Posmodernisme dan Kebangkitan Agama

0
7 views

Pada era modern, agama dipandang sebagai kerangkeng yang membelenggu kebebasan manusia, ditambah lagi dengan anggapan bahwa argumentasi agama didominasi oleh argumentasi yang tidak bersandar pada reason. Kebangkitan rasio yang mewarnai zaman modern merupakan bentuk perlawanan atas otoritas gereja yang begitu kuat pada zaman pertengahan.

Kebangkitan rasio dalam zaman modern – bisa dikatakan – berawal dari Descartes (1596-1650) dengan diktumnya “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada). Gagasan Descartes adalah membangkitkan kesadaran manusia dari belenggu di luar dirinya. Manusia adalah dirinya sendiri, yang dengan kesadarannya mampu menemukan kebenaran-kebenaran yang tidak lagi bersifat intuitif, ilusif, dan imajinatif.

Gagasan kesadaran Descartes menjadi warna yang sangat kuat dalam perkembangan modernitas. Sebagai suatu bentuk kesadaran, modernitas dicirikan oleh tiga hal, yaitu subjektivitas, kritik, dan kemajuan. Melalui subjektivitas, manusia menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Dari sini, teosentrisme yang dianut oleh zaman pertengahan digantikan oleh antroposentrisme. Kesadaran subjectum menemukan bentuknya yang paling ekstrem dalam eksistensialisme yang menilai manusia berdasarkan apa yang bisa dia lakukan untuk dirinya sendiri.

Prinsip yang kedua adalah kritik sebagai bentuk perlawanan atas dominasi suatu otoritas tertentu. Dengan kritik, rasio tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang (belenggu) tradisi. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tatanan tradisi atau otoritas. Kant memandang bahwa reason menjadi alasan utama manusia dapat menemukan dan membangun prinsip-prinsip pengetahuan dan melakukannya tanpa adanya belenggu dan keterkungkungan dari sesuatu yang absolut.

Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengarahkan pada kemajuan (progress) yang ditandai dengan perkembangan sains dan teknologi sebagai suatu hasil dari eksplorasi total manusia akan kemampuan akal budinya, dan ini juga menjadi simbol keterbebasan manusia dari ikatan-ikatan tradisional. Modernitas kemudian bisa dipandang sebagai bentuk pemberontakan intelektualitas secara terus-menerus atas segala bentuk tradisionalitas abad pertengahan. Agama, metafisika dan ontologi yang sebelumnya menjadi sumber pengetahuan dan sekaligus sebagai sandaran kebenaran digantikan dengan “kesadaran akan diri”, rasionalitas, dan sains. Agama semakin terpinggirkan, bahkan pada akhirnya dianggap layaknya setumpuk ajaran yang membius kesadaran dan melahirkan penyakit bagi rasionalitas dan manusia modern. Agama hanya menawarkan kesadaran palsu. Freud menganggap agama sebagai bentuk penyakit neurosis, Marx menvonis agama sebagai racun, dan akhirnya Tuhan agama dibunuh oleh Nietzcshe.

Semenjak itu, agama divonis tidak lagi relevan dalam memahami realitas dunia saat ini (modern = newness = kekinian). Kemajuan sains dan teknologi yang telah memberikan kemudahan yang luar biasa bagi kehidupan manusia ikut andil membangun semangat otonomi dan independensi manusia. Kebebasan manusia dari Tuhan diterjemahkan dalam berbagai bentuk, mulai dari yang paling sederhana dengan meninggalkan ajaran agama sampai yang paling ekstrem membunuh Tuhan.

Manusia modern, bagi Nietzsche, adalah manusia yang sanggup untuk berkata “iya” (yes sayer) dalam menghadapi kehidupannya dan melepaskan diri dari kelemahan-kelemahan yang ditutupi oleh selubung transendensi. Menurut Nietzche, agama mengajarkan manusia hanya untuk menjadi budak-budak (hamba sahaya), dan karenanya manusia tidak memiliki dirinya. Untuk itu, agama harus dimusnahkan, demikian juga dengan Tuhan.

Kegagalan Modernitas dan Kebangkitan Agama dalam Posmodernisme

Tidak dapat disangkal bahwa modernitas telah memberikan sekian banyak kemudahan bagi hidup manusia. Sayangnya, secara bersamaan, manusia juga secara pelan-pelan merasakan alienasi dari dirinya sendiri lebih-lebih dari orang lain. Manusia memang menemukan independensinya tetapi kehilangan interdependensinya. Modernitas hanya memberikan kemajuan dari sisi material sementara dari sisi spiritual, manusia semakin mengalami kekeringan. Proyek kesadaran diri yang melahirkan otonomi kebebasan manusia menjadikan manusia sebagai individu-individu, yang berpikir tentang dan akan dirinya sendiri. Modernisasi telah menghadirkan wajah kemanusiaan yang buram. Setelah terpola dalam kehidupan yang mekanistik, muncul kegelisahan dan kegersangan psikologis yang disebabkan oleh tercerabutnya kehidupan spiritual. Akibat yang paling parah adalah terjadinya krisis tentang makna dan tujuan hidup.

