Penggunaan Masker: Cegah Penyakit atau Cari Penyakit ?

0
13 views

Saat ini, menggunakan masker sudah menjadi hal yang lazim dilakukan di kalangan masyarakat perkotaan. Bagi sebagian besar orang, penggunaan masker, baik di jalan raya, halte, kendaraan umum, stasiun kereta, atau bahkan di tempat tertutup seperti ruang kerja, ditujukan untuk mencegah dampak polusi udara dan penyebaran penyakit menular melalui udara. Jenis masker yang digunakan bermacam-macam, mulaidari masker medis / masker bedah (biasanya memiliki bagian luar berwarna hijau muda dan bagian dalamnya berwarna putih serta memiliki tali/karet untuk memudahkan terpasang ke bagian belakang kepala atau telinga) yang dijual di pasaran hingga masker bahan kain dengan beragam motif dan gambar menarik. Cara penggunaannya juga bermacam-macam, mulai dari sekali pakai, sehari, sebulan, hingga bertahun-tahun pemakaian. Jenis dan cara peggunaan masker seperti apa yang sebenarnya efektif untuk mencegah dampak polusi udara dan penyakit menular yang mematikan? Apakah jenis dan cara penggunaan masker yang kita lakukan selama ini sudah berhasil menghindarkan kita dari berbagai jenis penyakit? Atau justru hal itu meningkatkan risiko kita untuk terjangkit penyakit?

Masker merupakan salah satu jenis alat pelindung pernapasan yang berfungsi untuk melindungi organ pernapasan dari agen penyakit yang berasal atau berada di udara. Agen penyakit tersebut dapat berupa cemaran bahan kimia, agen biologi seperti bakteri dan virus, dan partikel fisik di udara berupa debu, asap, kabut (aerosol), gas, dan lain lain. Cara kerja masker adalah menyalurkan udara bersih dan sehat dan/atau menyaring agen penyakit tersebut.

Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan penggunaan masker adalah penyakit yang berhubungan dengan sirkulasi udara dari luar ke dalam tubuh, atau sebaliknya. Penyakit tersebut diantaranya adalah penyakit akibat kontaminasi bahan kimia dan partikel fisik di udara dan penyakit menular melalui udara (air borne diseases).

Penyakit Akibat Kontaminasi Bahan Kimia dan Partikel Fisik di Udara

Menghirup udara yang tercemar bahan kimia beracun seperti sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon monoksida, asbes, timbal, senyawa organik yang mudah menguap (pestisida, cat, vernisdll) dan asap rokok atau partikel fisik yang membahayakan tubuh seperti debu dengan diameter 2,5 mikro, 10 mikro atau lebih, asap beracun, dan lain lain berbahaya bagi kesehatan tubuh kita. Hal tersebut dapat menimbulkan berbagai macam penyakit mulai dari sakit kepala, mual dan nyeri otot (flague), alergi, penyakit iritasi hidung dan tenggorokan, inflamasi saluran pernafasan, bronchitis kronis, emfisema paru, keracunan zat berbahaya, koordinasi syaraf menurun, hingga kanker paru dan kanker kasinogenik.

Penyakit Menular Melalui Udara

Selain bahan kimia dan partikel fisik di udara, agen biologi juga dapat menyebabkan penyakit bagi yang menghirupnya. Agen biologi tersebut mayoritas berasal dari penderita penyakit menular yang tidak berperilaku bersih dan sehat. Agen biologi seperti virus dan bakteri memiliki ukuran partikel yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dengan begitu, seringkali kita tidak menyadari masuknya agen penyakit tersebut ke dalam tubuh. Penyakit yang dapat ditularkan melalui udara diantaranya penyakit TBC (Tuberculosis), ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) termasuk influenza, pneumonia, dan infeksi pernapasan lainnya, campak, cacar (penyakit akibat virus varicella), dan lain lain. Penyakit-penyakit ini ditularkan dari satu orang ke orang lannya melalui percikan secret tenggorokan, ludah, atau cairan yang keluar dari dalam hidung dan mulut saat penderita berbicara, batuk, bersin, makan, dan kegiatan semacamnya.

