Phobia

0
127 views

Oleh Abd. Muid N.

Masing-masing orang atau kelompok mempunyai rasa terancamnya sendiri-sendiri. Dan mereka melengkapinya dengan dalil-dalil, bisa dari teks sakral, data faktual, rumor, bahkan imajinasi. Pilihannya ada dua: mengeliminasinya dari ingatan atau mengembangbiakkannya. Dengan mengeliminasi, masa depan bersama mungkin dibentuk. Dengan mengembangbiakkan, tidak ada tempat bagi masa depan bersama.

Rasa terancam terhadap sesuatu yang asing atau berbeda barangkali sudah menjadi bawaan primitif manusia. Rasa seperti itu hadir sebagai upaya instingtif untuk mempertahankan diri dari agar tidak menjadi mangsa. Sampai ukuran ini, rasa terancam adalah sesuatu yang wajar, bahkan harus ada.

Lalu bagaimana jika justeru rasa terancam itulah yang memangsa; dia bukan lagi insting untuk mempertahankan diri tetapi lebih merupakan mekanisme yang menyerang dan menghabisi sesuatu yang asing? Pada tahap ini, rasa terancam adalah hal yang seharusnya tidak ada.

Mari kita bayangkan bagaimana jika ketakutan terhadap segala yang asing atau berbeda merajalela. Mungkin mulanya, yang ditakuti adalah sesuatu yang benar-benar asing dan berbeda, mungkin makhluk yang berbeda, makhluk yang bukan manusia. Pada tahap selanjutnya rasa terancam mulai merambah sesuatu yang sesungguhnya tidak benar-benar berbeda, tetapi hadir karena dibeda-bedakan. Barangkali di sinilah rasa terancam yang mulanya adalah mekanisme pertahanan diri mulai beruah menjadi mekanisme yang mengancam.

Selain insting yang peka terhadap potensi ancaman dari sesuatu yang asing, manusia juga mempunyai insting primitif yang lain yaitu: ambisi, semacam hal yang menggerakkan potensi menjadi aktual. Lalu bagaimana jika kedua insting tersebut bertaut? Atau bagaimana jika insting ambisi memanfaatkan insting rasa mengancam untuk mewujudkan ambisi-ambisinya? Barangkali di sinilah awal mula insting rasa terancam berubah dari mekanisme pertahanan diri menjadi mekanisme yang mengancam dan membinasakan karena ada pihak lain yang mungkin memiliki ambisi serupa dan berpotensi menggagalkan ambisinya. Pihak lain itulah yang dianggap pihak yang mengancam.

Jika semua yang berbeda dan yang dianggap berbeda telah dimasukkan dalam kotak ancaman, maka tersisalah sekelompok manusia yang sama, tanpa perbedaan sama sekali dan karena itu, di sana tidak ada lagi rasa terancam. Yang ada hanya rasa tenteram. Namun, selain di negeri di awan, di mana lagi ada kelompok manusia seperti itu? Tidak ada.

Tidak mungkin mengandaikan ada sekelompok manusia yang seragam dan tidak saling mengancam. Dinamika senantiasa terjadi. Selalu saja ada kompetisi hingga kelompok yang tadinya tampak seragam dan seia sekata, mulai menunjukkan riak-riak perbedaan. Masing-masing individu yang ada di dalamnya tentu punya ambisi dan setiap individu lain di dalam kelompok itu adalah ancaman bagi perwujudan ambisi individu lainnya. Keseragaman mulai memudar. Rasa berbeda yang menggiring kepada rasa terancam membahana. Ujungnya, bagi sesosok individu, tidak ada satupun yang tidak mengancam di dunia ini selain dirinya sendiri. Jika demikian, kita tidak perlu ada mimpi ruang bersama.

Kini kita punya dua pilihan: mereduksi rasa terancam dari ingatan atau mempertebalnya. Dengan mereduksi, masa depan bersama mungkin dibentuk. Dengan mengabadikan, tidak ada tempat bagi masa depan bersama.[]