Pemboikotan

0
117 views

Salah satu episode dari perjalanan dakwah Rasulullah saw adalah pemboikotan oleh kaum Quraisy kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya, hal ini dilakukan oleh kaum Quraisy setelah segala cara sudah ditempuh dan tidak membuahkan hasil, kaum musyrikin mencapai puncaknya kepanikan, Bani Hasyim dan Bani ‘Abdul Muththalib bersikeras akan menjaga Nabi saw dan membelanya mati-matian apapun resikonya. Kemudian Kafir Quraisy berkumpul di kediaman Bani Kinanah yang terletak di lembah al-Mahshib dan bersepakat untuk:
Pertama, Mereka tidak boleh menikahi wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Kedua, Mereka tidak boleh menikahkan putri-putri mereka dengan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Ketiga, Mereka tidak boleh menjual apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Keempat, Mereka tidak boleh membeli apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
Perjanjian tersebut ditulis oleh Manshur bin Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya adalah An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah saw mendoakan kehancuran atasnya, maka lumpuhlah sebagian jari Manshur bin Ikrimah.
Perjanjian itu digantungkan di rongga Ka’bah, dan mulai dilaksanakan pada malam bulan Muharram tahun ke-7 dari bi’tsah (diutusnya beliau sebagai Rasul). Bani Hâsyim dan Bani al-Muththalib semuanya, baik yang masih kafir maupun yang sudah beriman selain Abu Lahab tetap berpihak untuk membela Rasulullah saw. Mereka akhirnya tertahan dikediaman Abu Thalib. Mereka diboikot di Syi’ib (kediaman) Abu Thalib, di kaki bukit Abu Qubays, bagian Mekkah sebelah timur, dekat dengan bukit Shofa. Syi’ib Abu Thalib berbentuk sebuah pelataran sempit yang dikelilingi dinding batu terjal lagi tinggi, tidak dapat dipanjat. Orang hanya dapat masuk keluar dari sebelah barat melalui celah sempit setinggi kurang dari dua meter, yang hanya dapat dilewati unta dengan susah payah.
Kondisi Bani Muthalib dan Bani Hasym.
Pemboikotan membuat stock makanan habis, Sementara kaum musyrikin tidak membiarkan makanan apapun yang masuk ke Mekkah atau dijual kecuali mereka segera memborongnya.Tidak ada yang sampai ke tangan mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi. Merekapun tidak keluar rumah untuk membeli keperluan keseharian, kecuali pada al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang diharamkan berperang). Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Mekkah. Akan tetapi penduduk Mekkah menaikkan harga barang-barang beberapa kali lipat, agar mereka tidak mampu membelinya.
Hakîm bin Hizâm pernah membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadîjah, namun suatu ketika dia dihadang oleh Abu Jahal dan diinterogasi guna mencegah upayanya. Untung saja, ada Abu al-Bukhturiy yang menengahi dan membiarkannya lolos membawa gandum tersebut kepada bibinya. kondisi Bani Hâsyim dan Bani al-Muththalib semakin kepayahan dan memprihatinkan, mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Abu Thalib juga khawatir atas keselamatan Rasulullah saw. Abu Thalib memerintahkan beliau untuk berbaring di tempat tidurnya untuk memudahkannya mengetahui siapa yang hendak membunuh beliau. Ketika orang-orang sudah tidur, dia memerintahkan salah satu dari keluarganya untuk tidur di tempat tidur Rasulullah saw, sementara beliau saw diperintahkan untuk tidur di tempat tidur mereka.
Pembatalan Perjanjian
Pemboikotan tersebut berlangsung selama tiga tahun penuh. Pada bulan Muharram tahun ke-10 dari kenabian terjadi pembatalan, karena rusaknya shahifah perjanjian tersebut. Kaum Quraisy tidak semua menyetujui perjanjian tersebut, maka pihak yang kontra ini akhirnya berusaha untuk membatalkan shahifah tersebut. Diantara tokoh yang melakukan itu adalah Hisyâm bin ‘Amru dari suku Bani ‘Âmir bin Luay, Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzûmiy (ibunya bernama ‘Âtikah binti ‘Abdul Muththalib), Al-Muth’im bin ‘Adiy, Abu al-Bukhturiy bin Hisyâm, Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muththalib bin Asad. Mereka berkumpul di pintu Hujûn, mereka berjanji akan melakukan pembatalan terhadap shahifah. Zuhair berkata: “Akulah yang akan memulai dan orang pertama yang akan berbicara”. Ketika paginya, mereka pergi ke tempat perkumpulan. Zuhair datang dengan mengenakan pakaian kebesaran lalu mengelilingi ka’bah tujuh kali kemudian menghadap ke khalayak seraya berkata:
“Wahai penduduk Mekkah! Apakah kita tega bisa menikmati makanan dan memakai pakaian sementara Bani Hasyim binasa, tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka? Demi Allah! aku tidak akan duduk hingga shahifah yang telah memutuskan rahim dan zhalim ini dirobek!”.
Abu Jahal yang berada di pojok masjid menyahut: “Demi Allah! engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!”. Lalu Zam’ah bin al-Aswad berkata: Demi Allah! justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya ketika ditulis waktu itu”. Setelah itu, Abu al-Bukhturiy menimpali: “Benar apa yang dikatakan Zam’ah ini, Kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya”. Berikutnya, giliran al-Muth’im yang menambahkan: “mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari shahifah tersebut dan apa yang ditulis didalamnya”. Hal ini juga diikuti oleh Hisyam bin ‘Amru yang menimpali seperti itu pula.
Abu Jahal kemudian berkata dengan kesal:”urusan ini telah diputuskan di tempat selain ini pada malam dimusyawarahkannya saat itu!”. Saat itu Abu Thalib tengah duduk di sudut al-Masjid al-Haram. Rasulullah saw yang telah diberitahu oleh Allah perihal shahifah tersebut bahwa Allah swt telah mengirim rayap-rayap untuk memakan semua tulisan yang berisi pemutusan rahim dan kezhaliman tersebut, kecuali tulisan yang ada nama Allah swt di dalamnya.
Abu Thâlib datang kepada kaum Quraisy. Memberitahukan kepada mereka tentang apa yang telah diberitahukan oleh keponakanya kepadanya. Dia menyatakan: “ini untuk membuktikan apakah dia berbohong sehingga kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya, demikian pula sebaliknya, jika dia benar maka kalian harus membatalkan pemutusan rahim dan kezhaliman terhadap kami”. Mereka berkata kepadanya: “kalau begitu, engkau telah berlaku adil”. Setelah terjadi pembicaraan panjang antara mereka dan Abu Jahal, berdirilah al-Muth’im menuju shahifah untuk merobeknya. Ternyata dia menemukan rayap-rayap telah memakannya kecuali tulisan “bismikallâh” (dengan namaMu ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah swt di dalamnya dimana rayap-rayap tersebut tidak memakannya. Lalu dia membatalkan shahifah tersebut, sehingga Rasulullah saw bersama orang-orang yang ada di kediaman Abu Thalib dapat leluasa keluar. Ketika itu sungguh kaum musyrikin telah melihat tanda yang agung sebagai bagian dari tanda-tanda kenabian beliau saw, akan tetapi mereka tetaplah sebagai yang difirmankan oleh Allah swt:

