Perkara Baik dan Lebih Baik

0
34 views

nasehatislam.comSetiap manusia pasti ingin menjadi orang baik bahkan yang paling baik atau terbaik dari yang lainnya. Hal itu tidak bisa diwujudkan begitu saja, kecuali dengan usaha yang sungguh-sungguh, memiliki ikatan yang kuat kepada Allah swt dan memiliki jalinan hubungan yang baik kepada sesama manusia. Dalam kaitan ini, kita harus melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar (memerintahkan orang lain melakukan kebaikan dan mencegahnya dari keburukan), berakhlak baik, beramal baik, bermanfaat bagi orang lain, bertutur kata yang baik dan sebagainya yang termasuk dalam kategori perkara baik. Dalam buku Nashaaihul ‘Ibaad yakni nasihat-nasihat untuk para hamba yang ditulis oleh Imam Nawawi Al-Bantani dijelaskan bahwa Ahli Bijak berkata bahwa  ada empat perkara yang nilainya baik, namun ada empat perkara lain yang nilainya jauh lebih baik lagi. Karenanya menjadi penting bagi kita untuk membahasnya satu persatu

.

Pertama, Rasa Malu

Rasa malu pada kaum lelaki adalah baik, namun yang lebih baik lagi bila rasa malu itu ada pada kaum wanita. Malu adalah akhlak yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat. Sifat malu harus selalu melekat pada diri orang yang beriman, karena malu merupakan salah satu cabang dari iman. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Malu itu cabang dari iman.” (HR. Bukhari).

Oleh karenanya, malu dengan keimanan tidak bisa dipisahkan, karena jikalau keduanya dipisahkan sungguh manusia akan melakukan dosa dan maksiat dimana saja mereka inginkan. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Sesungguhnya malu dan iman adalah dua hal yang bergandengan, tak dapat dipisahkan. Bila salah satunya diambil, yang lain akan ikut terambil.” (HR. Bukhari dan Baihaqi)

Masyarakat di negara kita sepertinya sudah banyak yang tidak mengenal arti malu yang sebenarnya. Mereka yang muda selalu mengikuti tren kebudayaan barat yang sangat bebas padahal mereka hidup di negara yang mayoritas penduduknya muslim. Mereka yang berbuat maksiat ditempat umum rasa malu yang ada pada dirinya sudah putus dan perbuatan tersebut layaknya binatang yang sedang kawin. Rasa malu yang dimiliki oleh laki-laki memang suatu kebaikan. Malu untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Tetapi nilai kebaikannya akan menjadi lebih jika perempuan yang memiliki rasa malu untuk bermaksiat kepada Allah swt. Bisa kita bayangkan betapa banyak wanita sekarang yang sudah tidak memiliki rasa malu lagi, ini bisa terlihat dengan banyaknya wanita yang membuka aurat secara berlebihan dengan memakai pakaian yang sangat minim. Dalam konteks kehidupan, kita harus mempunyai rasa malu kepada diri sendiri, malu kepada orang lain dan juga malu kepada Allah swt.

Kedua, Rasa Keadilan

Rasa adil pada setiap orang itu baik, namun rasa keadilan yang dimiliki pemerintah itu jauh lebih baik. Dalam buku ensiklopedia Islam, kata adil berasal dari bahasa arab yang dibedakan menjadi dua istilah yaitu al-‘adl dan al-‘idl. Al-‘adl adalah keadilan yang ukurannya didasarkan pada kalbu atau rasio, sementara al-‘idl adalah keadilan yang dapat diukur secara fisik, yang dapat dirasakan dengan pancaindra, seperti timbangan dan hitungan. Karena rasa keadilan begitu penting, maka kata adil juga dimasukkan dalam rumusan pancasila yaitu sila kelima: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dalam Al-Quran, Allah swt berfirman:

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl [16]:90).

Setiap kita harus memiliki rasa adil, baik adil terhadap diri sendiri maupun adil kepada orang lain, kepada kawan maupun lawan. Dalam konteks jual beli misalnya sebagai pedagang tidak boleh mengurangi timbangan barang yang akan dibeli oleh pembeli karena hal tersebut merupakan suatu kezaliman. Salah satu keutamaan mempunyai rasa adil yaitu kita akan lebih dekat kepada takwa. Allah swt berfirman :

……اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan. (QS.Al-Maaidah [5]: 8).

