Perkawanan Aneh

0
371 views
travelweekly.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Sampai tulisan ini ditayangkan, saya belum pernah ke Makkah. Karena itu, saya pasrah mengutip sebuah tulisan menarik karya Stephen Schwartz yang berjudul “Mecca for Sale” yang dimuat dalam jurnal First Things: A Monthly Journal of Religion and Public Life.[1] Tulisan Schwartz itu membangkitkan kecurigaan saya, jangan-jangan ada perkawanan aneh antara puritanisme religius dengan kapitalisme modern.

Di dalam “Mecca for Sale”, Schwartz berkisah bahwa dahulu sesungguhnya Makkah penuh dengan bangunan bersejarah, terutama bagi peradaban Islam. Namun Wahhabi, aliran keislaman yang meraja di sana, mempunyai penafsiran tersendiri tentang bagaimana tawhîd harus dijaga dan bagaimana kemusyrikan harus diperangi.

Didorong oleh kenyataan banyaknya orang awam yang datang untuk berdoa di tempat-tempat bersejarah tersebut dan itu berarti gangguan bagi kemurnian tawhîd, maka Wahhabi mengambil tindakan yang mereka anggap paling efektif untuk menghentikannya, yaitu menghancurkan bangunan-bangunan itu dan meratakannya dengan tanah.

Tidak tanggung-tanggung, pada suatu waktu di tahun 1989, sebuah situs yang diduga dulunya adalah kediaman Nabi Muhammad SAW bersama isterinya, Khadijah, harus luluh lantak diterkam bulldozer yang berbahan bakar puritanisme ala Wahhabi.

Setelah situsnya hilang, sakralitas bangunan-bangunan itupun ikut menguap. Tapi benarkah kemusyrikan juga ikut padam?

Dan Schwartz melanjutkan ceritanya. Setelah bangunan-bangunan historis dihancurkan, lalu bertumbuhan bangunan-bangunan yang sungguh berbeda. Ada kompleks Abraj al-Bait, yang mencakup Menara Jam Kerajaan Mekah, enam gedung pencakar langit, dan sebuah pusat perbelanjaan besar yang dikembangkan dalam kemitraan dengan jaringan hotel asing.

Lalu ada kompleks Jabal Omar sebagai kompleks luas yang mampu menampung 100.000 orang di 26 hotel mewah dan dilengkapi dengan 4.000 toko dan 500 restoran, serta aula enam lantai tempat beribadah pribadi setinggi enam lantai.

Apa sesungguhnya yang sedang terjadi?

Saya jadi teringat tulisan seseorang yang berbicara sebagai respon kala pusat-pusat perbelanjaan makin ramai dan rumah-rumah ibadah yang semakin sepi. Dia berkata: The new religion is consumerism and massive malls are its cathedrals. Let us bow our heads and pay.[2] Barangkali ungkapan ini adalah gambaran beberapa bagian masyarakat Barat yang memang tampak menyepikan gerejanya dan meramaikan pusat-pusat perbelanjaan. Dan di dalam masyarakat itu, urusan agama dan urusan lainnya memang terpisahkan.

Ada kecenderungan di dalam sebagian masyarakat Muslim untuk tidak memisahkan antara urusan agama dengan semua urusan manusiawi yang lain, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Mereka menganggap sesat pemisahan antara agama dengan hal-hal itu.

Lalu bentuk ketidakterpisahan tersebut mendapatkan contoh sempurnanya di Makkah. Sebagai bukti ketidakterpisahan itu, pusat perbelanjaan dan tempat berpelesir dibuat berdampingan dengan rumah ibadah. Dan agar masyarakat Muslim pun tidak perlu dipaksa memilih antar rumah ibadah dengan pusat perbelanjaan hingga membuat rumah ibadah sepi dan pusat perbelanjaan ramai, maka dijadikanlah keduanya terkoneksi, seiya sekata, saling mendukung satu sama lain, saling menyayangi, dan saling meramaikan.

Benarkah demikian? Saya tidak tahu. Sampai tulisan ini ditayangkan, saya belum pernah ke Makkah. Namun sejujurnya saya curiga ada perkawanan aneh antara puritanisme religius dengan kapitalisme modern.[]

Bacaan

Brian Appleyard, “Shopping Around for Salvation: The New Religion is Consumerism and Massive Malls are Its Cathedrals. Let Us Bow Uur Heads and Pay”, dalam https://www.independent.co.uk/voices/shopping-around-for-salvation-the-new-religion-is-consumerism-and-massive-malls-are-its-cathedrals-1501792.html, diakses pada 26 Juli 2018

Stephen Schwartz, “Mecca for Sale”, dalam First Things: A Monthly Journal Of Religion And Public Life, Feb 2015, hal. 21-22

[1] Stephen Schwartz, “Mecca for Sale”, dalam First Things: A Monthly Journal Of Religion And Public Life, Feb 2015, hal. 21-22

[2] Brian Appleyard, “Shopping Around for Salvation: The New Religion is Consumerism and Massive Malls are Its Cathedrals. Let Us Bow Uur Heads and Pay”, dalam https://www.independent.co.uk/voices/shopping-around-for-salvation-the-new-religion-is-consumerism-and-massive-malls-are-its-cathedrals-1501792.html, diakses pada 26 Juli 2018