Masker memang bias melindungi kita dari beberapa penyakit yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, perlindungan tersebut tidak akan kita dapatkan apabila penggunaannya tidak tepat. Misalnya, penggunaan masker medis / masker bedah yang dijual di pasaran. Masker ini disebut masker bedah karena biasanya digunakan tenaga medis saat melakukan operasi bedah untuk melindungi hidung dan mulut mereka dari darah dan cairan tubuh pasien. Masker bedah memberikan perlindungan terhadap partikel aerosol besar (droplet) seperti virus penyebab infeksi pernafasan ringan, adenovirus, virus penyebab flu, debu, dan bahan kimia. Masker ini tidak dapat memberikan perlindungan pernapasan yang memadai terhadap aerosol kecil (droplet nuklei) seperti bakteri penyebab penyakit TBC, campak, dan cacar air. Namun demikian, tidak ada standar minimal untuk menentukan efisiensi penyaring masker bedah, hal ini bergantung pada bahan yang digunakan masing-masing produsen. Masker ini lebih efektif digunakan untuk melindungi pemakainya dari percikan atau cairan yang mengandung agen penyakit. Sedangkan, perlindungan pernapasan terhadap aerosol halus (droplet nuklei) bias didapat melalui penggunaan respirator partikulat (masker dengan penyaring). Selain kegunaannya, cara pemakaian masker bedah juga hal yang perlu diperhatikan. Masker bedah biasanya merupakan produk sekali pakai dan harus segera diganti bila rusak atau terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh. Selain itu, keadaan lembab dan kotor juga dapat digunakan sebagai indicator untuk membuang masker. Sangat tidak dianjurkan mencuci masker ini untuk digunakan kembali karena bakteri, virus, debu, maupun jamur yang tertahan tidak dapat hilang begitu saja. Penggunaan masker yang tidak sesuai justru dapat menyebabkan agen penyakit terakumulasi dalam masker dan masuk ke dalam saluran pernapasan kita.

Lalu bagaimana dengan penggunaan masker berbahan kain? Pada dasarnya, masker ini memiliki fungsi pertahanan partikel di udara yang tidak jauh berbeda dengan pakaian kita. Masker berbahan kain cocok digunakan untuk menghalangi debu yang berukuran besar agar tidak terhirup ke dalam saluran pernapasan. Masker ini tidak dapat digunakan untuk menyaring debu berukuran kecil dan agen biologi seperti bakteri, jamur, dan virus. Masker kain dapat dicuci dan digunakan berulang, namun sebaiknya diganti atau dibuang secara berkala untuk menghindari risiko penyakit akibat bakteri dan jamur yang timbul karena perilaku yang tidak bersih.

Pengetahuan tentang fungsi, cara penggunaan, dan perawatan masker dibutuhkan untuk menilai seberapa efektif manfaat masker yang kita gunakan untuk mencegah penyakit maupun dampak polusi bagi tubuh kita. Berikut ini adalah beberapa tips menggunakan masker yang benar.
• Sesuaikan jenis masker dengan tujuan penggunaan masker melalui identifikasi bahaya kesehatan apa yang ingin dicegah dengan penggunaan masker dan masker apa yang sesuai untuk mencegahnya
• Terlebih dahulu membaca instruksi cara penggunaan, fungsi, dan pemeliharaan masker yang digunakan, termasuk masa pemakaian (sekali pakai / tanggal kadaluarsa) jika ada
• Sebelum digunakan, pastikan kebersihan, kesesuaian ukuran dan kebocoran masker
• Biasakan membersihkan tangan segera setelah menyentuh, membuka, atau membuang masker, khususnya untuk masker bedah
• Lepas masker saat tidak digunakan dan jangan biarkan masker menggantung di leher saat tidak digunakan
• Bila masker tersebut lembab/basah atau kotor terkena sekret, darah, dan cairan tubuh lainnya, masker tersebut harus segera diganti
• Untuk masker bedah, sangat tidak disarankan untuk dicuci karena masker ini adalah produk masker sekali pakai, jangan disimpan dekat api karena masker akan melunak (mengkerut) dan berubah bentuk, dan hindari dari sinar matahari langsung, simpan di tempat yang bersih dengan kelembaban rendah
• Tetap berperilaku hidup sehat dan bersih sebagai bentuk pencegahan penyakit selain masker
Segala bentuk pencegahan penyakit baik untuk dilakukan, mulai dari menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, berperilaku hidup sehat dan bersih, menjaga kekuatan imunitas tubuh, hingga penggunaan alat pelindung tubuh seperti masker. Tentunya, agar efektif, pencegahan ini harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang baik dan benar. Mencegah penyakit terhitung lebih cost-effective daripada pengobatan penyakit. Jadi, jangan sampai hal yang kita lakukan untuk mencegah penyakit justru akan menimbulkan penyakitya!

 

Azyyati Nabiilah Zahra
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia