Perlukah Negara Islam?

0
32 views

Abd. Muid N .

Perlukah negara Islam? Ada benang merah yang menghubungkan antara NII dengan radikalisme beragama dalam konteks kenegaraan Indonesia, yaitu adanya cita-cita untuk mendirikan sebuah “negara Islam.” Oleh beberapa negara, ide negara Islam adalah ide subversif dan karena itu, pemrakarsanya layak dijebloskan ke dalam penjara. Namun di Indonesia tidak persis seperti itu. Sebagai sebuah ide dalam sebuah negara demokrasi, upaya pendirian negara Islam tidak bisa disebut salah apalagi sesat. Namun sebagai sebuah ide yang hidup dalam sebuah negara demokratis (pula), maka ide seperti itu seperti memasuki sebuah pasar bebas ide-ide yang mau tidak mau, harus tunduk pada mekanisme pasar demokrasi.

Ide-ide seperti itu akan terus hidup dan berkembang jika mendapatka respon positif dari rakyat Indonesia. Persoalannya menjadi rumit ketika ide-ide seperti itu disebarkan lewat upaya-upaya tindak kriminal. Bagaimana bisa sebuah ide religius disemai lewat cara-cara yang tidak mengindahkan rambu-rambu moralitas? Uniknya, para pelaku justeru tidak menganggapnya masalah besar, bahkan dalam kondisi tertentu, rambu-rambu moralitas dianggap layak untuk dilabrak. Entah dari mana pemikiran-pemikiran seperti itu berkembang. Mungkin dari asumsi-asumsi bahwa kondisi yang mereka alami disamakan dengan kondisi perang. Bukankah dalam perang segala tipu muslihat menjadi wajar?

Dalam Seminar Sehari “NII dan Radikalisme Beragama” yang diadakan oleh Yayasan Paguyuban IKHLAS pada Kamis, 26 Mei 2011, KH. Hasyim Muzadi (salah seorang narasumber) mengajukan pemikiran yang menarik, namun tentu tidak baru. Menurutnya, ide “negara Islam” itu sendiri tidak mempunyai landasan teologis dan juga hitoris pada zaman Rasulullah. Pandangan ini mengingatkan kita sebuah buku yang bisa jadi klasik berjudul Tidak Ada Negara Islam: Surat-Surat politik Nurcholish Madjid-Mohamad Roem.

Kyai Hasyim melanjutkan, jika yang dimaksud adalah negara Madinah, maka itu bukan negara Islam karena konstitusinya tidak berdasar pada Al-Quran dan Sunnah tetapi pada sebuah pakta bernama: Mîtsâq al-Madînah.

Kyai Hasyim melanjutkan argumennya, dalam konteks Indonesia, negara Islam suda pernah dicoba, baik dengan cara adu argumen lewat Konstituante, maupun lewat medan perang lewat pemberontakan-pemberontakan. Namun Kyai Hasyim berkesimpulan, semua upaya itu tidak pernah efektif, bahkan korbannya adalah rakyat yang beragama Islam. Jika argumen ini dilanjutkan, maka tidak akan ada habisnya karena para pendukung negara Islam juga mempunyai argumen-argumen untuk memperteguh dirinya. Jadi, perlukah negara Islam?

Salah seorang narasumber lainnya, Prof. Dr. Bambang Pranowo mencoba memberi perumpamaan tentang lipstik dan garam. Menurutnya, banyak gerakan Islam dewasa ini sebenarnya sedang memperjuangkan Islam lipstik, yaitu Islam yang tampak menor dan meriah tetapi sebenarnya tidak berisi apa-apa. Bahkan sering isinya lebih buruk dari sistem negara yang ditentangnya. Ternyata ada Islam garam, versi Islam yang disukai oleh Prof. Bambang. Garam tidak mewarnai tapi memberi rasa dan itu yang lebih cocok dengan karakter Indonesia yang sangat majemuk, katanya. Lalu dia bertanya: “Lebih baikmana, menor dan meriah tetapi tidak berisi daripada diam dan tidak ingar bingar tetapi berasa?” Lalu, masih perlukah negara Islam?