Perceraian

0
183 views

Oleh Drs. H. Ahmad Yani 

Nikah merupakan sesuatu yang sangat mulia dan ditekankan. Karenanya, Rasulullah saw menyebutkan bahwa nikah itu sunnahku, siapa yang tidak suka kepada sunnnahku, maka ia bukan golonganku. Pada saat hendak menikah, rasanya tidak ada orang yang merencanakan untuk bercerai, tapi perceraian itu mungkin saja terjadi dengan sebab-sebab tertentu, bahkan di negeri kita, jumlah perceraian tidak kurang dari 10 persen dari jumlah pernikahan setiap tahunnya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa 1 dari 10 pasangan yang menikah berakhir dengan perceraian.
Karena itu, ada ayat-ayat di dalam Al Quran yang turun berkenaan dengan perceraian, tentu banyak hikmah yang bisa kita peroleh, karenanya menjadi penting untuk kita kaji.

1. Damai dalam Keluarga
Dalam kehidupan keluarga, pasti ada kasus ketidakharmonisan antara suami dengan isteri. Agar tidak berakhir dengan perceraian, maka perdamaian antara keduanya penting untuk dilakukan.
Isteri Nabi Aisyah ra menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dan Hakim bahwa salah seorang isteri Nabi yang bernama Saudah khawatir dicerai oleh Rasulullah saw saat usianya semakin tua. Maka dia berkata: “Hariku bersama Rasulullah saya berikan kepada Aisyah.”
Selain itu, Said Ibnu Musayyib menceritakan sebagaimana diriwayatkan oleh At Tirmidzi bahwa puteri Muhammad bin Masalah adalah isteri Rafi’ bin Khudaij Lalu trurunlah firman Allah swt: Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS An Nisa [4]:128)
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah pertama, suami isteri harus terus berusaha memperbaiki kualitas hubungan agar selalu tercipta keharmonisan. Kedua, bila ada masalah antara suami isteri, cepat menyelesaikannya sangat ditekankan sehingga tidak terjadi kedurhakaan yang lebih besar, dan tidak terabaikan hak serta kewajiban suami isteri.

2. Mengambil Kembali Mahar
Dalam kehidupan suami isteri, kadangkala terjadi konflik hingga mengakibatkan terjadinya perceraian. Dalam kaitan bercerai, ada lagi keributan soal harta, diantaranya adalah mahar yang sudah diberikan suami kepada isterinya dalam jumlah yang banyak.
Ibnu meriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa Habibah mengadukan perihal suaminya Tsabit bin Qais kepada Rasulullah saw hingga menuntut cerai. Kepadanya Rasulullah saw bertanya: “Apakah engkau mau mengembalikan kebun yang dia jadikan sebagai mahar untukmu?.”
Habibah menjawab: ‘Ya, saya mau.”
Rasulullah saw kemudian memanggil Tsabit bin Qais dan memberitahunya tentang apa yang dilakukan isterinya yakni menuntut cerai. Maka Tsabit bin Qais bertanya: “apakah dia rela melakukannya?.”
Rasulullah saw menjawab: “Ya, dia rela.”
Isterinyapun berkata: “Saya benar-benar telah melakukannya.” Maka turunlah firman Allah swt: Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang lalim. (QS Al Baqarah [2]:229)
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Pertama, emberian suami kepada isteri, yakni mahar (mas kawin) tidak boleh diambil kembali meskipun terjadi perceraian. Kedua, hukum-hukum Allah swt merupakan sesuatu yang harus ditaati, termasuk dalam kaitan terjadinya perceraian antar suami isteri, sehingga perceraian tetap dilakukan dalam kerangka taqwa kepada Allah swt.

3. Kembali ke Suami Pertama
Perceraian kadangkala menimbulkan penyesalan, meskipun seseorang sudah menikah lagi dengan orang lain, karena ternyata belum tentu pasangan yang baru sebaik pasangan yang lama.
Ibnu Mundzir menceritakan sebagaimana diriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan, bahwa dulu Aisyah bin Abdirrahman bin Atik diceraikan dengan talak Bain oleh suaminya Rifa’ah bin Wahb bin Atik yang sebenarnya saudara sepupunya. Setelah habis masa iddahnya, Aisyah menikah dengan Abdurrahman Ibnu Zubair al Qarzhi, tapi sebelum digauli Aisyah diceraikan lagi oleh Abdurrahman. Aisyah kemudian menemui Rasulullah saw lalu bertanya: “Ya Rasulullah, Abdurrahman menceraikan saya sebelum menggauli saya, apakah saya boleh kembali kepada suami saya yang pertama?.”
Rasulullah saw kemudian menjawab: “Tidak, hingga ia menggaulimu.” Maka turunlah firman Allah swt: Kemudian jika si suami menlalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan istri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui. (QS Al Baqarah [2]:230).
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Pertama, perceraian sedapat mungkin tidak dilakukan, kecuali sebagai pilihan terakhir. Namun seandainya terjadi juga jangan sampai hingga tiga kali atau talak tiga yang memnyebabkan sulit untuk kembali lagi. Kedua, suami isteri yang sudah talak tiga dan ingin kembali lagi tidak bisa hal itu dilakukan kecuali bila isteri menikah dengan lelaki lain, digauli dan bercerai, namun inipun bukan main-main atau rekayasa sekadar untuk membuka jalan bagi suami isteri yang sudah talak tiga untuk bisa kembali lagi.

