Perbedaan

0
50 views

Oleh Abd. Muid N.

Sebuah diskusi oleh sesama redaksi nuansaislam.com sampai pada sebuah pertanyaan penting—paling tidak penting bagi peserta diskusi itu sendiri: Apakah kita ini berbeda tapi satu atau satu tapi berbeda?

Sudah pasti ada tiga kubu yang lahir dari pertanyaan ini. Satu kubu pendukung kesatuan, satu pendukung perbedaan, dan satu lagi yang berada di antara keduanya.

Spirit modernitas yang disokong oleh positivisme dan berakar dari akal dan indera sebagai alat ukurnya mempunyai semangat kesatuan atau pukul rata. Ini terjadi karena induk modernitas adalah ilmu alam yang memang bergaya pukul rata sehingga satu teori bisa—dianggap—menjelaskan berjuta fenomena, walau mungkin teori itu hanya lahir dari satu dua fenomena. Dari satu dua fenomena itulah ilmu alam sudah merasa berhak mengklaim telah menangkap ekor nomena. Dampaknya adalah banyak fenomena penjelasannya diwakilkan oleh fenomena lain dan karena itu, banyak fenomena yang kehilangan keunikannya. Karena pukul rata itu tadi.

Lalu lahir posmodernitas yang meniupkan kembali ruh ke dalam fenomena-fenomena yang telah dibunuh oleh modernitas. Bagi posmodernitas, semua fenomena berhak untuk hidup bersama keunikannya sendiri. Tidak satu fenomena pun yang berhak menjadi juru bicara bagi fenomena lainnya. Ketika Barat dengan modernitasnya merasa berhak mewakili Timur dan menilai Timur seenaknya karena Timur dianggap tidak mampu merepresentasikan dirinya sendiri, posmodernitas menolak dan menegaskan Timur hanya bisa diwakili oleh Timur sendiri.

Lalu mana yang azali, perbedaan atau kesatuan? Manusia hanya bisa menangkap fenomena; sedangkan apa yang ada di baliknya adalah misteri. Di balik itu, manusia hanya bisa mereka-reka. Pada tataran hubungan horizontal manusia dengan sesamanya manusia, yang ada adalah perbedaan karena dengan perbadaan itulah segala hal menjadi bisa dipahami. Namun ketika urusan itu adalah hubungan vertikal dengan Tuhan, maka bisa dikatakan yang ada adalah kesatuan.

Di hadapan-Nya tidak ada beda jasmani karena Dia tidak melihat itu. Tidak ada beda kostum karena Dia tidak menghitung itu. Namun di hadapan manusia yang ada hanya perbedaan karena kita terikat oleh diri material fisik. Karena itu Nabi bersabda: Kita hanya menilai yang tampak. Tuhan lah yang Maha Mengetahui yang rahasia (tidak tampak).[]