Peningkatan

0
31 views

Waktu terus berputar, dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke pekan, dari pekan ke bulan dan dari bulanke tahun. Dari segi angka, usia kita memang bertambah, misalnya dari 45 menjadi 46 dan begitu seterusnya, tapi dari sisi kesempatan hidup sebenarnya berkurang. Karena setiap kita sudah ada ajal yang merupakan limit akhir kehidupan kita.  Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk terus melakukan apa yang disebut dengan al muhasabah atau introspeksi diri untuk menilai bagaimana kualitas perjalanan hidup kita sepanjang setiap hari. Bila ini kita lakukan, ternyata kita dapati bahwa banyak hal yang harus kita perbaiki dan kita tingkatkan, baik dalam skala pribadi, keluarga, maupun masyarakat dan bangsa.

Paling tidak, adalima peningkatan  positif yang harus kita lakukan sehingga perjalanan hidup kita dari waktu ke waktu semakin memberi nilai kualitas yang baik.

 

1.Peningkatan Iman.

 

Iman adalah keyakinan kepada Allah swt sebagai Tuhan yang benar sehingga tidak ada keraguan sedikitpun, diucapkan dengan lisan dalam bentuk mengucapkan dua kalimat syahadat dan diamalkan dengan perbuatan dalam bentuk amal yang shaleh. Paling tidak, ada tiga pengaruh positif dariiman yang meningkat. Pertama, Kemerdekaan Jiwa dalam arti tidak terbelenggu oleh apapun dan siapapun juga seperti sahabat Bilal bin Rabah yang tidak mau tunduk pada majikannya yang memerintahkan untuk murtad dari Islam meski disiksa.Kedua,Ketentraman atau ketenangan jiwa sehingga apapun persoalan yang dihadapi, dia tidak akan sampai pesimis atau berkecil hati akan kemungkinan terpecahkannya persoalan itu. Ketiga,kekuatan jiwa sehingga kesenanganhidup tidak membuatnya lupa diri dan susah tidak membuat putus asa karena keduanya ujian.

 

2.              Peningkatan Ilmu.

 

Sebagai manusia yang ingin menjalankan kehidupan dengan baik di dunia, tentu amat diperlukan ilmu pengetahuan, sehingga Allah swt mewajibkan kita mencari ilmu dan ini akan membuat kita semakin mudah untuk mencapai surga karena dengan modal ilmu itulah kita akan beramal shaleh yang menjadi syarat untuk bisa masuk ke dalam surga, Rasulullah saw bersabda:

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barangsiapa melewati suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah memudahkan untuknya jalan ke surga (HR. Tirmidzi).

Menuntut ilmu menjadi jaminan masuk surga karena memang dengannya manusia melakukan pendekatan kepada Allah swt sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ, وَ تَعْلِيْمَهُ لِمَنْ لاَيَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ وَ إِنَّ الْعِلْمَ لَيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَالرِّفْعَةِ, وَ الْعِلْمُ زَيْنٌ ِلأَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ

Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat (HR. Ar Rabi’).

Manakala seseorang sudah memiliki ilmu, apalagi ilmu yang banyak, maka ia akan memperoleh derajat yang tinggi, bahkan tidak hanya dihadapan Allah swt, tapi juga dihadapan manusia, Allah swt berfirman: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujadilah [58]:11).

3.              Peningkatan Amal.

 

Kematian merupakan saat perjumpaan dengan Allah swt, karenanya sering orang yang mati dikatakan telah berpulang ke rahmatullah. Kematian yang membahagiakan bagi orang yang mati adalah ketika perjalanan hidupnya diisi dengan amal shaleh yang banyak, inilah memang yang amat ditekankan oleh Allah swt kepada kita semua sebagaimana firman-Nya: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS Al Kahfi [18]:110).

 

Dengan amal shaleh, kita memiliki bekal untuk berjumpa dengan Allah swt, bahkan sesudah kematian, kitapun akan menjadi bahan pembicaraan atau buah tutur kata yang baik, sesuatu yang amat bagus sebagaimana Nabi Ibrahim as berdoa dengan harapan demikian yang disebutkan di dalam Al-Qur’an: dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,(QS Asy Syu’ara [26]:83-87

 

4.              Peningkatan Dakwah.

 

Secara harfiyah, dakwah berasal dari kata da’a, yad’u, da’watan yang artinya panggilan, seruan atau ajakan. Maksudnya adalah mengajak dan menyeru manusia agar mengakui Allah swt sebagai Tuhan yang benar lalu menjalani kehidupan sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya yang tertuang dalam Al-Qur’an dan sunnah. Dengan demikian, target dakwah adalah mewujudkan sumber daya manusia yang bertaqwa kepada Allah swt dalam arti yang seluas-luasnya.