4. Cerai dan Rujuk Secara Baik
Hukum ditentukan oleh Allah swt untuk ditaati, bukan untuk dipermainkan, salah satunya yang terkait dengan talak dan rujuk.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Al Aufi dari Ibnu Abbas ra bahwa dulu ada seorang suami menceraikan isterinya, kemudian rujuk lagi sebelum masa iddahnya berakhir. Tapi setelah rujuk, justeru diceraikannya lagi, hal itu dilakukan sang suami sekadar untuk mempersulit isteri dan menghalangi isterinya itu untuk menikah dengan lelaki lain, maka Allah swt menurunkan firman-Nya: Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As Sunah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al Baqarah [2]:231).
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Pertama, Talak dan rujuk merupakan ketentuan yang harus ditaati, bukan sesuatu yang harus dipermainkan, apalagi untuk maksud membawa keburukan bagi pasangan hidup. Kedua, cerai yang baik dimaksudkan sekadar memutus ikatan suami isteri, bukan memutus ikatan sesama muslim, apalagi bila sudah menghasilkan keturunan dari pernikahan yang keduanya harus bertanggungjawab kepada anak. Sedangkan rujuk yang baik terjadi karena penyesalan atas terjadinya perceraian, lalu menyadari pentingnya melanjutkan ikatan suami isteri. Tapi bila rujuk hanya untuk mencegah isteri kemungkinan menikah dengan lelaki yang lain merupakan rujuk yang buruk.

5. Menikahi Bekas Isteri
Perceraian kadang menyisahkan kekecewaan dan kebencian, termasuk dari anggota keluarga, apalagi dari walinya.
Al Bukhari, Abu Daud dan At Tirmidzi meriwayatkan dari Ma’qil bin Yassar bahwa ia mengawinkan saudarinya dengan seorang muslim. Dalam perkembangannya, sang suami menceraikannya dan tidak rujuk hingga masa iddahnya berakhir. Namun, ternyata bekas suami itu kembali dan ingin menikah lagi dengan bekas isterinya itu. Ma’qil bin Yassar amat marah dengan berkata: “Wahai bodoh, dulu aku telah memuliakanmu dan menikahkanmu dengan adik perempuanku. Namun kemudian engkau menceraikannya. Demi Allah, dia tidak akan kembali lagi kepadamu.”
Allah swt Maha mengetahui keprluan sang suami kepada bekas isterinya, begitu pula sang isteri. Maka diturunkanlah firman-Nya: Apabila kamu menalak istri-istrimu, lalu habis idahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang makruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah [2]:232).
Mendengar ayat itu turun, Ma’qil kemudian berkata: “Sepenuh hati saya menaati perintah Tuhanku.” Lalu, iapun memanggil bekas suami sang adik, lalu ia berkata: “Kini aku menikahkanmu dengan adikku dan memuliakanmu.”
Dari kisah di atas, pelajaran yang dapat kita ambil adalah: Pertama, perceraian memang menguras emosi dan perasaan suami isteri dan keluarganya. Karenanya diperklukan ketenangan dan ketaqwaan dalam menghadapinya. Kedua, penyesalan yang dalam membuat suami isteri yang bercerai hingga habis masa iddahnya ingin kembali lagi. Karenanya, Allah swt memberi kesempatan kepada keduanya untuk kembali, baik rujuk pada masa iddah maupun nikah kembali setelah masa iddah berakhir.
Dengan demikian, semakin kita sadari betapa Islam merupakan agama yang menyeluruh dan sempurna sehingga persoalan ceraipun diberi bimbingan agar seandainya terjadi, tetap dalam jalur kebaikan dan kebenaran.
Drs. H. Ahmad Yani