Nuansa Ibadah Haji

0
54 views

Ibadah haji pada tahun ini segera ditunaikan kembali oleh kaum muslimin sedunia. Sekitar tiga sampai empat juta kaum muslimin dari berbagai latar belakang, bangsa dan warna kulit akan berkumpul di Makkah dan Madinah guna menunaikan rukun Islam yang ke lima itu. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua, ketiga, dan kesekian kalinya. Hal ini karena memang ibadah haji memiliki kenikmatan tersendiri yang sulit dibahasakan dengan kata-kata, apalagi kenikmatan ibadah haji itu memang hanya bisa dirasakan dengan pelaksanaannya secara lansung dan memang kenikmatan ajran Islam itu tidak hanya dalam konsepsi tapi juga dalam pelaksanaannya sehari-hari. 

edyprayitno.files.wordpress.comIbadah haji merupakan salah satu ibadah yang penuh dengan kenikmatan, karena ibadah haji merupakan ibadah yang memiliki banyak nuansa, bahkan nuansanya merupakan perpaduan dari nuansa-nuansa yang ada pada ibadah-ibadah lainnya di dalam Islam, itu pula sebabnya mengapa haji ini hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Karena kesannya bisa dan harus dirasakan seumur hidup dan itu pula yang menjadi sebab mengapa sering kali ibadah haji ini disebut juga dengan puncak pengalaman rohani seorang muslim.

Empat Nuansa

Bila kita simpulkan, paling kurang haji merupakan ibadah dengan empat nuansa yang bila kita pahami secara mendalam akan kita dapati kedalaman nilai yang terdapat di dalamnya.

1.  Ibadah Jasmaniah

Ibadah haji merupakan ibadah jasmaniah, yaitu ibadah yang harus dilaksanakan dengan jasmani yang sehat bahkan sangat mengandalkan kekuatan jasmani, maka jika ada orang yang menunaikan ibadah haji sudah sampai di tempat tapi mengalami sakit, maka orang itu harus dibantu oleh orang-orang yang sehat badannya. Tawaf, sai, melontar, wukuf di Arafah dan sebagainya merupakan diantara rangkaian pelaksanaan ibadah haji yang sangat menuntut kekuatan jasmani.

Dengan demikian menjadi sangat sulit bagi orang yang tidak memiliki kekuatan jasmani untuk bisa menunaikan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dan sesempurna mungkin. Ini sekaligus didikan bagi orang yang menunaikan ibadah haji untuk berkorban dengan jasmani dan jiwanya  bahkan karena ibadah haji dilaksanakan dalam beberapa hari, baik selama di tanah suci maupun dalam perjalanan pergi dan pulang, orang yang menunaikan  ibadah haji  juga harus mau berkorban di jalan Allah dengan  waktu, tenaga, dan pikirannya. 

2.  Ibadah Rohaniyah 

Disamping dengan kekuatan jasmani, ibadah haji juga harus dilaksanakan dengan kekuatan rohani, rohani yang sehat. Diperlukannya rohani yang sehat karena memang ibadah haji adalah salah satu ibadah yang mendidik kepada kaum muslimin yang melaksanakannya untuk selalu mersa diawasi dan dekat dengan Allah, bahkan ibadah haji merupakan simbol pembinaan kekuatan rohani untuk menghadapi godaan syaithan yang nampak dari melontar, karena itu melontar merupakan simbol dari perlawanan Siti Hajar dalam menghadapi godaan syaithan yang terus membujuk  agar Siti Hajar tidak rela dengan akan disembelihnya Ismail sang anak kesayangan,  maka Siti Hajar bukan menuruti keinginan syaithan, tapi malah syaithan itu dilemparinya dengan batu hingga syaithan tak berhasil mengodanya. Disamping itu ibadah haji juga melatih rohani manusia untuk merasakan “suasana akhirat“ dengan meninggalkan harta dan keluarga apalagi tatkala menggunakan kain ihram yang merupakan simbol dari kain kafan dan wukuf padang Arafah yang merupakan simbol dari berkumpulnya manusia kelak di padang mahsyar  dalam pengadilan Allah swt.

Ini berarti orang yang telah menunaikan ibadah haji semestinya memiliki kekuatan rohani yang dapat diandalkan sehingga dia selalu terbayang-bayang pada kematian yang membuat dirinya tidak bisa dikendalikan lagi oleh hal-hal yang sifatnya duniawi.

Oleh karena itu, orang yang hendak menunaikan ibadah haji  harus betul-betul menyiapkan  kekuatan rohani, kalau tidak, rasanya tidak mungkin seorang muslim bisa menunaikan ibadah haji dengan baik dan dengan hasil yang baik sesudah kembali ke tanah air, hal ini karena ibadah haji merupakan  ibadah yang berat  dan hanya dengan kekuatan rohani ibadah haji itu menjadi terasa ringan, bahkan bisa terasa nikmat sehingga orang yang telah menunaikannya ingin menunaikan lagi untuk masa-masa  yang akan datang, Ini sekaligus didikan bagi orang yang memunaikan ibadaha haji bahwa dia semestinya menjadi orang  yang selau merasa dekat dan diawasi oleh Allah swt, sehingga dia tidak berani melakukan penyimpangan dari jalan Allah swt. dalam kehidupannya, apalagi dengan didikan ibadah haji, seorang haji semestinya selalu terbayang-bayang pada kematian yang membuat dia harus memperbanyak amal yang saleh karena memang untuk bisa berjumpa dengan Allah swt, seorang muslim harus membawa bekal amal saleh yang sebanyak-banyaknya. Allah berfirman:

Barangsiapa yang mengharap perjumpaaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS 18:110).