Dakwah merupakan tugas yang mulia, penting dan dibutuhkan. Disebut mulia karena dakwah merupakan tugas nabi. Disebut penting karena dakwah itu hendak mengubah orang dari keadaan yang apa adanya seperti bodoh, malas, bakhil dan seterusnya kepada yang seharusnya menurut Allah swt dan Rasul-Nya seperti paham, rajin, dermawan san seterusnya. Dan dakwah juga amat dibutuhkan karena orang yang baik saja membutuhkan dakwah, apalagi orang yang belum baik.

Tugas dakwah yang begittu penting dan mulia membuatnya tidak hanya  harus dilaksanakan oleh  orang yang selama ini disebut ustadz, mubalig, kiyai atau ulama, tapi setiap muslim harus melaksnakan sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing, meskipun hanya mengobrol tentangt kebaikan kepada isteri, suami atau anak dan cucu, apalagi diperluas kepada orang lain. Bila dakwah kita laksanakan, keutamaan pahala yang besar menanti kitra dari amal orang yang kita dakwahkan itu, Rasulullah saw bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرِ فَلَهُ مِثْلَ اَجْرِفَاعِلِهِ.

Barangsiapa yang menunjukkan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi).

 

5.              Peningkatan Kesabaran

 

Ketika hal-hal yang sudah dibahas di atas dapat kita laksanakan, banyak kendala dan tantangan yang harus kita hadapi. Karena itu diperlukan kesabaran, bahkan kesabaran yang semakin besar dan banyak. Karenanya sabar tidak ada habisnya. Orang yang mengatakan sabar ada batasnya hanyalah karena ia ingin menunjukkan kemarahan yang tidak terkendali lalu berharap bisa dimaklumi oleh orang lain atas kemarahannya itu.

Secara harfiyah, sabar berasal dari kata sabara-yasbiru-sabran yang artinya menahan atau mengekang. Sabar adalah menahan diri dari bersikap, berbicara dan bertingkah laku yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt dalam berbagai keadaan yang sulit, berat dan mencemaskan. Sabar juga bermakna ketabahan dalam menerima suatu kesulitan dan kepahitan, baik secara jasmani seperti menanggung beban dengan badan berupa beratnya suatu pekerjaan, sakit dll, maupun rohani seperti menahan keinginan yang tidak benar.

Di dalam kata sabar mengandung makna yang sedemikian luas dalam berbagai keadaan sehingga istilahnyapun berbeda-beda. Ketika seseorang mendapatkan musibah maka ia harus sabar yang lawannya adalah jaza’u (keluh kesah). Ketika ia hidup berkecukupan atau berlebihan, maka ia harus mengendalikan nafsu yang disebut dengan zuhud yang kebalikannya adalah serakah (al hirshu). Jika ia menghadapi peperangan kesabarannya disebut dengan syaja’ah (berani), bukan jubnu (takut, pengecut), jika ia sedang marah kesabarannya adalah lemah lembut (al hilmu) yang lawannya adalah emosional (tadzammur), jika ia menghadapi bencana, maka sabarnya adalah lapang dada, jika ia menyimpan perkataan (rahasia), maka sabarnya adalah kitmanus sirri, jika ia memperoleh sesuatu yang tidak banyak, maka sabarnya adalah qona’ah (menerima).

Kehidupan yang selalu berhadapan dengan ujian dan tantangan hanya bisa dijalani dengan baik bila kita memiliki kesabaran, Allah swt berfirman:Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali” (QS Al Baqarah [2]:155-156).

Dengan demikian, hari-hari kedepan harus kita jalani lebih baik lagi sehingga memberi mankna yang dalam dan manfaat yang besar, tidak hanya bagi diri kita, tapi juga bagi banyak orang.

 

Drs. H. Ahmad Yani

HP/WA 08129021953

BAGI
Artikel SebelumnyaAntara Ibu dan Pembantu
Artikel BerikutnyaCahaya