Pedang

0
393 views
alphonseelric411.deviantart.com

by Dr. Abd. Muid N., MA.

Ketika pedang berkelebat menebas orang-orang yang sedang beribadah itu, apa yang sedang berdiam di pikiran orang yang menggegam pedang? Barangkali baginya, orang-orang yang sedang beribadah itu adalah musuh karena mereka adalah orang kafir. Ya, bagi seorang beragama, orang yang beragama berbeda memanglah kafir. Karena itu, sesungguhnya penggenggam pedang itu juga adalah kafir bagi orang yang ditebasnya. Kafir adalah satu hal dan menebas orang kafir adalah hal yang berbeda, tidak harus serumah.

Tapi jika pedang menebas hanya karena yang ditebas adalah orang kafir, rasanya terlalu sederhana dan terlalu tega. Tentulah ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih rumit daripada sekadar kekafiran dan tebasan pedang. Ya, konon di dunia pramodern, agama meresap ke setiap aspek kehidupan. Kegiatan-kegiatan yang oleh orang modern dianggap sebagai sesuatu yang duniawi, dulu, di dunia pramodern dianggap hal yang teramat sakral: pembukaan hutan, berburu, pertandingan, permainan, astronomi, pertanian, pembangunan negera, olah raga, tata kota, perdagangan, dan terutama peperangan.

Karenanya, tindakan menebas pedang memang terlalu sederhana jika dikaitkan dengan sekadar kekafiran dan itupun dengan mamakai alam berfikir dunia modern kita. Berbeda kalau tebasan pedang itu dibaca lewat sudut pandang dunia pramodern karena sangat mungkin kilatan pedang itu meluapkan sensasi ekstasi luar biasa bagi pelakunya, semacam tindakan religius. Serupa dengan sederhananya perjalanan kaki seorang ke masjid, sinagog, atau gereja. Bagi otak modern yang sekular, perjalanan itu tidak beda dengan perjalanan ke sebuah mall atau bioskop.

Kata kuncinya adalah ada sesuatu yang lebih besar daripada tebasan pedang itu sendiri atau perjalanan ke tempat ibadah itu sendiri dan pada sesuatu itulah kegiatan yang sederhana tersebut dicantolkan. Sesuatu yang lebih besar itu dinggap dititahkan oleh sosok yang juga jauh lebih besar dari orang yang menggenggam pedang.

Semua itu berawal dari kenyataan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna. Karenanya, setiap sesuatu, oleh manusia, senantiasa dicarikan maknanya, apapun itu. Sesuatu yang sepele menjadi tidak sepele karena makna yang dipahami ada di balik sesuatu tersebut.

Tebasan pedang di tengkuk orang kafir yang sedang beribadah itu, bagi pelakunya barangkali bermakna tumbal atas satu kapling untuknya di surga. Bagi yang lain, menjaga keamanan beribadah meskipun umat berbeda agama justeru adalah cara efektif mendapatkan kenikmatan surga. Bagi kita, mungkin lain lagi. Yang pasti, kita semua adalah para pencari makna. Hanya saja dalam hati kecil ini, kita tahu mana pencari makna yang lucu dan mana pencari makna yang benar-benar tidak waras.[]

Bahan Bacaan

Karen Armstrong, Fields of Blood: Mengurai Sejarah Hubungan Agama dan Kekerasan, (Bandung: Mizan, 2017).