Peran Nabi Muhammad saw. di Madinah

0
9 views

Rencana Pembunuhan Nabi

Suatu malam, pada awal bulan Rabi’ul Awal, para pemuda dari setiap kabilah mengintai dari luar rumah Nabi Muhammad. Di dalam rumah itu Nabi tidak sendirian tetapi ditemani Ali bin Abi Thalib. Merasa dirinya terancam hendak dibunuh, beliau menyuruh Ali untuk tidur di ranjangnya. Beliau lalu keluar dengan mengambil segenggam tanah dan ditaburkannya ke atas kepala para pengintai itu sambil membaca surah Yâsîn ayat 1-9. Sesudah itu beliau pergi meninggalkan rumah tanpa diketahui oleh para pengintai.

 Ketika sadar dari kelalaiannya, merekapun mengintip ke dalam rumah dan dilihatnya seseorang sedang tidur berselimut mantel. Mereka sangka bahwa itu Nabi yang masih tidur. Mengetahui sasarannya masih tidur, mereka tidak jadi masuk dan hanya bersiap siaga di depan pintu sambil menjaganya sampai orang yang diincar itu bangun di pagi hari. Tapi ternyata itu bukanlah Muhammad yang hendak mereka bunuh melainkan Ali bin Abi Thalib. Mereka segera bertanya, “Mana temanmu? “Tidak tahu”, jawab Ali. Mendengar itu, mereka sadar bahwa Muhammad telah lolos. Sejak saat itu Ali tetap tinggal di Mekah untuk mengembalikan barang-barang yang dititipkan pada Nabi kepada pemiliknya.

Sementara itu, Nabi menuju rumah Abu Bakar untuk mengajaknya hijrah ke Madinah. Sebagai penunjuk jalan, Abu Bakar menyewa Abdullah bin Uraiqith  alDailami (seorang Musyrik). Tidak ada yang tahu menahu tentang kepergian Nabi ke Madinah ini selain Ali, Abu Bakar dan keluarganya. Setelah kurang lebih dua belas hari dalam perjalanan rombongan itu sampai di Madinah pada tengah hari Senin 28 Juni 622 M.

Setelah di Madinah (Yatsrib), Nabi menjadikan kota itu sebagai pusat jamaah kaum Muslimin sekaligus sebagai ibukota negara. Beliau sendiri yang menjadi kepala negaranya. Di bawah kepemimpinannya, masyarakat Madinah mengalami perubahan besar, dari kaum yang tertindas menjadi kaum yang mempunyai kedudukan yang baik, kuat serta mandiri. Praktis otoritas beliau di Madinah bukan hanya berperan sebagai nabi dan rasul tetapi juga sebagai kepala negara.

Membangun Madinah

Terdapat beberapa dasar penting yang dibangun Nabi dalam membina masyarakat Madinah, antara lain:

a.     Membangun Masjid Nabawi

Masjid ini berfungsi terutama tempat shalat, tempat untuk mempersatukan kaum Muslimin, tempat musyawarah dan sebagai pusat pemerintahan Islam.

b.     Mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar

Muhajirin adalah orang-orang muslim yang ikut hijrah dari Mekah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah kaum muslim Madinah yang menyambut baik kedatangan Nabi dan kaum Muhajirin. Ikatan persaudaraan ini merupakan bentuk persaudaraan yang baru karena tidak berdasarkan ikatan darah melainkan atas dasar agama.

c.      Mendeklarasikan Piagam Madinah

Mengingat ada banyak komunitas lain yang mendiami Madinah selain kaum Muslimin, Nabi kemudian menawarkan deklarasi kepada mereka untuk menciptakan stabilitas keamanan. Di antara isinya adalah:

1.      Orang Mukmin, Yahudi dan suku-suku lain di Madinah, mereka adalah umat yang satu di luar golongan yang lain.

2.      Orang-orang Mukmin tidak boleh meninggalkan seseorang yang menanggung beban hidup di antara sesama mereka dan memberinya dengan cara yang makruf dalam membayar tebusan atau membebaskan tawanan.

3.      Orang-orang Mukmin yang bertakwa harus melawan orang yang berbuat zhalim, jahat dan membuat kerusakan di antara mereka sendiri.

4.      Jika ada orang Yahudi mengikuti kita, maka mereka berhak mendapatkan pertolongan dan persamaan hak, tidak boleh dizhalimi atau ditelantarkan.