وَإِنْ يَرَوْا آيَةً يُعْرِضُوا وَيَقُولُوا سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ

“Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mu’jizat), mereka berpaling dan berkata:”(Ini adalah) sihir yang terus menerus”. (QS. al-Qamar[54]:2).
Pelajaran dari kisah pemboikotan kaum kafir Quraisy kepada Rasulullah saw dan sahabatnya adalah bahwa perjuangan menegakkan kebenaran akan dihadapkan dengan berbagai ujian dan rintangan, tetapi masalah yang dihadapi oleh Rasulullah saw menjadikan beliau dan para sahabatnya semakin tegar dan yakin akan kebenaran dan pertolongan dari Allah swt, maka Allah swt mengirim salah satu makhluqnya berupa rayap untuk memakan surat perjanjian, yang akhirnya dengan rusaknya surat perjanjian tersebut selesailah pemboikotan yang dialami oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya. Dan semoga kita ditampakkan oleh Allah swt kebenaran dan bisa mengikutinya dan menjalankannya.
Referensi:
1. Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyah
2. Shofiyurrahman al-Mubarokfuri, Ar-Rahiqul makhtum
3. Said Ramadhan Al-Buti, Sirah Nabawiyah

BAGI
Artikel SebelumnyaBasmalah
Artikel BerikutnyaBerat