Pancasila

0
48 views

Oleh Abd. Muid N.

Hingar bingar Pilpres 2009 begitu membahana hingga membuat isu-isu lain—yang mungkin tidak kalah penting—menjadi tidak lebih dari suara sumbang. Salah satu isu yang terbungkam adalah Hari Lahir Pancasila. Jadilah pada tanggal 1 Juni Pancasila memperingati ulang tahunnya sendiri.

Sejak era reformasi dimulai, Pancasila memang terlihat memudar kesaktiannya. Jika dulu pernah ada masa ketika Pancasila bisa dipakai laksana pedang yang mampu menebas apa saja yang dianggap bertentangan, maka kemudian datang suatu masa ketika menyebut kata Pancasila saja bisa dianggap tidak reformis dan itu berarti subversi, melawan arus.

Pernah ada suatu masa ketika Pancasila bisa merembes ke mana saja, juga ke dalam agama Islam lalu para cendekiawan Muslim berlomba-lomba memberikan legitimasi bagi Pancasila dengan dalil-dalil yang dianggap sejalan. Namun kini, bahkan untuk menjadi sebuah judul artikel dalam sebuah situs Islami saja, Pancasila bisa dianggap benda asing.

Mungkin itu bukan salah Pancasila-nya karena ia sendiri adalah produk jenius masanya, tapi—mengutip As`ad Said Ali, mantan mahasiswa LIPIA yang menulis Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa (Jakarta: LP3ES, 2009)—Pancasila sudah terlalu lama terseret dalam berbagai kepentingan politik yang menjadikan wajah Pancasila babak-belur.

Saya tidak bermaksud menyejajarkan Islam dengan Pancasila karena Pancasila adalah produk sebuah kesepakatan sekelompok manusia, tapi saya teringat salah satu sabda Rasulullah saw.: Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Kita tentu sepaham bahwa bukan Islamnya yang berubah-ubah dari asing menjadi akrab, lalu menjadi asing kembali, tetapi manusia yang menjadi konsumen Islam itu yang berubah-ubah.

Ketika Islam datang dengan panji-panji keadilan, persamaan hak, toleransi, dan penghargaan terhadap kaum marjinal (miskin, yatim, janda, duafa), Islam adalah konsep yang asing di dalam masyarakat atau rezim yang zhalim. Dan Islam pun diperangi. Tapi Islam menang karena universalitas konsepnya, Islam tidak lagi asing dan peradaban baru pun lahir. Islam menjadi rahmat.

Ketika berbagai kepentingan politik dan ekonomi menjadi mendung yang memuramkan gemilang nuansanya, Islam lalu kehilangan universalitasnya karena telah menjadi milik segelitir orang yang merasa paling benar dan merasa berhak menghancurkan apa pun yang berbeda darinya, Islam pun kembali jadi benda asing; bahkan bagi penganutnya sendiri.[]