5.      Siapapun yang membunuh orang Mukmin yang tidak bersalah maka dia harus mendapat hukuman yang setimpal, kecuali jika wali yang terbunuh merelakannya (memaafkannya).

6.      Masalah apapun yang diperselisihkan di antara mereka harus dikembalikan kepada Allah dan Nabi Muhammad saw.

Muhajirin dan  Anshar

Begitulah sekelumit kisah hijrahnya Nabi bersama sahabatnya ke Madinah. Di sana beliau disambut baik oleh masyarakatnya terutama kaum Anshar. Mereka selalu menawarkan pada Nabi untuk singgah ke rumahnya. Mereka pun menjamin keperluan dan perlindungan pada beliau.

Madinah waktu itu didiami berbagai suku, kabilah dan kepercayaan. Kelak untuk mengatur kehidupan sosial dan keagamaan di Madinah, Nabi mengadakan kesepakatan-kesepakatan, perjanjian-perjanjian damai di kalangan mereka terutama antara kaum Muhajirin, Anshar dan Yahudi. Perjanjian damai itu antara lain menyangkut pengakuan keberadaannya, agama, harta benda dengan berbagai syarat hak dan kewajiban mereka.

Dengan itu, kehidupan masyarakat Madinah dapat berjalan baik. Konsep ummah pun kian meluas tidak hanya terbatas pada kaum Anshar dan Muhajirin tetapi juga suku-suku dan kabilah-kabilah lain yang menjadi komunitas Madinah. Tata hubungan kemasyarakatan terikat dengan keagamaan, sosial dan kenegaraan.

Perjanjian Hudaibiyah

Enam tahun lamanya sejak hijrah ke Madinah, Nabi belum pernah mengunjungi Mekah, belum pernah juga menunaikan umrah ataupun haji. Suatu ketika beliau bermimpi masuk ke Baitullah bersama para sahabatnya dalam keadaan damai. Maka untuk mengobati kerinduannya berangkatlah beliau ke Mekah pada bulan Zul Qa’dah tahun ke-6 H. (Pebruari 628 M.) untuk menunaikan umrah, berziarah dan bukan untuk berperang.

Tatkala sampai di ‘Usfan, beliau ditemui Basyar bin Sufyan al-Ka`bi dan berkata bahwa orang-orang Quraisy tidak membolehkan Nabi memasuki Mekah menemui mereka buat selamanya. Nabi pun mengambil jalan lain yang sulit dengan dituntun oleh seseorang dari Aslam bernama Hamzah bin Amr alAslami. Akhirnya mereka sampai di jalan mudah di ujung lembah. Selanjutnya beliau  memberi komando kepada orang-orang agar menempuh jalan antara dua sisi al-Hamd di jalan yang menuju Tsaniyatul Murar yaitu tempat persinggahan di Hudaibiyah yang terletak di bagian bawah Mekah.

Selanjutnya Nabi didatangi Budail bin Waraqa’ alKhuza’i bersama serombongan orang dari Khuza’ah. Mereka menanyakan maksud kedatangan beliau. Nabipun menjelaskan maksunya untuk berziarah, haji dan umrah. Namun demikian mereka tetap mencurigai Nabi dan para sahabatnya. Selanjutnya kaum Quraisy mengutus Mirkaz bin Hafs, al-Hulais bin Alqamah, lalu Urwah bin Mas’ud dengan menyampaikan pesan bahwa orang-orang Quraisy tidak membolehkan Nabi memasuki Mekah menemui mereka buat selamanya. Nabipun menjelaskan bahwa beliau hendak berziarah, haji dan umrah. Urwah akhirnya menyarankan Kaum Quraisy agar mengadakan perjanjian damai. Namun mereka tidak menghiraukan saran Urwah.

Nabi lalu mengutus Khirasy bin Umayah kepada kaum Quraisy untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau ke Mekah. Tapi kaum Quraisy justru membantai unta beliau dan hendak membunuh utusannya itu namun tidak berhasil. Bahkan selanjutnya kaum Quraisy mengirim sekitar 50 orang untuk menangkap siapapun dari sahabat beliau. Namun orang-orang itu tertangkap dan dibawa kehadapan Nabi. Beliau pun memaafkan.

