Pesan Sosial dalam Ibadah

0
10 views

Salah satu adigum yang cukup popular di telinga kita (ini gara-gara Tukul Arwana :D) adalah “Don’t judge the book from the cover” (jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya). Adigum ini secara bijak ingin mengatakan pada kita bahwa apa yang kita lihat kadang menipu, sebab isinya belum tentu sama dengan tampilan luarnya. Orang yang bertampang sangar, bisa jadi berhati emas. Atau orang yang kelihatan necis dan perlente mungkin saja berhati serigala. Ibarat kata pepatah “air beriak tanda tak mampu” dan “air yang tenang menghanyutkan”.

Dalam urusan keberagamaan, kita banyak mendengar cerita-cerita sufi yang menampilkan ibrah (perumpamaan) orang-orang yang memperoleh balasan berbeda dengan tampilan luarnya. Ada (mohon maaf) pekerja seks komersial (istilah ini sich dulu belum ada) yang ternyata bisa masuk surga hanya karena ia rela memberi semangkuk air minumnya kepada seekor anjing yang hampir mati. Bayangkan! Tapi sebaliknya ada juga seorang ahli ibadah, puasa sunnahnya mantab (pake b), ibadahnya ok, tapi dia masuk neraka hanya karena suka nyakitin orang lain dengan hujatan dan membicarakan keburukan orang. Bayangkan lagi…. luar biasa kan!

Kita akhirnya bertanya-tanya, koq bisa ya? Bukankah sang ahli ibadah itu, kalaupun dia punya salah karena menggunjing orang, nilai ibadahnya bisa menutupi kesalahannya, sehingga tidak perlu masuk neraka? Atau, masa iya sich, sang PSK yang sudah bergelimang dosa itu bisa dimaafkan hanya karena semangkuk air buat seekor anjing?

Ok, tidak perlu kita pusingkan benar atau tidak cerita itu, mari kita menelisik pesan cerita-cerita di atas yang sudah mengganggu labirin keimanan kita.

Kita mulai dari pertanyaan dasar, “untuk apa kita hidup?”. Sebagai orang beriman, jawaban kita adalah untuk beribadah, sebab itulah yang difirmankan Allah tentang makhluk-Nya. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS. adz-Dzaariyaat [51]: 56). Artinya, seharusnya setiap gerak tubuh kita, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, diproyeksikan untuk beribadah kepada Allah, dalam makna dan bentuk yang seluas-luasnya. Tapi dari sini kita meningkat pada pertanyaan selanjutnya, “Untuk apa Allah menyuruh kita ibadah?”. Toh, Allah sendiri mengatakan bahwa kemuliaan-Nya tidak berkurang meski tidak ada yang menyembah-Nya, sebaliknya tidak bertambah kalau semua orang menyembah-Nya. It’s meaning, Allah tidak butuh dengan semua peribadatan yang kita lakukan, karena Diri-Nya sudah sedemikan sempurna dengan segala sifat ke”maha”an-Nya.

Kalau begitu, pasti ada maksud lain yang tersembunyi di balik perintah beribadah itu selain makna “penghambaan diri kepada sang Khalik (Pencipta/Allah swt)”.

Mari, saudara-saudara, kita menjelajah ayat-ayat yang memuat perintah ibadah utama, yaitu shalat, sebab Shalat kita tahu bersama merupakan tiang agama. Dalam sebuah Hadis dah ditegaskan bahwa di hari kiamat nanti hal yang pertama dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Kalau shalatnya baik maka amal-amalnya yang lain juga baik, tapi kalau shalatnya rusak, yang lain juga ikut rusak. Dari segi teologis, shalat bisa disebut sebagai supreme duty (puncak kewajiban/kewajiban utama yang menentukan kewajiban-kewajiban lainnya). Yang menarik, redaksi hadis yang kita kutip di atas, menyebutkan jika shalatnya baik (shaluhat) dan jika shalatnya rusak (fasadat). Kedua kata ini, kalau kita renung-renungkan secara dalam me-refer ke banyak makna. Baik atau tidaknya shalat itu bisa karena secara syar’i tidak terpenuhi syarat dan rukunnya, tetapi juga bisa dalam makna tidak terpenuhinya substansi dari shalat itu.

