Pengorbanan Ibrahim

0
45 views

Setiap setahun sekali umat Islam diingatkan akan makna pengorbanan lewat Hari Raya Idul Adha. Pengorbanan itu sendiri adalah sesuatu yang universal. Maksudnya, semua manusia maklum bahwa untuk mencapai sesuatu yang “lebih”, dibutuhkan pengorbanan; apa pun bentuknya. Bahkan untuk hal –hal yang buruk, dibutuhkan upaya “lebih” untuk mendapatkan “lebih”; no pain no gain, kata orang Bugis.

Idul Adha itu sendiri mempunyai rujukan historis, yaitu peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Apakah peristiwa itu pengorbanan terhebat dalam sejarah sehingga menjadi rujukan? Mungkin iya. Salah satu faktornya adalah bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail; dua-duanya pelaku pengorbanan, meski secara lahiriah Nabi Ismail lah yang dikorbankan. Bukan sembarang orang yang mampu melakukan apa yang telah mereka lakukan. Keteguhan Nabi Ibrahim dan ketulusan Nabi Ismail.

Menarik untuk melihat pendapat seorang filsuf, Soren Kierkegaard, tentang peristiwa ini. Baginya, gaya kehidupan beragama berbeda dari gaya kehidupan estetik dan etik. Hal ini bisa dilihat dari peristiwa penyembelihan Nabi Ismail tersebut. Apa yang estetik dari sebuah peristiwa yang lebih mirip pembantaian daripada sebentuk ibadah? Dan peristiwa itu juga jauh dari nilai etik. Etika mana yang mengizinkan seorang ayah menyembelih anaknya; anak yang bahkan belum berusia lima tahun?

Al-Quran sendiri tidak jarang bercerita kisah yang mempunyai pola mirip seperti ini. Kita tentu tidak lupa kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr. Nabi Khidr juga diceritakan membunuh seorang anak karena khawatir di masa depan anak itu akan membuat kafir kedua orang tuanya yang saleh—dalam kisah Nabi Khidr, anak itu tidak diganti dengan domba.

Baik Nabi Ibrahim maupun Nabi Khidr sama-sama menunjuk Tuhan sebagai sebab yang berada di balik tindakan mereka yang tidak estetik dan etik. Mungkin karena Tuhan berada di atas ukuran estetik dan etik itu. Atau mungkin hubungan dengan Tuhan sering adalah sesuatu yang sangat pribadi sehingga pengalaman kita bukan ukuran bagi orang lain, demikian pula orang lain tidak bisa menjadi ukuran kita. Lalu akan menjadi aneh jika ada yang mengklaim kebenaran pribadinya untuk menjadi ukuran bagi kebenaran orang lain.

Kembali kepada pengorbanan. Ismail tentu adalah sesuatu yang sangat penting bagi Ibrahim. Mangorbankannya berarti menghilangkan bagian penting itu. Di situlah sebuah pengorbanan menjadi semakin bermakna jika yang dikorbankan semakin penting atau bahkan tidak tergantikan. Ismail tidak tergantikan bagi Ibrahim. Relakah kita mengorbankan sesuatu yang sangat penting dan tidak tergantikan? Jika pengorbanan kita sebatas memberikan pakaian bekas, maka itu bukan pengorbanan akan sesuatu yang tidak tergantikan.[]

Daftar Pustaka:

John K. Roth, Persoalan-Persoalan Filsafat Agama, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003