Pemaaf Sifat Mulia

0
43 views

Salah satu di antara ajaran Islam yang sangat agung adalah ajaran untuk saling memaafkan. Memafkan berarti orang lain yang yang mempunyai kesalahan kemudian kita memberi maaf. Sementara kalau kita yang mepunyai kesalahan maka wajib bagi kita untuk meminta maaf.

Orang yang mulia adalah orang yang suka memafkan. Dalam sebuah hadis yang di riwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:

Musa bin Imran as, berkata: Wahai Tuhanku diantara hamba-hamba-Mu, siapakah orang yang paling mulia dalam pandangan-Mu ? Allah Azza Wajalla menjawab, “ Orang yang memaafkan walaupun ia mampu membalas. “ ( HR. Imam Baihaqi )

Memafkan sesorang yang kita tidak mampu membalasnya adalah baik dan sedikit wajar, karena posisi kita pada saat itu lemah. Sementara memaafkan seseorang yang kita mampu untuk membalasnya adalah lebih baik dan lebih mulia karena pada saat itu posisi kita kuat dan bisa melakukan apa saja. Ketika seseorang berusaha untuk menjadi Pemaaf berarti ia telah berusaha untuk meniru sipat Allah Al-‘Afuwwu yang maha memafkan. Seorang yang memaafkan orang lain adalah orang yang menghapus luka hatinya akibat kesalahan yang di lakukan orang lain terhadapnya. M.Quraish Shihab dalam tafsirnya al-Misbah mengatakan, dalam kontek menghadapi kesalahan orang lain Allah swt menujukan tiga kelas manusia atau jenjang sikapnya sebagaimana yang terdapat dalam surat ali imran ayat 34, pertama : yang mampu menahan amarah atau al-Kazhimiin, yang bermakna “ penuh dan menutupnya dengan rapat “ seperti wadah yang penuh dengan air lalu di tutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan tidak bersahabat masih memenuhi hati yang bersangkutan, pikirannya masih menuntut balas, tetapi ia tdak memperturutkan ajakan hati dan pikiran itu, ia menahan amarah. Ia menahan diri sehingga tidak mencetuskan kata kata buruk atau perbuatan negatif. Di atas tingkat ini adalah yang memaafkan atau al-Aafin, kata ini terambil dari kata al-Afwu yang biasa di terjemahkan dengan kata “ maaf “ kata ini antara lain berarti menghapus. Seseorang yang memaafkan orang lain adalah yang menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan yang di lakukan orang lain terhadpnya. Kalau dalam peringkat pertama di atas, yang bersangkutan baru sampai pada tahap menahan amarah, kendati bekas bekas luka hati itu masih memenuhi hatinya, maka pada tahap ini, Yang bersangkutan telah menghapus bekas bekas luka hati itu. Kini seakan-akan tidak pernah terjadi satu kesalahan atau suatu apapun. Namun, karena pada tahap ini, seakan akan tidak pernah terjadi sesuatu, maka boleh jadi juga tidak terjalin hubungan. Untuk mencapai tingkat ketiga, Allah mengingatkan bahwa yang di sukainya adalah orang orang yang berbuat kebajkan, yakni bukan yang sekedar menahan amarah atau memaafkan, tetapi justru yang berbuat baik kepada yang pernah melakukan kesalahan. Semua orang bisa bersabar apabila ia terpaksa bersabar karena tidak memiliki kemampuan lain untuk membalas. Tetapi yang lebih sempurna adalah apabila ia mampu bersabar padahal ia mempunyai kekuatan untuk marah atau melakukan pembalasan. Telah diterangkan dalam sebuah hadis bahwa di sisi Allah swt, tidak ada perkara yang lebih disukai selain dari melihat manusia yang menahan kemarahannya. Allah swt, kemudian memenuhi batin orang itu dengan keimanan. Di dalam hadis lain dikatakan barangsiapa mempunyai kekuatan untuk membalas, namun dia menahan kemarahannya, maka pada hari kiamat, Allah akan memanggil dia di hadapan semua makhluk dan menyuruhnya, “ Pilihlah bidadari-bidadari yang kamu sukai.”

Rasulullah saw. bersabda, “ orang yang paling kuat bukanlah orang yang dapat menjatuhkan orang kuat lainnya, tetapi orang kuat kuat yang sejati adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”. Ali bin Imam Husain rah.a. suatu ketika sedang ditolong oleh hamba sahayanya untuk mengambil wudhu. Tiba-tiba lota (cerek) airnya jatuh dari tangan hamba sahaya itu dan mencederai wajah Ali rah.a. Ketika beliau melihat hamba sahaya itu dengan pandangan marah, hamba sahaya itu berkata bahwa Allah Swt, berfirman:  “dan orang orang yang menahan amarahnya”.

Ali rah.a. kemudian berkata, “Aku menelan kemarahanku.”

Lalu hamba sahaya itu membaca lagi: “dan memaafkan kesalahan orang lain”.

Beliau menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengampuni engkau.”

Lalu dia membaca: “dan Allah menyukai orang orang yang berbuat kebaikan”.

Maka beliau berkata, “Engkau sekarang telah bebas.”

Suatu ketika hamba lelaki beliau datang membawa mangkuk berisi kuah daging yang masih panas untuk disajikan kepada tamu. Tiba-tiba mangkuk itu jatuh dari tangannya dan menimpa kepala anak beliau yang masih kecil sehingga anak itu meninggal dunia seketika. Beliau kemudian berkata kepada hamba tersebut, “Kamu telah bebas”. Kemudian beliau bersiap-siap untuk memandikan dan mengafani anaknya. Sungguh berbahagia orang yang suka memberi maaf, tidak pernah menyimpan dendam di dalam hatinya. Karena  ketika seseorang menyimpan dendam dalam hati, maka secara tidak sadar ia telah menyiksa dirinya. Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang pemaaf, sehingga ikut andil dalam menciptakan suasana dunia yang damai , aman dan sentosa. Amin…     

BAGI
Artikel SebelumnyaMazhab
Artikel BerikutnyaSaling Memaafkan