Pejuang yang Dermawan

0
94 views

Ketika Thalhah berdagang ke kota Bashrah, ia bertemu seorang pendeta yang amat baik. Pendeta itu menyatakan bahwa di kota Makkah akan muncul seorang rasul dan kini masanya sudah tiba. Thalhah diperingatkan agar jangan sampai mengabaikan kerasulan itu.

Ternyata benar, ketika Thalhah tiba di Makkah, banyak orang membicarakan Muhammad Al Amin. Thalhah kemudian menyatakan kepada Abu Bakar Ash Shiddiq tentang itu dan ternyata ia mengetahui bahwa Abu Bakar memang berada di samping Nabi Muhammad saw dalam perjuangan menyiarkan Islam. Ia menjadi rindu kepada Muhammad yang agung dan akhirnya ia pun masuk Islam.

          Ketika ia menjadi muslim dan banyak lagi orang-orang Quraisy yang masuk Islam, orang-orang kafir tentu saja semakin tidak senang, bahkan sampai terjadi beberapa kali peperangan antara orang kafir itu dengan orang-orang Islam. Salah satunya adalah perang Uhud yang merupakan perang untuk balas dendam atas kekalahan orang kafir terhadap kaum muslimin.

          Perang Uhud memang sangat dahsyat. Bahkan, Rasulullah menjadi sasaran empuk sehingga dari pipinya mengucur darah segar, sedang beliau menahan sakit yang sangat, sementara tentara kafir itu masih saja menyerang Nabi. Segera Thalhah melindungi Nabi dengan pedang yang terus diayunkan ke kiri dan ke kanan sambil menolong Rasul yang kakinya terperosok ke lubang, diangkatnya Rasul dan dipindahkannya ke tempat yang aman, sementara sebelah tangannya terus mengayunkan pedangnya guna menahan serangan-serangan kaum kafir.

          Rasulullah memang selamat, tapi Thalhah mengalami luka-luka yang sangat berat. Abu Bakar menceritakan: “sekujur tubuh terdapat lebih dari tujuh puluh luka berupa tusukan tombak, sabetan pedang dan tancapan panah, bahkan anak jarinya putus.”

          Thalhah merupakan salah seorang sahabat yang hartanya banyak, tapi ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk memperjuangkan tegaknya agama Islam, karena itu Rasulullah memberi gelar ”si baik hati, pemurah dan dermawan.”

          Suatu hari Thalhah duduk dengan wajah duka, isterinya Su’da bin Auf bertanya: “ada apa dengan kanda?.

          “Soal harta yang ada padaku ini yang semakin banyak hingga menyusahkan dan menyempitkanku,” jawabnya.

          “Tak usah bingung, bagi-bagikan saja pada mereka yang miskin.” jawab isterinya lagi.

          Thalhah kemudian berdiri lalu membawa hartanya dan membagi-bagikannya pada mereka yang miskin hingga habis seluruh uangnya.

          Suatu ketika, Thalhah menjual tanahnya dengan harga yang mahal, maka menangislah ia melihat tumpukkan uang yang begitu banyak, lalu ia pun membagi-bagikannya kembali kepada orang miskin hingga habis.

          Para sahabat berkata: “tak seorangpun dari Bani Taim yang mempunyai tanggungan melainkan dicukupinya perbelanjaan keluarganya, dinikahkannya anak-anak yatim mereka, diberinya pekerjaan dan dilunasinya hutang-hutang mereka.”

Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah:

1.     Hidup di dunia yang sebentar seharusnya bisa meninggalkan kenangan dan keteladanan yang baik.

2.     Salah satu kenangan dan keteladan yang baik adalah mendermakan harta untuk kebaikan orang banyak.

BAGI
Artikel SebelumnyaMemenuhi Akad
Artikel BerikutnyaDan Masjid Pun Menangis