Kemudian Nabi mengutus Usman bin Affan untuk menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy lainnya untuk memberitahu maksud kedatangannya. Tapi mereka justru menahan Usman. Kaum Muslimin pun gelisah menunggu. Ada isu yang menyebutkan bahwa Usman dibunuh. Nabi lalu berkata, Kita tidak akan pulang sebelum memerangi orang-orang itu. Selanjutnya beliau menyuruh kaum Muslimin untuk bersumpah setia (bay`ah). Beliau menyuruh Umar ibn Khattab untuk memanggil orang-orang untuk melakukan Bay`ah alRidwan.

Mengetahui kaum Muslimin mengadakan bay`ah, kaum Quraisy merasa takut. Selanjutnya para cerdik pandai di kalangan mereka mengusulkan agar diadakan perjanjian damai dan kesepakatan dengan Muhammad, agar dia pulang ke Madinah dan boleh kembali lagi melakukan tujuannya tahun depan yang mana dia boleh tinggal di Mekah tiga hari saja dengan membawa senjata musafir, yaitu pedang dalam sarungnya dan panah. Untuk mengadakan perjanjian damai itu, pihak Quraisy mengutus Suhail bin Amr. Suhail pun mengadakan pembicaraan yang lama dengan Nabi. Terjadilah kesepakatan antara keduanya bahwa tidak ada lagi peperangan di antara kedua belah pihak yanng kemudian ditulis oleh Ali bin Abi Thalib.

Fath Makkah

Walaupun telah diadakan perjanjian genjatan senjata sejak Hudaibiyah, beberapa orang dari dari Bani Bakar yang dikenal dengan Bani Naftsah memanfaatkan kesempatan ini untuk membuat kekacauan. Mereka membunuh sekiar 23 orang dari Bani Khuza’ahkabilah yang telah bergabung dengan Nabidengan dibantu orang Quraisy. Dengan demikian mereka telah melanggar perjanjian damai itu. Hal itu disampaikan kepada Nabi.

Setelah mempercayakan Madinah kepada Abu Ruhm Kaltsum bin Hushain, Nabi memulai perjalanannya. Beliau mulai bertolak pada tanggal 10  Ramadhan tahun ke-8 H. (awal Januari 630 M.). Saat itu beliau dan rombongannya sedang berpuasa. Tapi ketika perjalanan sampai alKadid, mereka berbuka. Kemudian melanjutkan perjalanan bersama 10.000 orang lalu singggah di Marru Zhahran; suatu tempat yang berjarak satu marhalah dari Mekah. Di sana beliau memerintahkan para sahabatnya untuk menyalakan api. Mereka menyalakan sebanyak 12.000 suluh api untuk membuat gentar kaum Quraisy. 

Semua berita tentang Nabi tertutup  bagi kaum Quraisy. Mereka tidak tahu berita apapun tentang beliau. Oleh karenanya, malam itu Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam dan Budail bin Waraqa’ al-Khuza’i keluar untuk mencari tahu tentang Nabi. Al-‘Abbas yang saat itu juga keluar dari Mekah bertemu Abu Sufyan. Al-‘Abbas berkata, “Ini Rasulullah di belakangku. Beliau bergerak di belakangku menuju kalian, membawa pasukan yang tidak mungkin kalian tandingi, ada 10,000 orang kaum Muslimin”. Akhirnya Abu Sufyan membonceng al-`Abbas untuk memintan jaminan (menyerah) kapada Nabi. Beliau lalu memberi jaminan keamanan padanya dan iapun masuk Islam.

Rasulullah memasuki Mekah dari Tsaniyah atas dengan membonceng Usamah bin Zaid. Sebelumnya beliau memerintahkan para komandan pasukan agar menahan diri (tidak berperang). Khalid bin Walid—salah satu komandan—memasuki Kota Mekah dari bagian bawah. Ternyata dia diserang oleh beberapa orang dari Bani Bakar, Bani al-Harits dan beberapa orang dari Hudzail. Pertempuran pun terjadi. Dari Bani Bakar terbunuh 24 orang dan Hudzail 4 orang sedangkan dari kaum Muslimin terbunuh 2 orang. Mereka terus didesak sampai di Pasar al-Hazurah. Selanjutnya mereka masuk bersembunyi di rumah-rumah, mengunci pintu masing-masing dan melemparkan senjatanya ke jalan-jalan. Senjata-senjata itu lalu diambil kaum Muslimin. Rasulullah akhirnya memasuki Kota Mekah pada tanggal 20 Ramadhan (Januari 630 M.).

Oleh

Pujiono Budi Setiawan, Muhammad Hilmi, dan Said Muhtarom