Ni’mah (Nikmat)

0
43 views

Kata ni‘mah adalah bentuk mashdar dari kata kerja na‘ima – yan‘imu – ni‘matan wa man‘aman (نَعِمَ – يَنْعِمُ – نِعْمَةً وَمَنْعَمًا).

Menurut Ibnu Faris, kata na‘ima berakar kata dengan huruf-huruf nûn (نُوْن), ain (عَيْن), dan mîm (مِيْم), yang me­ngandung makna pokok ‘kelapangan’ dan ‘kehidupan yang baik’. Kata ini juga bermakna ‘segala sesuatu yang diberikan seperti rezeki, harta, atau lainnya’.

 

Pakar bahasa, al-Jurjani di dalam al-Ta‘rîfât mengemukakan bahwa ni‘mah adalah suatu pemberian Allah swt. yang di­pandang baik dan lezat, yang memberi manfaat bagi kesenangan atau kebahagiaan hidup umat manusia. Ni‘mah tersebut adalah milik Allah swt dan diberikan kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman Allah swt:

“Dan tidak ada kenikmatan yang ada pada kalian kecuali datangnya dari Allah swt.”

 (QS al-Nahl [16]: 53).

Di dalam al-Qur‘an, kata ni‘mah (نِعْمَة) yang berdiri sendiri di dalam suatu redaksi terulang sebanyak 34 kali, cukup banyak ayat al-Qur‘an yang memerintahkan kepada manusia agar (senantiasa) mengingat nikmat Allah swt. Paling tidak, ditemukan 14 kali di antara kata ni‘mah dan bentukannya —yang berjumlah 47 kali— me­muat perintah tersebut, misalnya yang di­ungkap­kan dengan Wadzkurû ni‘mata allâhi ‘alaikum

(i وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُم )= Dan ingatlah akan nik­mat Allah swt kepadamu).

 

Makna ni’mah dalam berbagai ayat:

1. perintah-perintah dan ajaran-ajaran-Nya,

Penggunaan kata ni‘mah pada (QS. al-Baqarah [2]: 211), adalah di dalam konteks pembicaraan tentang ancaman siksa yang amat keras bagi orang yang menukar nikmat Allah swt setelah datang nikmat itu kepadanya. Firman Allah swt.,

Tanyakanlah kepada Bani Israil, ‘Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka’. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah swt setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah swt sangat keras siksa-Nya’”.

Menurut para mufasir (ahli tafsir) bahwa yang dimaksudkan dengan “nikmat Allah swt” di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran-Nya.

2. Nikmat yang bersifat materil,

Nikmat yang besifat materil diuraikan dalam al-Qur’an secara terperinci diantaranya:

Pertama, nikmat berupa rezeki, sebagaimana firman-Nya:

Dan Allah swt melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki…

(QS. An-Nahl [16]: 71)

Kedua, nikmat berupa istri, anak-anak, dan cucu-cucu, sebagaimana firman-Nya:

Dan Allah swt menjadikan bagimu pasangan(suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu,… (QS. An-Nahl [16]: 72).

Ketiga, nikmat berupa langit, bumi, air hujan, buah-buahan, alat transportasi laut dan sungai, matahari dan bulan yang terus menerus beredar di dalam orbitnya, siang dan malam yang silih berganti, dan segala kebutuhan hidup yang diminta kepada Allah swt” sebagaimana termaktub dalam (QS. Ibrâhim [14]: 32-34).

3. Nikmat yang bersifat non-materil yang dapat dirasakan secara rohani misalnya:

Pertama, nikmat agama Islam, sebagaimana firman-Nya:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu,… (QS. Al-Mâ’idah [5]: 3); Kedua, nikmat keselamatan dari perbuatan jahat, sebagaimana firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman! ingatlah nikmat Allah swt (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah swt menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah swt, dan hanya kepada Allah swt lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal

(QS. Al-Mâ’idah [5]: 11).

Ketiga, nikmat persatuan dan persaudaraan, yang sebelumnya bermusuhan-musuhan, bahkan telah berada di tepi jurang neraka, sebagaimana firman-Nya:

Dan ingatlah nikmat Allah swt kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuhan, lalu Allah swt mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara,… (QS. Ali ‘Imrân [3]: 103).

Dalam kehidupan Allah swt memberikan nikmat kepada makhluknya dengan tidak pandang bulu, baik dia orang yang beriman atau kafir, bahkan bukan manusia saja tetapi, seluruh makhluknya mendapatkan nikmat-Nya.

Kita sebagai manusia yang dianugerahi akal, setelah Allah swt memberikan nikmat-Nya, kita diperintahkan untuk bersyukur atas nikmat itu, Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:

Sulaiman berkata: Ya Allah swt anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku,…(QS. An-Naml [27]: 19)

Akhirnya semoga kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah Allah swt anugerahkan kepada kita.