Nilai Ikhlas dalam Ibadah

0
150 views
http://bungehan.com

Oleh Syamsu Alam Darwis

(Peneliti Azkia Institute Jakarta)

SIKAP hidup seseorang dibentuk oleh keyakinan yang dimilikinya. Sebagai muslim keyakinan kita terpatri pada dua kalimat syahadat

أشهد ألا إله إلا الله وأشهد أن محمد رسول الله

kalimat ini membentuk perilaku kehidupan,  itulah ikrar yang kita ucapkan artinya pada saat kita mengucapkan Syahadat, Saya bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah, maka kita sudah melaksanakan sebuah ikrar, janji setia.  Maknanya kalau saya yakin tidak ada tuhan selain Allah itu berarti saya tidak pernah takut kecuali hanya kepada Allah, saya tidak menggantungan hidup ini kecuali hanya kepada Allah SWT, saya tidak melarikan persoalan hidup kecuali hanya kepada Allah, saya tidak akan minta tolong kecuali hanya kepada Allah,  Saya tidak minta rezki kecuali hanya kepada Allah SWT. Berurat dan berakar di dalam hati, membentuk kepribadian dan mewarnai seluruh langkah kehidupan kita.

Di zaman kita ini, kita sangat fasih mengucap kalimat syahadat, tahlilan dan sangat lancar, tapi konseweksi dari kalimat itu sering kita abaikan, apalagi saat ini kita berhadapan dengan zaman serba situasi sulit, ekonomi yang belum pulih, biaya hidup tinggi,   peluang lapangan kerja susah, pengangguran masih sangat tinggi. Dalam rilis BPS melaporkan tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2015 mencapai 5,81 persen karena angkatan kerja pada Februari 2015 sebanyak 128,3 juta sementara yang bekerja cuma 120,8 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka itu naik 0,11 persen dibanding Februari 2014 di mana penduduk yang bekerja mencapai 118,1 juta orang sementara angkatan kerjanya cuma 125,3 juta orang.

Dengan problematika ekonomi yang sangat kompleks ini, Kondisi ini akan berpengaruh terhadap konsumsi masyarakat, akses  pekerjaan terbatas, daya beli turun, akhirnya menimbulkan banyak gangguan, sehingga orang mudah mengalami pergeseran nilai, Shalatnya masih menghadap Allah, tapi ingin dagangannya laris menghadap dukun, dicampurlah iyyaka nabudu wa dukun nastaain. Ini gaya hidup yang singkrit, puasa melahirkan keikhlasan karena ibadah ini tanpa sugesti, mungkin kalau shalat masih berharap dilihat orang, membayar zakat, bersedekah masih berharap dilihat orang, tapi dengan puasa hanya kita dengan Allah saja yang tahu, ini harusnya membangun gaya hidup keikhlasan. Bahwa kalau kita sudah berbuat yang penting hanya kita dengan Allah saja, mau dipuji atau tidak, mau didengar atau tidak, mau dilihat atau tidak, yang penting saya sebagai pelaksana ibadah dan Allah sebagai tempat tujuan kenapa ibadah ini saya laksanakan.

Karena itu pada kesempatan tarawih ini, kita mengupas sekelumit tentang nilai ikhlas dalam ibadah dan kehidupan ini. Ikhlas itu bukan hanya pada menunaikan shalat, puasa, sedekah dan haji saja melainkan kita harus ikhlas dalam menghadapi segala problema kehidupan ini.

Keywordnya dalam hidup ini adalah Apa saja yang kita sudah mulai gantungkan hidup ini kepada yang selain Allah, bersiaplah untuk kecewa apa saja yang kita gantungkan kepada selain Allah bersiaplah untuk bersedih dan kecewa.

