OBJEK DAKWAH

0
10 views

Dakwah merupakan tugas yang mulia, penting dan dibutuhkan. Disebut mulia karena dakwah merupakan tugas nabi yang bila kita lanjutkan tentu menjadi sangat mulia. Disebut penting karena dakwah itu hendak mengubah orang dari keadaan yang apa adanya kepada yang seharusnya menurut Allah swt dan Rasul-Nya. Dan dakwah juga dibutuhkan karena orang yang baik saja membutuhkan dakwah, apalagi orang yang belum baik dan begitu banyak orang yang belum baik sehingga sadar atau tidak, semua manusia membutuhkan dakwah. Karena itu, setiap kita harus terlibat dalam melanjutkan tugas dakwah.

 

Lalu, kepada siapa dakwah ditujukan?. Paling tidak kepada tiga kelompok orang yang kita bahas pada tulisan ini.

 

1.    Kafir Agar Muslim.

 

Dalam bahasa Arab kufur berarti menutupi.Kufur adalah menutup hati dan pikiran dari menerima kebenaran yang datang dari Allah swt, mengingkari makna syahadat adalah kufur, mengingkar bagian vital ajaran Islam yang diharamkan seperti riba atau apa yang diwajibkan seperti shalat adalah kufur, mengingkari salah satu hukum pidana Islam seperti hukum bagi pencuri, penzina dan lainnya adalah kufur dan seterusnya. Orang yang kufur disebut kafir. Ketika manusia tidak beriman kepada Allah swt dengan segala ajaran yang diturunkannya, maka ia disebut kafir, sedangkan ketika seseorang sudah beriman atau menjadi muslim tapi meragukan Allah swt sebagai Tuhan dan meragukan  kebenaran Islam lalu keluar dari Islam atau yang sering disebut dengan murtad, maka orang itu berarti kafir. Orang kafir seperti itulah yang dipastikan masuk ke neraka, Allah swt berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk (QS Al Bayyinah [98]:6).

 

Kepada orang kafir, dakwah harus kita lakukan agar mereka masuk Islam, sebagaimana orang kafir itu juga mendakwahkan agamanya kepada orang Islam sehingga orang Ismapun menjadi kafir mengikuti mereka. Tentu saja dakwah kepada orang kafir dengan memmbuka dialog sebaik mungkin agar tidak timbul salah paham, apalagi sampai terjadi permusuhan. Sahabat saya Ust. H.M. Ihsan Tandjung dalam bukunya Risalah Menuju Jannah, terbitan Lingkar Pena, hal 12-13 menceritakan bahwa beliau punya kenalan dengan seorang muslim bule asal Australia, temannya itu berkata: “Sebelum masuk Islam, saya sudah punya banyak kenalan orang Indonesia, tapi sayang, tidak ada seorangpun kawan saya saat itu yang pernah mengajak saya masuk Islam. Saya masuk Islam Alhamdulillah karena saya gemar membaca, hingga saya berjumpa dengan Al-Qur’an terjemahan bahasa Inggris, lalu memperoleh hidayah dari Allah swt”.

 

Dari sini sebenarnya sangat penting dakwah kepada non muslim agar mereka menjadi muslim.

 

2.    Muslim Yang Durhaka Agar Taat.

 

Banyak orang sudah menyatakan diri menjadi muslim atau sudah menjadi muslim sejak mereka lahir karena orang tuanya muslim, namun belum menunjukkan ketaatan kepada Allah swt, bahkan mendurhakai-Nya, bukan hanya tidak melaksanakan apa yang diperintah, tapi justeru melakukan apa yang dilarang, hingga mempengaruhi orang lain agar tidak mentaati Allah swt, inilah yang namanya muslim yang durhaka kepada Allah swt.

 

Hakikat dakwah adalah mengubah manusia dari keadaan yang apa adanya kepada yang seharusnya. Dengan dakwah diharapkan orang awam menjadi paham, orang benci pada kebaikan menjadi cinta, orang bakhil menjadi dermawan, orang malas menjadi rajin, orang yang bermusuhan menjadi bersahabat dan bersaudara, begitulah seterusnya. 

 

Dari pemahaman seperti ini, kita menyadari betapa masih begitu banyak orang yang belum menunjukkan ketaatan kepada Allah swt sehingga dakwah amat diperlukan sehingga harus dilakukan dengan berbagai pendekatan yang baik sesuai dengan kondisi sang mad’u (objek dakwah). Sebagai contoh, kita tentu masih ingat kisah seorang pemuda yang minta dibolehkan oleh Rasulullah saw untuk berzina, permintaan ini membuat sahabat yang mendengar menjadi marah, karena sudah keterlaluan. Namun, nabi mencegah agar mereka tidak melampiaskan kemarahan. Secara baik-baik, nabi bertanya: “apakah engkau punya ibu atau saudara perempuan?.”

 

“Ya, punya,” jawabnya.

 

Rasulullah saw bertanya lagi: “Bagaimana perasaanmu bila ibu atau saudara perempuanmu dizinahi orang lain?.”

 

“Tentu saya sangat tidak suka dan marah kepadanya.” Jawabnya.

 

Maka Rasulullah saw menyatakan: “Lalu mengapa engkau ingin berzina, bukankah wanita yang hendak engkau zinahi juga punya keluarga yang perasaannya seperti kamu?.”

