Pemimpin Imajiner

0
10 views

Di hari-hari belakangan ini, masyarakat Indonesia sedang dan masih akan disibukkan oleh perhelatan akbar lima tahunan nasional yaitu Pemilihan Umum yang kini sudah menginjak tahap Pemilihan Presiden. Mungkin di antara sekian juta warga negara Indonesia masih ada yang sempat mempertanyakan dan merenungkan kepemimpinan seperti apa yang seharusnya memimpin Indonesia di masa datang? Yang saya maksud permenungan di sini adalah upaya pribadi untuk sungguh-sungguh memikirkannya bukan karena dorongan partai atau karena fanatisme semata.

Nurcholish Madjid-dalam sebuah seminar-pernah menyinggung istilah gaya kepemimpinan tertutup. Gaya kepemimpinan tertutup itu lahir karena sang pemimpin kurang percaya diri. Semakin kurang percaya diri seorang pemimpin, dia akan semakin tertutup. Sebaliknya, semakin percaya diri seorang pemimpin, dia akan semakin terbuka.

Gaya kepemimpinan tertutup akan bergandengan tangan erat dengan gaya kepemimpinan kharismatik. Bahkan yang sering terjadi adalah gaya kepemimpinan tertutup mengambil topeng kepemimpinan kharismatik.

Bagi Nurcholis Madjid, demokrasi tidak mungkin ditegakkan jika masyarakat masih didominasi oleh pola kepatuhan mutlak kepada pemimpin kharismatik. Demokrasi hanya dapat ditegakkan dalam masyarakat yang mampu mengembangkan pola kepatuhan terbuka, rasional dan bisa diukur, dan kalau perlu sebuah kepemimpinan kotraktual.

Namun model kepemimpinan terbuka seperti itu memerlukan sebuah komunikasi yang intensif dan terbuka antara calon pemimpin dan calon pemilihnya. Sedangkan yang terjadi selama ini adalah komunikasi yang tertutup dan sepotong-sepotong, tidak seutuhnya dan tidak apa adanya.

Para calon pemimpin hanya mendatangi calon pemilihnya lewat iklan yang benar-benar telah dipoles sedemikian rupa hingga yang nampak adalah senyum mengembang, keramah tamahan, kesantunan yang kemudian ditutup oleh wajah cerah dari aktor yang berperan sebagai rakyat kecil. Kita lalu jarang bertemu iklan yang menawarkan program kerja nyata dan orisinal yang bisa menjadi bahan pemikiran cerdas bagi para calon pemilih untuk memilih pemimpin A dan tidak memilih pemimpin B.

Jika kita ingin berprasangka baik, maka mungkin kita bisa mengatakan bahwa iklan-iklan dari calon-calon pemimpin itu tidak sepenuhnya berbohong karena sebenarnya pencitraan atau simulasi-kata seorang pemikir pascamodern-adalah refleksi dari realitas dasar yang memang ada, tapi mengapa lalu realitas itu yang merepresentasikan semuanya? Mengapa realitas lainnya-yang buruk-buruk itu-kemudian terkubur dan karena tidak pernah ditampilkan-dengan sengaja-lalu dia menjadi bukan realitas; padahal dia adalah realitas juga yang sama nyatanya dengan fakta-fakta yang baik tersebut. Pada tahap inilah realitas dasar menjadi tertutupi dan lahirlah citra dan imaji yang tidak bergantung pada fakta manapun dan realita mana pun lalu realitas palsu pun menyebar. Sang pemikir pascamodern itu pun berkata: “Yang benar dan yang nyata mati, lenyap dalam longsoran simulasi.”

Jean Baudrillard mengistilahkan hal ini dengan proses Simulasi dan Simulacraa sebagai bagian dari kehidupan hiperrealitas. Simulasi adalah suatu proses di mana representasi  atau gambaran atas suatu objek menggantikan objek itu sendiri, dimana representasi itu menjadi hal yang lebih penting dibandingkan objeknya sendiri. Analoginya, bila suatu barang yang hendak dikonsumsi merepresentasikan atau menggambarkan suatu kemewahan, maka dalam simulasi, justru kemewahanlah yang mendahului fungsi barang tersebut. Manusia yang tertipu saat itu membeli image dan citra dari kemewahan ketimbang fungsi dari objek itu sendiri.

