Pepatah

0
292 views
nusabali.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Mengapa peristiwa di seberang lautan mampu mengobok-obok emosi orang-orang yang hadir di jarak yang jauh? Salah satu jawaban yang ditawarkan adalah bahwa memang ada ikatan emosional tak kasat mata yang mengikat antara satu manusia dengan manusia lain hingga derita seorang manusia di sudut bumi tertentu mampu menderai air mata manusia di sudut bumi yang lain. Namun mungkin itu adalah jawaban yang normatif.

Jika pertanyaan itu dilanjutkan menjadi, mengapa peristiwa yang tidak jauh beda dan terjadi tidak di seberang lautan, bahkan sangat dekat, tidak berdampak emosional serupa? Apakah kemiskinan, kepapaan, kekeringan, kebodohan, kelaparan, dan sebagainya yang hadir di sekitar rumah kita tidak cukup kuat untuk membuat kita berlinang air mata? Seharusnya cukup. Lalu, mengapa tidak? Terasa ada yang janggal di sana.

Kita pasti ingat pepatah tentang kasatmatanya semut di seberang lautan dan tidak tampaknya gajah di pelupuk mata. Pepatah ini memang telah ada jauh sebelum ditemukannya smartphone dan hadirnya fenomena medi sosial, tapi daya renungnya melintas batas waktu.

Dampak revolusi teknologi informasi memang, salah satunya, adalah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Sudah biasa di zaman ini relasi akrab terjalin dengan kawan antarbenua, namun tetangga seberang pintu pun tak diketahui namanya siapa. Dan karena itu, juga peristiwa jamak jika derita manusia yang jauh jaraknya lebih nyaring di telinga daripada bunyi gemeretak perut lapar tetangga.

Ada pepatah yang masih berlaku dan ada pepatah yang perlu ditafsirkan ulang. Salah satu pepatah yang perlu ditafsirkan ulang itu adalah: Dunia tidak selebar daun kelor. Kini dunia bahkan jauh lebih sempit dari selembar daun kelor. Konon karena globalisasi.

Ya, di sini tidak ada upaya penafian bahwa derita sesama itu memang ada. Dan tidak ada upaya menutupi rasa perih di perut akibat derita sesama yang juga ada. Itulah ikatan emosional tak kasat mata.

Namun yang layak mendapat perhatian adalah bahwa rumah tangga orang lain tetaplah rumah tangga berbeda dengan rumah tangga kita yang berarti ada aturan tertentu yang bisa saja tidak sama dengan aturan rumah tangga kita. Dan setiap rumah tangga mempunyai masalahnya sendiri-sendiri. Bersediakah jika urusan rumah tangga kita dicampuri meskipun itu atas nama kebenaran?

Karena itu, mungkin ada pepatah lain yang perlu diingat, yaitu lain ladang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Dan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.[]

BAGI
Artikel SebelumnyaTahallul
Artikel BerikutnyaMuharram