Ikhlas bukanlah suatu hal yang mudah dilaksanakan meski sangat mudah untuk diucapkan. Tapi inilah makna ikhlas yang diperintakan oleh Allah SWT

Dalam firman Allah Swt disebutkan:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيك لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْت وَأَنَا أَوَّل الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(QS:al-An’am: 162-163)

Dalam suatu riwayat dijelaskan bahwa ayat ini turun karena adanya tuduhan dari kaum kafir quraisy tentang dakwah Nabi yang mereka menganggap Nabi Muhammad SAW mempunyai maksud dibalik menyuruh mereka meninggalkan kesesatan, mereka menganggap Muhammad ingin mencari jabatan, dan kekayaan oleh karena itu turunlah ayat ini yang menyatakan bahwa dakwah Nabi murni dan hanya untuk Allah semata.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa kita dituntut ikhlas dalam menjalankan semua ibadah kepada Allah baik yang sifatnya vertikal maupun horizontal, ketika kita hendak melaksanakanya niat kita haruslah lurus semata-mata karena Allah bukan karena dilhat oleh orang atau maksud lainnya yang nantinya akan dapat merusak pahala ibadah kita, ketika hendak melaksanakan shalat, ketika telah bertakbir maka seluruh aktifitas badan, pikiran, dan perasaan haruslah tertuju kepada Allah, bukan kepada yang lain begitu juga dengan ibadah yang lain seperti menolong sesama, puasa, dan ibadah yang lain hendaknya hanyalah tertuju kepada Allah.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil.

Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.Tetapi banyak dari kita yang beribadah tidak berlandaskan rasa ikhlas kepada Allah SWT, melainkan dengan sikap riya’ atau sombong supaya mendapat pujian dari orang lain. Hal inilah yang dapat menyebabkan ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali jika (dilakukan) dengan penuh keikhlasan serta ditujukan untuk mendapatkan ridha-Nya”. (Al Hadis). Karena itu Imam Ali ra mengungkapkan bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah.

Dalam ayat lain dipertegas lagi sbb:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah: 5)

Dalam ungkapan Imam  Al Ghazali di dalam kitab Al  Ihya Ulumuddin dipaparkan :

كتاب” إحياء علوم الدين” للغزالي في مبحث” النية والإخلاص والصدق”

بالنص الآتي:

“أما بعد فقد انكشف لأرباب القلوب ببصيرة الإيمان وأنوار القرآن أن لا وصول إلى السعادة إلا بالعلم والعبادة فالناس كلهم هلكى إلا العالمون والعالمون كلهم هلكى إلا العاملون والعاملون كلهم هلكى إلا المخلصون والمخلصون على خطر عظيم فالعمل بغير نية عناء والنية بغير إخلاص رياء وهو للنفاق كفاء ومع العصيان سواء والإخلاص من غير صدق وتحقيق هباء”

“Tidak akan dapat mencapai kebahagiaan, kecuali dengan ilmu dan ibadah, maka manusia itu pada dasarnya tidak berdaya, binasa  kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu itu semuanya tak kuasa, rapuh kecuali yang mengamalkan ilmunya, dan yang mengamalkan ilmunya itupun rapuh, tertipu, kecuali yang ikhlas mengamalkan, dan yang ikhlas itu adalah suatu beban dan tanggung jawab yang besar… Maka amal perbuatan tanpa niat adalah sebuah kenistaan, niat tanpa ikhlas adalah riya, dan itu adalah kemunafikan yang dibalut dengan ketidak taatan dan menjadi kesia-siaan.”

Begitulah dalam kehidupan ini manusia pada dasarnya mati, kecuali orang yang berilmu, tidak banyak yang bisa dilakukan tanpa ilmu, ilmulah yang membuat kita berbuat, bergerak, melangkah, berjuang, berkembang dan berperadaban.

Ilmu membuat hidup jadi mudah, seni menjadi hidup lebih indah dan agama menjadi hidup lebih terarah. Dengan Ilmu semua menjadi mudah, apa yang terjadi hari ini dibumi lain dapat kita saksikan informasi lengkapnya di ruang kamar tidur, bisa chat dan ngobrol lewat kamar kerja dengan kolega kerja di benua lain, itu faktor ilmu, kemudahan yang terjadi karena ilmu,

