Nyepi

0
31 views

Abd. Muid N.

Saudara-saudara kita yang beragama Hindu telah merayakan Nyepi; sebuah hari ketika mereka tidak memperkenankan diri akan adanya aktivitas berupa pembakaran (amati geni), bekerja (amati karya), bepergian (amati lelungan), dan hiburan (amati lelanguan). Itu sama saja dengan tidak melakukan apa-apa karena “pembakaran” mungkin berarti tidak ada aktivitas masak-memasak, tidak juga ada perpindahan tempat, wisata, jalan-jalan, plesiran, dan tidak ada hiburan.

Yang menarik adalah bahwa Hari Raya Nyepi sebenarnya bertepatan dengan Tahun Baru Hindu berdasarkan kelender Saka. Jika tradisi Tahun Baru Masehi sering diisi dengan sesuatu yang hingar-bingar, mewah, dan bahkan foya-foya, tradisi Tahun Baru Hindu diisi dengan kebalikannya, sunyi, senyap, dan bersahaja.

Dalam Islam juga ada tradisi Tahun Baru yang disebut Hijriyyah yang pada beberapa tahun belakangan ini sering menampakkan kecemburuannya terhadap perayaan Tahun Baru Masehi. Tahun Baru Hijriyyah dianggap dianaktirikan dibanding Tahun Baru Masehi yang begitu hingar-bingar dan gemerlap. Karena itu, banyak kalangan umat Muslim yang kemudian bertekad untuk “memeriahkan” perayaan Tahun Baru Hijriyyah agar tidak “kalah” oleh Tahun Baru Masehi. Sebuah upaya yang tidak jarang terlihat dipaksakan.

Kecemburuan seperti itu juga tampak pada berhamburannya tulisan-tulisan, artikel-artikel, serta pamflet yang mencoba membuktikan betapa “sesatnya” perayaan Tahun Baru Masehi dan betapa “Islaminya” perayaan Tahun Baru Hijriyyah. Coba simak tema-tema khutbah Jumat di hari-hari sekitar Tahun Baru Hijriyyah, maka terasalah energi kecemburuan tersebut. Dan itu terjadi setiap tahun dengan bangunan argumen yang itu-itu juga.

Mungkin kecemburuan seperti itu tidak ada salahnya, namun fenomena menunjukkan bahwa kecemburuan seperti itu sering jatuh kepada kecemburuan buta. Memperbandingakan Tahun Baru Hijriyyah dengan Tahun Baru Masehi dengan cara seperti itu, tampak tidak pada tempatnya.

Jika Hari Raya Nyepi dijadikan cermin, maka semakin tampaklah kengawuran upaya perbandingan antara dua-tiga tradisi hari raya yang memang berbeda esensi. Bisa dibayangkan jika para penganut Tahun Baru Saka juga melancarkan kecemburuan serupa dan ingin “memeriahkan” Hari Raya Nyepi sebagaimana Tahun Baru Masehi. Lalu esensi Nyepi pun menguap.

Jika memang tradisi Tahun Baru Hijriyyah menghendaki untuk “tidak dimeriahkan”, mengapa harus “dimeriahkan”? Jangan-jangan dengan memerihakannya, esensi Tahun Baru Hijriyyah malah hilang tak berbekas.[]

Referensi

http://id.wikipedia.org/wiki/Nyepi