Penjajah

0
42 views

Oleh Abd. Muid N.

Jika kata “penjajah” yang diperdengarkan kepada kita, maka mungkin ada dua nama negara yang akan muncul, Belanda dan Jepang. Lalu emosi pun membuncah karena di kepala terbayang suara rentetan senjata beradu dengan golok dan bambu runcing lalu korban pun bergelimpangan dengan darah bersimbah menguras keringat dan air mata.

Tapi, tunggu dulu. Yang tadi mungkin hanya imajinasi generasi tahun 80-an ke atas karena pada waktu  itu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) diajarkan. Beda dengan imaji generasi setelahnya yang bisa saja tidak lagi seberbunga itu.

Bagaimanapun juga, imajinasi bangsa terjajah memiliki kesamaan. Ada sakit; ada dendam. Ada juga kesadaran. Seperti yang ditunjukkan oleh seorang pemikir Aljazair, Malik bin Nabi. Sebagai catatan, Aljazair adalah negara koloni Prancis.

Bin Nabi disebut-sebut sebagai pewaris pemikiran sejarahwan besar Muslim Ibnu Khaldun. Bedanya, Bin Nabi adalah anak penjajahan sedangkan Ibnu Khaldun bukan. Dan tentang penjajahan ini, Bin Nabi menegaskan, lewat permenungannya terhadap penjajahan yang dialami Aljazair, bahwa sebuah bangsa yang terjajah adalah bangsa yang memang pantas dijajah. Buah pemikiran ini sepintas terkesan deterministik atau memang sudah begitu takdirnya. Mungkin benar, namun faktor determinannya bukan pada Tuhan atau penjajah, tapi justeru pada yang terjajah.

Penjajah, bagi Bin Nabi, sekadar alat sosial yang berubah sejalan dengan berubahnya lingkungan tempat dia hidup. Jika lingkungannya kondusif bagi penjajahan, maka penjajahan jalan terus. Lebih tegas lagi, Bin Nabi mengatakan bahwa penjajahan bukanlah pekerjaan buruk yang dilakukan oleh para politikus, tetapi bersumber dari jiwa yang memang mau dijajah dan memungkinkan penjajahan hidup di negerinya.

Jika dihubungkan dengan keterpurukan umat Islam, sebenarnya masih ada buah pemikiran Bin Nabi yang lain yang juga menarik, namun dalam hal penjajahan ini, umat Islam pernah membiarkan diri mereka pantas dijajah. Dan jika kini umat Islam terus berpecah karena hal-hal sepele maka, memang mereka telah membiarkan diri mereka pantas berpecah-belah, meskipun mereka berteriak atas nama kebenaran, akidah, bahkan atas nama Tuhan.[]