Pelarangan Burqa Eropa dan Hegemoni Budaya

0
9 views

Setelah Angkatan Darat Inggris menaklukkan wilayah (sekarang Pakistan) pada tahun 1840-an, Jenderal Charles Napier memberlakukan larangan praktik sa ti – pembakaran hidup-hidup para janda pada pemakaman suami mereka. Sebuah delegasi pemimpin Hindu mendekati Napier mengeluhkan bahwa tradisi kuno mereka telah dilanggar. SangJendral menjawab:“Anda mengatakan bahwa sudah tradisi Anda untuk membakar janda. Baiklah. Kami juga mempunyai adat kebiasaan: Ketika ada laki-laki yang membakar seorang wanita hidup-hidup, kami akan mengikat lehernya dan menggantungnya.

Anda tetap boleh memberlakukan tradisi Anda. Dan kemudian kami memberlakukan tradisi kami.

http://s605.photobucket.comInsiden ini bukan model model yang baik dalam hubungan lintas-budaya, bahkan hal itu akan memantik ketegangan. Konflik dapat muncul antara penghormatan kepada budaya lain dengan penghoramtan terhadap hak asasi manusia universal.

Hal ini terutama berlaku bila menyangkut hak-hak perempuan. Masyarakat tradisional bisa menjadi sangat mengagumkan – konservatif, berorientasi keluarga, stabil, bijaksana terhadap sifat manusia dan masyarakat. Tapi mereka juga dapat sangat patriarkal—menurut versi Barat—dibuktikan dengan praktek-praktek seperti sati, pemasungan, pewarisan janda dan khitan perempuan. Ini bukan untuk mengatakan bahwa modern berarti hak-hak berbasis masyarakat berdiri tanpa kesalahan dan kegagalannya sendiri, melainkan hanya untuk menyadari bahwa multikulturalisme dan hak asasi manusia kadang-kadang dapat saling bentrok.

Untuk sebagian besar kasus, ketegangan ini tidak lagi muncul melalui kolonialisme—seperti dulu—tetapi melalui migrasi, yang dapat mencangkokkan budaya tradisional persis di tengah-tengah satu budaya liberal yang agresif. Area yang paling sering sering memunculkan perbedaan adalah area yang kasat mata terlihatkatakanlah dalam hal pakaiandapat memicu kontroversi, seperti pemakaian burqa yang sekarang ada di Eropa.

Belgia bergerak menuju larangan total pada penutupan wajah dengan jilbab di depan umum. Polisi Italia baru-baru ini mendenda seorang wanita karena mengenakan burqa. Di Perancis, undang-undang pelarangan pakaianyang dirancang untuk menyembunyikan wajah kemungkinan akan diperkenalkan pada bulan Juli. Burqa bukanlah simbol agama, kata Presiden Prancis Nicolas Sarkozy. “Itu adalah tanda kepatuhan. Ini tidak akan diterima di wilayah Republik Perancis.

Perbedaan pandangan di antara wanita Islam tentang burqa sering memanas. Hal ini yang diharapkan, karena penutupan wajah dalam arti agama berarti hal yang berbeda dalam konteks yang berbeda. Hal ini dapat menjadi sebuah “tas tubuh” yang ditempatkan pada perempuan tidak mau dengan mengancam kebijakan sanak keluarga dan agama. Hal ini dapat, menurut salah satu kritikus, menjadi “proses isolasi diri dan pengasingan yang menyedihkan. Tapi itu juga dapat menjadi cara bagi perempuan dari latar belakang tradisional untuk mempertahankan masa depan pernikahan mereka dan kehormatan keluarga dalam pengaturan jenis kelamin yang berbeda. Banyak wanita yang mengenakan burqa sepenuhnya sadar akan pilihan yang mereka buat.

Motif para pemimpin Eropa dalam kontroversi ini kurang simpatik. Beberapa di antara mereka berbicara tentang penipuan (dan itu absurd) dan juga motif keamanan untuk melarang burqa. Siapa yang tahu apa yang mereka sembunyikan? Namun jika itu yang dijadikan standar, maka perang melawan terorisme akan memandatkan pemakian bikini. Tujuan sesungguhnya dari larangan burqa adalah untuk menegaskan identitas budaya Eropa yang sekuler, liberal dan individualistik dengan mengorbankan minoritas agama tradisional.

Sebuah bangsa seperti Perancis, yang bangga akan sikap relativistiknya pada isu-isu besar, yakin akan superioritas budaya dalam hal kebebasan seksual. Sebuah negara dengan pantai yang telanjang dada mempertimbangkan pelarangan atas nama kesederhanaan yang berlebihan. Ibu kota mode dunia, di mana perempuan seringkali terlalu diekspos dan dijadikan objek, justeru menguliahi budaya lain tentang martabat perempuan.

Tanpa mengabaikan pendapat orang lain, saya pikir burqa itu menindas. Sepertinya dirancang untuk membatasi gerakan, membiarkan wanita canggung, tak berdaya, tergantung dan anonim. Namun sebagian besar perempuan Muslim tidak memakai penutup lengkap karena mandat al-Quran hanyalah kerendahan hati, bukan penjara busana.

Tapi pada isu di Eropa itu bukan perbedaan masyarakat; itu kriminalisasi. Dalam hal kebebasan beragama, tidak ada aturan mudah dan kaku. Pemerintah menerapkan uji keseimbangan. Sebuah tradisi yang membakar janda atau gadis-gadis muda, memutilasi fisik akan membenarkan pendekatan Napier. Beberapa hal sangat mendasar bahwa mereka harus dipertahankan dalam setiap kasus.

Tapi jika mayoritas demokratis dapat memaksakan kehendaknya pada minoritas agama untuk alasan apapun, kebebasan beragama tidak ada artinya. Negara harus memiliki justifikasi publik yang kuat untuk memaksakan suatu hal, terutama pada masalah seperti pakaian yang dipakai warga.

Di Perancisdi mana hanya ada beberapa ribu perempuan dari lima juta muslim yang memakai burqalarangan adalah hanya sebuah ekspresi simbolis untuk menghina minoritas tidak populer. Upaya seperti itu tidak ada gunanya selain melahirkan kebencian.

By Michael Gerson adalah kolumnis Washington Post.

Sumber: www.thejakartaglobe.com