Karenanya rasa adil merupakan suatu perkara baik yang harus kita miliki, tapi alangkah lebih baiknya jika pemerintah yang memiliki rasa keadilan kepada rakyatnya. Akan tetapi, pemerintah kita perlu dipertanyakan kembali rasa keadilannya. Keadilan untuk rakyat yang kurang mampu merupakan suatu hal yang sulit untuk didapat, karenanya keadilan di negara kita harus dibenahi dan hukum yang kita rasakan yaitu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Sudah banyak perkara yang terjadi akhir-akhir ini yang membawa rakyat kecil masuk tahanan dengan hukuman yang berat dikarenakan mereka tidak mendapatkan keadilan dari pemerintah, sementara bila yang melakukan kesalahan “orang-orang penting,” banyak diantara mereka yang justeru divonis bebas atau dengan hukuman yang ringan dibanding kesalahan yang dilakukannya. Oleh karenanya, rasa keadilan bagi pemerintah itu jauh lebih baik.

Ketiga, Taubat

Taubatnya kakek-kakek itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah taubatnya kaum muda. Untuk membersihkan hati dari segala dosa yang pernah diperbuat, manusia dianjurkan untuk melakukan taubat. Taubat bukan hanya untuk menghapuskan dosa, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Taubat berarti kembali, yaitu kembali dari segala yang tercela menurut agama, menuju semua yang terpuji. Jadi, taubat adalah meninggalkan atau menyesali dosa dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dengan demikian, taubat mengandung arti penyesalan atas semua perbuatan tercela yang pernah dilakukan. Allah swt berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ

 Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (QS.At-Tahrim [66]: 8).

Menjadi hal yang tidak wajar jika seorang kakek-kakek atau orang tua masih saja jauh dari Allah swt dengan melakukan kemaksiatan dan segala hal yang mendatangkan dosa, sudah sepantasnya bagi mereka untuk banyak beristighfar dan mendekatkan diri kepada Allah swt karena usia yang sudah tidak muda lagi dan itu merupakan suatu perkara yang baik bagi orang tua. Akan tetapi akan menjadi jauh lebih baik lagi jika seorang pemuda yang selalu beribadah, berdzikir, bershalawat kepada nabi, beramal shaleh dan lain sebagainya yang akan mendatangkan pahala bagi mereka. Pemuda yang bertaubat sangat lebih baik dibandingkan orang tua yang bertaubat. Orang-orang yang bertaubat akan selalu beruntung dan dicintai oleh Allah swt, karena di dalam Al-Quran Allah swt berfirman:

 

…….. إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

 Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]:222).

Keempat, Bermurah Hati

Bermurah hatinya orang kaya itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah bermurah hatinya kaum fakir miskin. Bermurah hati berarti suka memberi kepada orang yang memerlukan pertolongan atau bantuan, orangnya disebut dengan pemurah. Istilah lain dari bermurah hati yaitu sedekah. Sebagai manusia tentu saja kita memiliki kebutuhan berupa makan, minum, tempat tinggal, dan lain sebagainya untuk hidup di dunia ini. Oleh karena itu, Allah swt memerintahkan kepada kita untuk mencari harta atau rezeki dengan cara yang halal. Setelah kita mendapatkan harta yang halal, untuk membersihkannya dari segala kemungkinan yang kotor, maka Allah swt memerintahkan kepada kita untuk sedekah, infaq ataupun zakat. Diantara keutamaan orang yang bersedakah di jalan Allah swt yaitu mendapatkan balasan yang berlipat dari Allah swt dan janji itu tertulis di dalam Al-Quran:

 

مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ

 Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak. (QS. Al-Hadid [57]:11).

Dengan demikian, sudah sewajarnya bagi kaum kaya mendermakan sebagian hartanya untuk mereka yang sangat membutuhkan karena dari harta para kaum kaya terdapat hak-hak fakir miskin, dan itu semua merupakan perkara yang baik, namun alangkah lebih baik lagi jika seorang fakir miskin yang hidupnya serba kekurangan lalu ia mendapati ada seseorang yang hidupnya lebih kurang darinya lalu mendermakan sebagian harta yang ia miliki, maka hal itu merupakan perkara yang sangat lebih baik lagi dibandingkan kaum kaya yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah swt.

Semoga apa yang kita bahas mengenai perkara baik dan yang lebih baik ini menjadi pelajaran buat kita semua agar menjadi muslim terbaik yang dicintai oleh Allah swt dan semoga bermanfaat untuk kita semua. Wallahu a’lam

Hadi Fawwaz

Mahasiswa Smester Akhir Fak. Dirasat Islamiyah

Universitas Islam Negeri  (UIN) Syarif Hidayatullah

BAGI
Artikel SebelumnyaMenonton The Raid yang Islami
Artikel BerikutnyaMemenuhi Akad