Dalam realitas kita kadang-kadang ada orang yang kita kenal rajin ibadah, shalatnya kita tahu suka berjamaah di masjid, tetapi sikapnya tidak seiring sejalan dengan ketaatannya beribadah. Nah, di sini masalahnya man. Al-Qur’an dari awal sudah menginformasikan bahwa shalat itu mencegah seseorang dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al-’Ankabuut [29]: 45).

Kata “Keji” (al-fahsyaa) menunjuk kepada makna perbuatan-perbuatan tercela yang berhubungan dengan muamalah (hubungan kemanusiaan dan kealaman,  hubungan horizontal), sedangkan kata “munkar” (al-munkar) lebih kepada perbuatan yang berhubungan dengan aqidah (Tuhan, hubungan vertikal). Jadi, seharusnya orang yang rajin shalat tidak hanya membangun hubungan yang harmonis antara dirinya dengan Allah yang dia sembah, tetapi juga dengan manusia lain termasuk alam semesta; bahkan dengan dirinya sendiri.

Ini yang kadang-kadang ngga termaknai dalam ibadah kita. Shalat lebih kita pahami sebagai komunikasi personal antara kita dengan Allah, padahal menurut saya sich tidak hanya itu. Memang, saat shalat kita sedang berdialog langsung dengan Allah; juga benar bahwa shalat itu berarti mengingat Allah (QS. Thaaha [20]: 14); juga benar bahwa dalam shalat kita harus khusyuk (salah satu maknanya adalah menghadirkan kesadaran akan perjumpaan dengan Allah (QS. Al-Baqarah [2]: 45-6). Tetapi, shalat bukan hanya antara kita dengan Allah.

Seandainya shalat itu hanya antara kita dengan Allah, maka Allah tidak akan mencap sebagai pendusta agama terhadap orang-orang yang melalaikan substansi shalatnya (QS. al-Maa’uun [117]: 4). Dan orang yang disebut sebagai pendusta agama itu adalah mereka yang 1) sering menghardik anak yatim (makna “sering” ini dipahami dari fi’l mudhari’/kata kerja sekarang/present tense pada kata “yadu’u – jadi kalau cuma sesekali dan untuk tujuan yang baik masih dimaklumi lah) (QS. al-Maa’uun [117]: 2); dan 2) enggan memberi makan atau menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin (QS. al-Maa’uun [117]: 3). You see that. Alasan-alasannya bukan alasan yang berbasis vertikal, tetapi horizontal. Artinya, substansi shalat kita bisa hancur lebur karena kelalaian kita atas pesan-pesan sosial itu, meskipun secara syar’i kita sudah melaksanakan shalat lengkap dengan syarat dan rukunnya. Alias shalat kita dinilai tidak baik/rusak (fasadat).

Jadi, IMHO (in my humble opinion) kata shaluhat dan fasadat dalam Hadis yang disebutkan di atas tadi harus mencakup kedua makna ini: 1) makna syar’i, yaitu terpenuhi segala syarat dan rukunnya; dan 2) makna sosial, yaitu terbangunnya sifat empati terhadap orang lain, bukan hanya mencegah diri dari perbuatan keji dan munkar. Bahasa lainnya, tidak sekadar “defensif” dari keburukan tetapi juga “ofensif” untuk melakukan kebaikan.

Lebih jauh, shalat itu pan mengingat Allah (QS. Thaha [20]: 14). Untuk mengingat Allah tentu saja kita jangan dibatasi hanya dalam hitungan sekian menit antara takbir dan salam. Kita harus shalat sepanjang hari. Substansi shalat, yaitu menarik diri dari keburukan dan mendekat pada kebaikan, harus menjadi aura yang terpancar dalam setiap gerak hidup kita, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Nah kalau sudah begitu, shalat, secara substantif, tidak lagi semata-mata antara kita dengan Allah, tetapi antara kita, Allah, dan makhluk Tuhan yang lain (Me, Allah, and the Others). Shalat juga bukan sebatas dilaksanakan, tetapi didirikan. Makanya, orang-orang yang mendapat pujian dan janji baik dari Allah atas ibadah shalatnya ditunjuk dengan kalimat muqiimush shalaah (QS. Al-Hajj [22]: 35). Sementara mereka yang lalai atas makna substantifnya dan dicela oleh Allah hanya disebut sebagai mushalliin (QS. Al-Ma’un [117]: 4). Wallahu a’lam.[]