirat, Allah swt berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (QS. Ali Imran [3]:200).

Menggunakan Pembicaraan Yang Baik

Tugas utama dari dakwah adalah penyampaian ajaran Islam. Salah satu bentuk penyampaiannya adalah melalui pembicaraan. Karena itu seorang dai harus berbicara dengan kata-katanya yang baik, baik menyangkut isi pembicaraan, pilihan kata yang tepat dan gaya bicara yang sesuai dengan misi dakwahnya.

Kemampuan seorang dai menggunakan pembicaraan yang baik membuat dia termasuk orang yang mampu membuktikan keimanannya kepada Allah swt dan hari akhir, dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِفَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْلِيَصْمُتْ.

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam.(HR. Bukhari dan Muslim)

Memiliki Kesungguhan Dalam Berdakwah

Dakwah sebenarnya tugas yang berat, karena itu tidak sedikit orang yang telah berjatuhan dari jalan dakwah, baik berjatuhan karena hal-hal yang menguntungkan dirinya seperti pengaruh di masyarakat yang semakin besar, penghormatan masyarakat kepadanya yang kadangkala berlebihan maupun jatuh karena hal-hal yang merugikan dirinya seperti beban dan tanggung jawab yang terlalu besar dan sebagainya. Dalam kaitan ini seorang dai sangat dituntut untuk memiliki kesungguhan dalam berdakwah sebab dengan kesungguhan itulah jalan yang licin dan mulus bisa dilalui dengan baik tanpa melakukan penyimpangan atau hal-hal yang tidak wajar dan hal-hal yang tidak menyenangkan bisa dihadapi dengan hati-hati tanpa harus berputus asa.

Manakala seorang dai bisa memiliki kesungguhan, maka dia akan memiliki kesanggupan untuk menanggung segala resiko. Kesungguhan membuat seorang dai akan berjuang dengan sebenar-benarnya, hal ini karena dia memang yakin bahwa Allah swt tidak bermaksud menyempitkan hati dan pikiran hamba-hamba-Nya yang berjuang, Allah swt berfiman:

وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ.

Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (QS.Al Hajj [22]:78).

Memiliki Wawasan Yang Luas.

Salah satu sisi dakwah yang amat penting adalah memberi pemahaman tentang Islam secara utuh dan pencerahan bagi umat Islam. Maka segala daya dukung ke arah itu harus dimiliki oleh para dai. Karena itu, wawasan yang luas harus dimiliki oleh para dai.

Wawasan Keislaman.

Seorang dai harus memiliki wawasan Islam yang utuh, satu kesatuan. Bila Islam hanya dipahami bagian-bagian yang terpisah, dikhawatirkan para dai mengajarkan Islam yang terpilah-pilah. Efeknya, ia menekankan satu aspek dan mengabaikan aspek lainnya.

Wawasan Kemasyarakatan.

Dakwah berhadapan dengan masyarakat. Mulai dari anak kecil hingga lanjut usia, laki-laki dan wanita, orang kaya dan miskin, penduduk asli dan pendatang dan seterusnya dengan segala keragamannya. Memahami masyarakat dari berbagai sisi menjadi sangat penting agar dalam dakwah kita bisa menyesaikan dengan kondisi mereka, termasuk dari sisi kejiwaan dan pilihan materi yang tepat.

Wawasan Ilmu Pengetahuan.

Perkembangan ilmu pengetahun sangat pesat. Para dai penting sekali mengetahuinya meskipun tidak banyak. Hal ini, karena agama harus dihubungkan dengan ilmu pengetahuan, bahkan ilmu pengetahuan seringkali menguatkan kebenaran ajaran Islam. Disamping itu, dari sisi hukum, hal-hal yang berkembang dalam ilmu pengetahuan seringkali ditanyakan dari sisi agama, seperti hukum bayi tabung, donor organ tubuh dan sebagainya.

Wawasan Kebahasaan.

Penyampaian pesan dakwah dilakukan dengan menggunakan bahasa yang baik. Karena itu, wawasan kebahasaan menjadi penting bagi para dai. Wawasan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dimiliki agar pesan-pesan mudah dipahami sehingga objek dakwah tidak salah paham, apalagi gagal paham. Pengucapan bahasa asing serta Arab dan Inggris juga jangan sampai dan yang amat penting adalah memahami filosofi suatu kata dalam istilah Islam agar dapat menjelaskan secara utuh makna dan maksud dibalik suatu kata seperti taqwa, tawakkal, dll.

Wawasan Kekinian.

Hal-hal yang berkembang pada masa sekarang juga penting untuk diikuti oleh para dai. Yang baik bisa menjadi ilustrasi dan penanaman nilai kebaikan, sedangkan yang buruk harus diluruskan agar tidak menjadi tren dan budaya yang buruk. Selain itu, tidak sedikit orang yang bertanya dari sisi hukum atau memiliki problem yang harus dipecahkan terkait dengan hal-hal yang berkembang pada masa sekarang.

Situasi dan kondisi masa sekarang yang terus berkembang seringkali menuntut penyikapan dari sisi agama Islam, maka para dai harus berkontribusi memberikan arahan yang membuatnya harus memahami persoalan kekinian.

Memiliki Kemampuan Tehnik Berdakwah

Dakwah merupakan upaya mengkomunikasikan ajaran Islam kepada orang lain. Harapannya terbentuk kesamaan pemahaman, sikap dan tingkah laku sesuai dengan pesan-pesan dakwah itu sendiri. Karenanya para dai harus memiliki kemampuan teknis dalam berdakwah, antara lain:

Kemampuan menganalisa jamaah dan situasi serta kondisinya sehingga dapat dipilih dan ditentukan tema pembahasan yang sesuai dan dibutuhkan. Misalnya, tema kewajiban suami isteri tidak cocok buat anak SMP dan SMA, tema kewajiban dan keutamaan membayar zakat tidak tepat untuk jamaah yang semuanya miskin, dan begitu seterusnya.

Kemampuan merumuskan materi dakwah yang singkat dan sesuai dengan waktu yang tersedia, padat sehingga memiliki kadar keilmuan dan sistematis sehingga teratur urutan pembahasannya. Kemampuan ini membuat para dai tidak kehabisan materi, bahkan bisa mengembangkan materi yang ada.

Kemampuan menyampaikan materi dengan menarik, mulai dari pembuka, pembahasan hingga penutup. Intonasi, penyegaran suasana, bahasa tubuh, titik tekan, ilustrasi, fokus pada pembahasan dan pengembangannya merupakan hal-hal yang harus mendapat perhatian.

BAGI
Artikel SebelumnyaLa Tay’as
Artikel BerikutnyaAlpa