Kita bisa ingat bagaimana 5 hari awal Revolusi Mesir tanpa telpon, tanpa internet bagaimana paniknya keluarga para mahasiswa dan pelajar yang sedang berada di kamar-kamar apartemen di Nasr City.  Dahulu tahun 60-an naik haji menggunakan kapal laut selama 6 bulan, mekkah –madinah naik onta, saat ini berhaji cukup dua minggu atau 70 hari bila menjadi Tenaga Musim (Tenaga mahasiswa untuk syariah/Temus), kemajuan ilmu teknologi pesawat terbang dengan kecanggihan pesawat penumpang Boeing dan Airbus bukan lagi masalah lagi untuk bepergian dari kutub utara ke  kutub selatan, Memotong waktu dan ruang, termasuk saat ini adanya Tol laut yang menghubungkan antara satu pulau dengan pulau lainnya, memperpendek jarak transportasi dari jawa ke sumatera, dari jawa ke bali, Lombok. Jawa ke kalimatan dan jawa ke Sulawesi.

Manusia mati kecuali yang berilmu, orang yang berilmu walaupun dia hidup tidur kecuali yang mengamalkan ilmunya, nah orang yang mengamalkan ilmu banyak yang tertipu, merasa paling banyak karyannya, merasa paling banyak jasannya kecuali yang ikhlas, ikhlas itu ruh dari amal yang kita kerjakan, jasad tanpa ruh, mati amal kita.

Iblis itu  luar biasa sehingga Nabi katakan Iblis masuk ke tubuhmu menggodamu melalui saluran darahmu, persempit jalan masuk Iblis ke dalam tubuhnya, sahabat bertanya dengan apa wahai Rasul: Rasul menjawab dengan zikir dan lapar. Jadi dengan menunaikan puasa ini mari kita persempit jalur masuk iblis dalam jiwa raga kita, Jadi dengan datangnya Puasa Ramadahan ini, kita ikat iblis ini tidak berkutik untuk melakukan propaganda kejahatan dan kemaksiatan.

Keikhlasan adalah nilai amal perbuatan kita, Iblis datang kepada setiap orang dengan bendera yang berbeda beda, Iblis datang kepada orang kaya dengan Bendera kikir bin bakhil, Iblis datang kepada pengusasa dengan bendera kezaliman, Iblis datang kepada Ulama, kiyai dengan bendera hasud, hasad, dengki, iri hati

Strateginya berbeda bergantung kepada siapa yang didatanginya, kalau itu tidak terkena, ditanamkanlah perasaan bangga, amalmu sudah banyak, karyamu sudah berlimpah ruah, dimunculkanllah sifat riya, dihilangkanlah nilai ikhlas beribadah.

عن عمرَ بنِ الخطّاب – رضى الله عنه – عن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أنّه قال: “إنما الأعمال بالنيّات، وإنما لكل امرئ ما نَوى؛ فمن كانت هجرتُه إلى اللهِ ورسولِه فهجرتُه إلى اللهِ ورسولِه، ومن كانت هجرتُه إلى دنيَا يصيبُها أو امرأةٍ ينكحُها فهجرتُه إلى ما هاجر إليه”

Dari Amirul mukminin, Umar bin khathab “Segala amal itu tergantung niatnya, dan Setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat yang ikhlas mengharap ridha Allah maka tidak berarti apa-apa menurut pandangan Islam.  Maka syarat utama diterimanya ibadah ada dua hal yaitu Niat yang ikhlas dan pelaksanaannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Nabi SAW.

Inilah keikhlasan, yang patut dihadirkan dan dijaga dalam diri setiap insan muslim yang beriman. Keikhlasan bukan hanya monopoli mereka-mereka yang pakar dalam ilmu keagamaan, atau mereka yang mendalami ilmu syariah, keikhlasan adalah potensi setiap insan dalam melakukan amalan ibadah kepada Allah. Bahkan tidak sedikit mereka yang dianggap biasa-biasa saja, ternyata memiliki keluarbiasaan dalam keimanannya kepada Allah.

Jika demikian halnya, marilah memulai dari diri pribadi masing-masing, untuk menghadirkan keikhlasan dalam setiap gerak gerik dan perilaku kita, meningkatkan kualitasnya dan menjaganya hingga ajal kelak menjemput kita.[]

Syamsu Alam Darwis adalah peneliti di Azkya Institute Jakarta, da bisa  dikontak lewat e-mail alamsyams@gmail.com