Agama dan politik pun tidak terlepas dari fenomena itu. Tidak heran jika banyak pesan-pesan dan jargon agama yang menjadi bagian dari komoditas sosial atau politik demi memperoleh penganut massa yang lebih besar. Para penyampai agama, kiai, pastur atau seorang dai, harus rela naik atau turun daun di panggung media massa dan masyarakat umum.

Ironisnya, di negara kita, kenyataan itu mendapatkan dukungan dari konstitusi yang ada. Durasi waktu sangat singkat yang disediakan oleh pihak berwenang tidak memungkinkan para calon pemimpin dan calon pemilih untuk berinteraksi dengan baik. Walaupun sebenarnya masih tanda tanya besar jika waktunya cukup panjang apakah para calon pemimpin bersedia untuk berinteraksi dengan calon pemilihnya atau tetap saja mereka bermain-main dengan wajah pencitraan yang manipulatif dan gaya kepemimpinan yang tertutup dan hanya mengandalkan kharisma atau imaji.

Pemimipin yang terpilih karena pencitraan akan memimpin dengan pencitraan dan kebijakan apapun yang dikeluarkannya adalah dalam rangka pencitraan itu sendiri. Karenanya, pemimpin seperti ini tidak akan memasuki ranah-ranah subtantif.

Pada level praktis, pencitran itu penting. Namun menjadi lacur tatkala ia hanya mendeskripsikan ulang eksistensi politik sebagai pencitraan belaka, tanpa didukung kerja keras yang konkret. Basis massa yang membanjiri momen-momen kampanye tak sebanding dengan menurunnya dukungan publik saat limpahan kesejahteraan sosial dan ekonomi yang tak lagi membanjiri hidup mereka. Harga-harga kebutuhan pokok yang terkait dengan hajat dasar hidup, sulit terjangkau. Sementara wakil mereka yang duduk di lembaga legislatif dan eksekutif tak kunjung usai mempersoalkan nasib kepentingan mereka sendiri.

Di sadari, politik memang bagian dari ‘dunia pencitraan’. Beraneka-ragam simbol dan seremoni yang dipoles dengan janji-janji menyatu dalam identitasnya. Muaranya adalah perolehan dukungan massa yang banyak, luas dan mengakar. Namun, seorang pemimpin adalah sosok yang bergerak dalam realitas riil. Pemimpin yang hanya bisa mengumbar ideologi tanpa didukung kerja konkret dan implikasi perubahan dan perkembangan hidup masyarakat, tidak akan laris untuk dikonsumsi.

Bagi Nurcholish Madjid, itulah makna dan pesan politik yang ideal. Politik yang pernah digaungkan para pemikir Yunani sebagai media pengabdian untuk rakyat. Pemimpin, yang menurut Plato-dan kemudian dilanjutkan oleh Al-Farabi-seharusnya dihuni oleh sosok dan figur filsuf atau orang bijak, karena merekalah yang memahami arti keutamaan (eudaimonia). Keutamaan adalah suatu hal yang ideal yang hanya bisa berbalas dan bernilai esoteris. Lakon kepemimpinan inilah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Saw di masa Madinah. Figurnya lahir dari sebuah ikatan kontrak sosial (bay’ah) antara dirinya dengan masyarakatnya. Ia menghimpun perbedaan untuk disatukan dalam sebuah kepemimpinan yang plural dan majemuk. Sosok Rasulullah Saw adalah sosok pembina konsensus (consensus builder), pemersatu, juru damai antara pihak-pihak yang beraneka ragam. Tipikal itu hanya bisa diraih jika concern kepada rakyat mendahului berbagai kepentingan pribadi atau pun golongan dan mendahului citra-citra.

Semoga kehidupan kita berbangsa dan bernegara senantiasa berada dalam hidayah dan rahmat Allah Swt.[]