Bila rohani seorang muslim telah sehat, maka ajaran Islam yang sebenarnya berat untuk dilaksanakan menjadi terasa ringan, bahkan menjadi terasa nikmat yang membuat seorang muslim ingin terus melaksanankannya. Tapi sebaliknya, bila rohani seorang muslim tidak sehat, meskipun  pelaksanaan yang tertentu dari ajaran Islam sebenarnya ringan, tetap saja dia merasa berat dan susah.

3.  Ibadah Maaliyah

Ibadah haji juga sering disebut sebagai ibadah maaliyah (harta) karena ibadah haji memang tidak bisa ditunaikan tanpa harta karena ibadah haji apa lagi kita di Indonesia yang harus mengeluarkan ONH (Ongkos Naik Haji) dengan nilai yang cukup mahal.

Disamping harus menyiapkan ONH, orang yang menunaikan ibadah haji juga harus menyiapkan dana bagi keluarga yang ditinggalkannya, sementara dana haji tidak boleh diperoleh dengan cara hutang (kredit) dan penipuan, apalagi mengemis. Meskipun demikian, sangat mungkin dan sah-sah saja adanya orang yang menunaikan ibadah haji tanpa mengeluarkan biaya, misalnya apa yang disebut oleh masyarakat kita dengan istilah haji abidin (haji atas biaya dinas ), haji kosasih (haji karena ongkosnya dikasih) dan sebagainya.

Ibadah maaliyah ini merupakan didikan yang sangat besar kepada orang yang menunaikan ibadah haji, yaitu ditumbuhkannya semangat berkorban dengan harta untuk diabdikan di jalan Allah. Bila orang yang telah menunaikan ibadah haji tapi tidak memiliki semangat berkorban di jalan Allah dengan hartanya, maka ini berarti ibadah yang dikerjakannya tidak memberikan bekas atau pengaruh yang positif.

4.  Ibadah Aqliyah

Haji juga pantas kita sebut sebagai ibadah aqliyah karena dari ibadah haji itulah kaum muslimin  digugah pemikirannya  agar memiliki wawasan yang luas. Kalau selama ini wawasan berfikir seorang muslim hanya tingkat kampung maka dengan ibadadh haji wawasannya diperluas, bukan hanya harus berskala  nasional  tapi juga berwawasan internasional. Kalau selama ini ukhuwah sudah dijalin dalam skala kampung, maka dengan ibadah haji seorang muslim harus menyadari bahwa ukhuwah itu harus dijalin secara internasional dan kalau selama ini dia sulit menerima perbedaan-perbedaan dikalangan kaum muslimin, maka ibadah haji mendidiknya untuk melihat perbedaan itu dan menumbuhkan sikap tasamuh (toleran) terhadap adanya perbedaan dalam memahami ajaran Islam dan itu merupakan suatu kemestian yang tidak bisa dipungkiri. 

Kalau kemudian orang yang sudah menunaikan ibadah haji tapi masih saja corak berfikirnya  seperti katak dalam tempurung, maka dia termasuk orang yang tidak berhasil dalam  menunaikan ibadah haji  dari aspek pendidkkan aqliyah.

Disamping itu ibadah haji juga membuka wawasan seorang muslim akan sejarah masa lalu karena memang ibadah haji merupakan napak tilas dari peristiwa-peristiwa masa lalu, khususnya yang terjadi pada keluarga Nabi Ibrahim AS dan seluruh kaum muslimin  sedunia  juga terkait karena  pada saat ibadah haji sedang berlansung, khususnya pada hari Arafah, setiap muslim  disunnahkan untuk menunaikan  ibadah puasa Arafah dsesudah itu keesokan harinya  menunaikan shalat Idhul Adha dan menyembelih hewan qurban bagi yang memiliki kemampuan .

Dengan demikian, manakala seorang muslim telah telah menunaikan ibadah haji; semestinya dia semakin menunjukkan kesempurnaan Islam pada dirinya untuk selanjutnya ditegakkan kesempurnaan Islam itu dalam kehidupan masyarakatnya. Kearah itu masih ada waktu bagi para calon haji untuk mendalami persoalan pelaksanaan ibadah haji, tidak hanya dari sisi fiqih pelaksanaannya, tapi juga yang tidak kalah pentingnya adalah nilai-nilai  atau hikmah-hikmah penting yang terdapat  dalam pelaksanaan ibadah haji. Kalau seorang muslim memahami haji dari aspek-aspek hukum fiqihnya, bisa jadi orang sekedar menunaikannya dalam rangka menggugurkan kewajiban, tapi bagi yang memiliki kesadaran, justeru belum selesai sampai pada pelaksanaan yang sesuai dengan sunnah Rasul, tapi juga harus membuktikan bagaimana seharusnya sikap dan prilaku seorang haji sesudah ia kembali ke tanah air. 

Disamping itu, perlu diingatkan pula bahwa memahami persoalan ibadah haji  bukan hanya bagi mereka yang sebentar lagi akan menunaikan ibadah haji, tapi setiap muslim  memang harus memahami secara luas dan mendalam.

Oleh Ahmad Yani

BAGI
Artikel SebelumnyaWarisan Nabi
Artikel BerikutnyaMenggapai Kesayangan Langit