Kondisi ini menghadirkan sebuah kesadaran baru, bahwa pandangan dunia yang materialistik dan kapitalistik ternyata tidak cukup untuk membebaskan manusia dari teror dan ketakutannya. Secara positif muncul pandangan dunia posmodern yang secara bersamaan juga melahirkan kesadaran spiritual posmodern. Tentu saja, spiritualitas posmodernisme tidak mengulangi pandangan zaman pertengahan dan modern yang menarik garis demarkasi tegas antara iman dan ilmu. Teologi posmodern mengungkapkan visi religius terhadap dunia, tanpa mengambil sikap anti ilmu dan anti rasional seperti dalam teologi konservatif, atau sebaliknya.

Lahir perhatian kembali terhadap metafisika, terhadap religiusitas dan agama. Derrida, misalnya, menggunakan istilah logosentris sebagai ganti metafisika. Ada semacam asumsi bahwa terdapat esensi atau kebenaran yang berperan sebagai dasar semua keyakinan; oleh karena itu, pasti ada disposisi, kerinduan pada “penanda transendental” yang langsung menghubungkan dengan “penanda transenden” yang stabil, kokoh, yaitu logos. Metafisika didefinisikan berdasarkan oposisi biner, dan menurutnya, selalu dapat didekonstruksi. Dengan pandangan tersebut, Derrida tidak lagi menganggap metafisika sebagai suatu kemestian atau kemutlakan yang tak tersentuh, tetapi metafisika sebagai sesuatu yang bersifat nature. Metafisika adalah konsep yang merujuk pada kehadiran masa kini dan karena itu oposisi biner menunjukkan bahwa satu pengertian tergantung pada dan ada dalam pengertian yang lain.

Posmodernisme secara sadar mendukung faham relativisme dan pluralisme. Yaitu, pandangan bahwa kebenaran itu relatif dan beragam. Meminjam istilah Wittgenstein, setiap kelompok (habitus: dalam istilah Bordieu) memiliki Language games-nya masing-masing; tidak terkecuali agama dan faham tentang Tuhan. Maka, teologi posmodernisme meniscayakan penerimaan dan pengakuan atas keragaman dan pluralisme agama. Dalam perkembangan yang paling dahsyat, mengarah pada inklusivisme agama; dimana setiap agama tidak lagi bisa menganggap klaim kebenarannya sebagai satu-satunya jalan kebenaran, sebab di luar dirinya ada kebenaran yang lain (the others) yang juga harus diakuinya.

Dan teologi, selain merupakan wilayah diskursus, yang tak kalah penting adalah wilayah praksis. Teologi menjadi kehilangan maknanya manakala ia melulu berada dalam diskursus intelektual-spiritual dan kehilangan jejaknya dalam praktek. Dan ketika teologi berbicara tentang hal yang praksis, maka ia lebih tepat disebut sebagai spiritualitas, yang mengandung arti pemaknaan atas nilai-nilai teologis yang diakui dan diyakini.

Penutup

Posmodernisme sunguh telah menghadirkan geliat yang sangat mengharu-birukan bagi kebangkitan agama. Agama tidak lagi dipandang sebagai anak tiri peradaban, yang selama masa modern diasingkan dari wilayah peradaban. Namun harus juga disadari bahwa, kebangkitan agama dalam semangat posmodernisme yang mengusungnya bukan tanpa kekhawatiran. Bagaimanapun juga, konsep dasar agama adalah terpusat pada konsep “ketuhanan” yang menitikberatkan pada suatu kemapanan dan kesempurnaan, sedangkan posmodernisme menggugat semuanya. Belum lagi, pemahaman keagamaan yang sudah terlanjur diyakini oleh masyarakat sangat bercorak deterministik, yang jika tidak berhati-hati akan berbenturan dengan konsep kebebasan yang tetap dipertahankan oleh posmodern sebagai warisan dari modernisme.

Tidak sedikit pula kekhawatiran atas konsep relativisme yang dianut oleh posmodern akan menyeret agama pada kerapuhan. Siapa yang menduga bahwa feminisme Islam akhirnya menuai pertentangan yang cukup besar ketika melahirkan kebebasan “perempuan sebagai imam”, atau siapa yang tidak tersentak ketika satu kelompok membenarkan shalat dengan bahasa “lokal” (kata “lokal” adalah issu sentral yang menguat dalam wacana posmodern).

Bibliography

Damanhuri Fattah (ed.), 10 Filsuf Pemberontak Tuhan, Jakarta, Panta Rhei

David Ray Griffin, Tuhan & agama dalam Dunia Posmodern, terj. Gunawan Admiranto, Yogyakarta, Kanisius, 2005

Donny GA, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan, Jakarta, Teraju, 2002

Eko Wijayanto, Menggagas Teologi Posmodern, dimuat dalam Kompas, 6 Maret 2005

Etienne Gilson, Tuhan di Mata para Filosof, terj. S. G. Sukur, Jakarta, Mizan, 2004

F. Budi Hardiman,  Filsafat Modern, Jakarta, Gramedia, 2004

Hans Kung, Freud vis a vis Tuhan, terj, Edi Mulyono, Yogyakarta, IRCiSod, 2003

Henry Stephen, Jika Tuhan Tidak Ada maka Kita akan Menciptakannya, dalam Jurnal Filsafat Driyarkara, Th. XXVII no. 2

Ian G. Barbour, Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama, Bandung, Mizan, 2005

Madan Sarup, Posstrukturalisme dan Posmodernisme, terj. Medhy Aginta Hidayat, Yogyakarta, Jendela, 2004