Paradoks Ka’bah

0
166 views
generalcomtech.com

Oleh Dr. Abd. Muid N., MA.

Ka’bah adalah sebuah paradoks. Mungkin puncaknya paradoks dalam ajaran Islam. Betapa tidak. Seluruh umat Islam menghadapnya kala shalat dan karena itulah ia disebut qiblah, namun benarkah umat Islam menghadapkan jiwa raganya ke Ka’bah kala shalat? Ka’bah disebut Bayt Llâh, “Rumah Allah”. Bayt bermakna rumah tempat menghabiskan malam. Namun benarkah Allah swt bermalam di sana? Bukankah Allah swt tidak dikungkung oleh ruang dan waktu?

Dalam haji, umat Islam mendatangi Ka’bah karena adanya panggilan, tatapi apakah itu panggilan sang Ka’bah? Bukankah itu panggilan Nabi Ibrahim as? Paradoks-paradoks itulah yang membuat seorang Rabiah al-Adawiyah, seorang perempuan sufi, berkata: “Inilah Bayt Llâh di muka bumi di mana orang-orang menghadap kepadanya untuk menyembah Allah swt, sedangkan Allah swt tidak pernah masuk ke dalamnya atau meninggalkannya.”

Paradoks Ka’bah menjalar ke haji. Kesemarakan haji di Tanah Suci berbanding lurus dengan kesemarakan korupsi di tanah air. Egalitarianisme jamaah haji yang tanpa pandang strata sosial melebur dalam kebersamaan dan keseragaman busana serta ketundukan hati di hadapan Allah swt di Tanah Suci kembali mengeras dan mengelompok, bahkan memecah saat kembali ke tanah air masing-masing.

Ada kemungkinan paradoks haji justeru muncul akibat gagal paham terhadap paradoks Ka’bah. Paradoks Ka’bah adalah keniscayaan yang menyiratkan pelajaran, sedangkan paradoks haji adalah kegagalan paham terhadap pelajaran dari paradoks Ka’bah.

Paradoks Ka’bah mengajarkan adanya realitas di balik yang kasat mata. Realitas tersebut bahkan lebih nyata dari realitas kasat mata. Ka’bah adalah sesuatu yang kasat mata dan yang lebih penting dari Ka’bah adalah sesuatu yang tidak kasat mata, yaitu Allah swt itu sendiri. Ka’bah disebut “rumah” dan jauh lebih penting dari sebuah rumah adalah “penghuninya” atau “pemiliknya”. “Rumah Allah” tentu saja tidak penting jika dibandingkan dengan pemilik “Rumah Allah”, yaitu Allah swt.

Sama dengan yang terjadi pada ritual haji yang lain seperti thawaf. Ada yang jauh lebih penting daripada thawaf dalam arti mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali yaitu kesadaran bahwa seluruh makhluk hidup bergerak, dalam arti terus-menerus berubah dan lama-kelamaan akan sirna (fanâ’). Sedangkan Ka’bah yang dikelilingi diam tidak bergerak, yang melambangkan Allah swt yang kekal abadi. Seluruh makhluk berada dalam perputarannya menuju akhir perjalanan yaitu pada Allah swt.

Paradoks haji terjadi karena kita terpaku pada realitas yang kasat mata dan lupa bahwa ada realitas yang lebih nyata meski tidak kasat mata, yaitu Allah swt. Jika korupsi merajalela atau kekerasan, represi, diskriminasi rasial, dan kejahatan terhadap manusia tetap terjadi, maka itu adalah konsekuensi logis dari gagal paham paradoks Ka’bah hingga menganggap egoisme masing-masing individu dan kelompok lebih nyata daripada Allah swt itu sendiri. Atau gagal paham bahwa semua makhluk pasti sirna dan yang kekal hanya Allah swt, sebagaimana diajarkan oleh thawaf.[]

Bahan Bacaan

Javad Nurbakhsh, “Ciri-Ciri Khas Utama Sufisme dalam Periode Awal Islam”, dalam Warisan Sufi: Sufisme Persia Klasik dari Permulaan hingga Rumi (700-1300), Yogyakarta: Pustaka Sufi, 2002