 

Dengan cara seperti itu, sang pemuda tidak jadi melakukan perzinahan, sehingga dakwah berhasil mengubah orang yang tidak baik menjadi baik.

 

Orang yang belum taat belum tentu karena ia tidak mau taat, tapi bisa jadi karena ia belum paham bagaimana ketaatan yang harus ditunjukkan atau masalah-masalah internal dirinya yang membuatnya belum taat sehingga harus mendapat bimbingan. Karena itu, para sahabat mendapatkan pembinaan dari Rasulullah saw sehingga mereka menunjukkan ketaatan    

 

3.    Muslim Yang Taat Agar Istiqamah.

 

Ketika seorang muslim telah menunjukkan ketaatan, sifat yang harus dimiliki adalah istiqamah atau terus menerus dalam ketaatan, apapun kendala yang dihadapin serta bagaimanapun situasi dan kondisi yang terjadi. Bila sifat ini sudah dimiliki, seorang muslim tidak dilanda oleh perasaan takut untuk membuktikan nilai-nilai keimanan dan tidak akan berduka cita bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan sebagai konsekuensi dari keimanannya itu, apalagi surga merupakan janji Allah swt, hal ini terdapat dalam firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku Allah kemudian mereka istiqamah, maka mereka tidak ada rasa takut dan tidak berduka cita (QS Al Ahqaf [46]:13).

 

Agar seorang muslim bisa istiqamah, paling tidak ada empat hal yang harus dilakukan. Pertama, menanamkan kemauan yang kuatuntuk istiqamah.Ke­mauan yang besar ini merupakan kesadaran diri yang paling berhar­ga. Dengan kesadaran diri ini membuat seseorang punya rasa memi­liki terhadap Islam sebagai agama yang selalu dipertahankannya dalam kehidupan ini.Ada banyak ungkapan orang yang tidak punya kemauan yang kuat untuk istiqamah: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal.”Ungkapan lainnya adalah: “Zaman sekarang, mana bisa jujur.”

 

Kedua, Pembinaan Yang Intensif.Ibarat pohon, kesadaran atau kemauan yang kuat untuk menjadi muslim yang sejati merupakan akarnya, tapi pohon itu tidak  akan hidup dan bertahan serta dapat menghasilkan daun yang rindang dan buah yang banyak tanpa disiram dan dipupuk. Pembinaan yang inten­sif dan berkesinambungan merupakan siraman air dan pupuknya. Oleh karena  itu  setelah orang-orang kafir Quraisy  masuk  Islam  dan menjadi  sahabat Rasul, maka Rasulullah saw  melakukan  pembinaan yang intensif dan berkesinambungan kepada mereka. Di Makkah dipusatkan pembinaan itu di rumah Arqam bin Abi Arqam yang kemudian dikenal dengan sebutan Darul Arqam, sedangkan di Madinah pembinaan dilakukan di Masjid Nabawi.

 

Ketiga, Keteladanan Yang Meyakinkan.Keteladanan  yang baik dari para pembimbing  umat  merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan guna memantapkan keyakinan  mereka terhadap kebenaran  Islam. Meskipun seseorang sudah  tahu  bahwa ajaran  Islam harus dilaksanakannya dan dihadapan  Allah  masing-masing  orang bertanggungjawab  atas apa  yang  diperbuatnya  di dunia,  tetap saja tanpa keteladanan yang baik,  seseorang  masih kurang  mantap keislamannya. Itu sebabnya, Rasulullah  Saw  tidak hanya mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam kepada para  saha­batnya, tapi juga menjadi teladan atas mereka dalam perwu­judan ajaran Islam dalam kehidupan nyata, dan para sahabat karena mengharap ridha dan perjumpaan dengan Allah swt, mereka berkenan meneladani  Rasul saw dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek  kehidupan.

 

Keempat, Kerjasama Yang Solid.Hal lain yang sangat penting untuk mendapat perhatian  dalam melahirkan generasi terbaik adalah tantangan, hambatan dan godaan yang  tidak kecil. Saking besar dan beratnya tantangan, hambatan dan  godaan  itu, Rasulullah saw menyadari bahwa  hal  itu  tidak mungkin bisa dihadapi oleh seorang diri. Itu sebabnya beliau amat menekankan agar para sahabat memiliki rasa kebersamaan dan persa­tuan yang kokoh sehingga dapat saling bekerjasama dalam mengokoh­kan keimanan dikalangan sesama mereka. Sebagai salah satu  contoh yang terjadi pada masa Rasul adalah ketika Bilal mendapat siksaan yang bertubi-tubi dari tuannya karena mempertahankan iman dan itu hanya bisa diselamatkan dengan cara membebaskan Bilal dari status budak, maka sahabat Abu Bakar yang memiliki kekayaan yang  banyak tidak segan-segan mengeluarkan hartanya guna membebaskan Bilal.

 

Dengan demikian, dalam dakwah perlu berbagi tugas, siapa yang berdakwah kepada non muslim agar mereka masuk Islam dan siapa yang berdakwah kepada yang durhaka agar taat dan siapa yang berdakwah kepada yang sudah taat agar bisa istiqamah dan meningkatkan keislamannya.

 

Drs. H. Ahmad Yani