Pelopor Kedermawanan

0
19 views

Perkawinan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Rasulullah saw  menghasilkan beberapa anak. Salah satunya adalah Hasan. Hasan yang dilahirkan pada pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijrah disambut oleh Rasulullah saw, kakeknya dengan penuh kegembiraan.

Banyak riwayat yang menunjukkan betapa cinta Rasulullah saw kepada cucunya itu, diantaranya ketika beliau sedang memimpin shalat berjamaah, kala itu Rasul rukunya cukup lama sehingga menimbulkan tanda tanya para sahabat yang menjadi jamaahnya. Rasul kemudian menjawab bahwa rukunya cukup lama karena Hasan menaiki punggungnya hingga puas dan dia turun lagi, sedang waktu sujud juga lama karena cucunya menaiki punggungnya hingga puas dan turun lagi.

Hasan adalah cucu Rasul yang luas ilmunya dan mulia akhlaknya. Suatu ketika, Hasan yang memakai pakaian bagus berjumpa dengan orang Yahudi yang berpakaian jelek, tubuhnya lemah dan raut wajahnya murung. Hasan agak heran dengan orang tua Yahudi itu karena dia memandangi Hasan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Orang Yahudi itu berkata: “Kakekmu pernah berkata bahwa dunia ini penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir, terus terang aku justeru melihat sebaliknya bila aku melihat diriku dan dirimu?”.

“Darimana engkau berkesimpulan begitu?”, tanya Hasan.

“Engkau hidup senang bagai di surga dan aku hidup susah bagai di neraka”, jawab kakek Yahudi itu.

“Engkau keliru, apa yang Allah berikan kepadaku di surga nanti, kesenanganku di dunia ini tak ada artinya, dan sebaliknya kesusahanku yang engkau akan dapatkan di akhirat nanti akan engkau sadari bahwa ini lebih baik dari siksaan Allah”, jawab Hasan yang membuat orang Yahudi itu tercengang.

Kalau soal kedermawanan, tak ada yang bisa meragukannya. Suatu ketika, Hasan mendengar seseorang berdo’a mengadukan kesulitannya kepada Allah. Setelah orang itu selesai berdo’a, Hasan bermaksud menolongnya dengan memberikan uang dalam jumlah yang cukup bnyak guna mengurangi kesulitannya. Setelah menerima uang itu tentu saja sang pembaca do’a amat kegirangan.

Suatu ketika, dari Madinah Hasan berangkat menunaikan ibadah haji ke Makkah bersama adiknya Husein dan Ja’far bin Abdullah, sahabatnya. Di tengah perjalanan ketiga orang ini kehabisan bekal sehingga mampir ke suatu rumah sederhana. Setelah memberi salam dan dijawab salamnya, seorang wanita tua datang menemuinya, dia bertanya: “Darimana kalian?”.

“Kami dari Madinah, kami adalah orang-orang Quraisy”, jawab Hasan lembut.

“Mau kemana kalian?”, tanya nenek itu lagi.

“Kami hendak menunaikan ibadah haji, tapi kami kehabisan bekal, apakah ibu punya air yang bisa kami bawa?”, tanya Hasan lagi.

“Ada dan bawalah ini, adakah kalian punya makanan?, tanya nenek itu.

“Tidak, kalau ibu punya kami akan membelinya”, jawab Hasan.

“Tidak usah kalian membelinya, aku hanya punya seekor domba, kalian bisa memakannya dan membawanya sebagai bekal”, jawan sang nenek.

Domba itu kemudian dipotong, dimasak, dimakan dan sisanya sebagai bekal buat Hasan bertiga.

Dengan mengucapkan terima kasih dan berdo’a atas kebaikan ibu, Hasan berharap agar bila sang ibu kelak ke Madinah sudilah kiranya mampir ke rumah Hasan.

Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa waktu kemudian, desa tempat sang nenek itu tinggal dihinggapi musim paceklik sehingga penduduknya banyak yang mengungsi ke Madinah dan bebrapa kota lainnya. Sang nenek bersama suaminya berangkat menuju Madinah. Ketika ibu itu lewat di depan rumah Hasan, Hasan sedang duduk-duduk di teras rumahnya, Hasan melihat sang nenek, tapi nenek itu sudah tidak mengenalnya lagi. Nenek itu dikejarnya dan disuruhnya mampir ke rumah. Hasan berusaha menanamkan daya ingat kepada sang nenek. Setelah sang nenek beserta suaminya diberi makan, lalu keduanya hendak pamit, maka Hasan memberinya uang seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Atas perintah Hasan, orang itu diantar oleh pembantu Hasan ke rumah Husen dan Ja’far, keduanya memberi masing-masing seribu dinar dan beberapa ekor kambing. Kakek dan nenek itu tentu amat bahagia karena telah memiliki beberapa ekor kambing dan tiga ribu dinar. Sekembalinya ke kampung halaman, kakek dan nenek itu menjadi orang yang paling kaya di desanya, Allah swt memang selalu membalas kebaikan seseorang, di dunia maupun di akhirat.

Begitulah Hasan yang luas ilmunya dan menjadi pelopor dalam kedermawanan. Semoga kita bisa menirunya dalam hidup ini.    

Dari kisah di atas, pelajaran yang kita peroleh adalah:

 

1.    Tolong menolong tidak hanya kewajiban, tapi juga kebutuhan setiap orang.

2.    Orang yang suka menolong akan mendapatkan balasan pertolongan yang lebih besar lagi, meskipun hal itu bukan sesuatu yang diharapkannya.