Nikmat Sehat yang “Menipu”

0
21 views

Ma`asyiral Mukminin Rahimakumullah…..

Salah satu aset fundamental yang dimiliki seseorang adalah kesehatan. Sebagaimana kenikmatan-kenikmatan lain yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya, kesehatan juga termasuk kenikmatan yang sangat menuntut untuk disyukuri. Namum janganlah pernah kita lupa-sebagaimana setiap kenikmatan yang ada- di samping harus disikapi dengan expresi syukur yang benar dia juga merupakan alat uji untuk menilai keimanan seseorang di hadapan Rabbnya. Maka akan ada orang yang diuji dengan sakit, ada juga yang diuji dengan kesehatan dan kebugaran fisik, yang beruntung adalah yang bisa mensikapinya dengan baik sehingga apa yang dialami akan menjadi tangga untuk meniti ketinggian derajat di mata Rabbnya.

Karena betapa pentingnya penyikapan yang benar terkait nikmat sehat ini, Rasulullah saw memberikan gambaran akan banyaknya manusia yang tertipu oleh nikmat ini, walau sesungguhnya dia tidak menipu, manusialah yang salah mensikapinya. Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori beliau berkata ;     

عنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ :

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ )) .

( رواه البخاري )

Dari Ibnu Abbas R.A., ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Terdapat  dua nikmat yang banyak membuat orang tertipu ; nikmat sehat dan waktu luang”.

(HR Bukhari)

Nikmat sehat adalah satu dari dua nikmat yang sering kali manusia tertipu dalam mensikapinya. Dalam menggambarkan hal ini Rasulullah saw memilih kata ‘Maghbuun’ yang secara bahasa beranti tertipu, maka orang yang masuk pada kondisi ‘maghbun adalah misalnya, ada seseorang yang membeli satu barang tertentu dengan harga 3 juta, padahal harga barang itu sejatinya hanya satu juta, atau ada seseorang yang memiliki satu barang dan ia jual dengan harga lima juta padahal harga yang sesungguhnya adalah 15 juta misalnya. Maka kedua kondisi di atas memggambarkan katertipuan seseorang dalam menilai sesuatu, yang pertama terlalu tinggi menilai dan yang kedua sebaliknya, terlalu rendah memberikan penilaian. Maka demikianlah dalam masalah nikmat sehat, akan banyak juga orang yang salah menilainya.

Ma`asyiral mukminin Rahimahullah…

Beberapa hal  yang menunjukkan ketertipuanya seseorang dalam mensikapi nikmat sehat ini, diantaranya adalah ;

Pertama : Melupakan kematian  tidak mempersiapkan bekal akhirat.

Terkadang orang lupa, ketika dikaruniai kesehatan dan kebugaran fisik yang prima, tidak pernah ia mengeluhkan rasa sakit, bahkan jarang ia merasa badannya pegal-pegal, begitu terjaga kesehatannya bahkan otot-otot fisiknya juga terawat bahkan terlatih dengan baik. Dia lupa… dia lupa atau terlenakan bahwa dia juga akan mati, atau kalaupun dia yakin akan mati dia seakan yakin bahwa itu nanti, Hal itu masih sangat lama sehingga dia tidak menyiapkan hari perjumpaan dengan kematian yang merupakan hari perpisahannya dengan kehidupan dunia. Karena betapa urgenya masalah kematian, mangingatnya akan menasehati kita bahwa kesempatan kita di muka bumi ini terbatas sementara kehidupan setelah kematian itu sesuatu yang sangat pasti dan berlangsung sepanjang masa.Rasulullah meminta kita ntuk banyak mengigatnya

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِهَاذِمِ اللَّذَّاتِ

Rasulullah saw bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur kematian (kematian)”. (HR Tirmidzi)

Beliau tidak hanya meminta kita untuk mengingat kematian, namum meminta kita mengingatnya dengan banyak. Ini menunjukkan betapa pentingnya permasalahan ini dan betapa hal ini memiliki pengaruh terhadap prilaku seseorang dalam menjalani kehidupanya di muka bumi i yang menjadi ladang bagi akherat. Semakin baik cara seseorang mengingat kematian dan dikaitkan dengan kehidupan kekal yang akan terjadi setelahnya membuat seseorang akan lebih berhati-hati dalam bersikap dan akan banyak menyiapkan bekal demi perjalanan menuju akherat.

Namun salah mensikapi nikmat sehat, tertipu dalam menentukan nilainya akan membuat seseorang lupa menyiapkan diri menuju kampung akherat, bahkan saakan lupa bahwa dia juga bisa mati.

Kedua : Tidak Berhati-Hati Dalam Hal Makan, Minum dan Aktifitas

Orang yang tertipu melihat nikmat kesehatan cenderung tidak bisa menghargai kesehatannya, tidak menjaganya dengan baik, maka dampaknya ia akan menikmati sesuatu yang enak walau tidak menyehatkan, yang lezat walau merugikan kesehatannya, bahkan sangat mungkin ia akan melakukan aktifitas-aktifitas yang sesungguhnya tidak mendukung terjaganya kesehatan yang sedang ia nikmati. Sehingga akan ada banyak hak yang seharusnya bisa terpenuhi menjadi tertelantarkan. Dalam sebuah hadits ada pelajaran yang teramat berharga tentang hal ini;   

“Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah r.a., katanya: “Nabi s.a.w. mempersaudarakan antara Salman dan Abuddarda’ -” Salman pada suatu ketika berkunjung ke Abuddarda’, ia melihat Ummud Darda’ – isteri Abuddarda’ – mengenakan pakaian yang serba kusut, Salman bertanya padanya: “Mengapa saudari berkeadaan sedemikian ini?” Wanita itu menjawab: “Saudaramu yaitu Abuddarda’ itu sudah tidak berhajat lagi pada keduniaan “Abuddarda’ lalu datang, kemudian ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai Abuddarda’ berkata kepada Salman:“Makanlah, karena saya berpuasa.” Salman menjawab: “Saya tidak akan suka makan, sehingga engkaupun mau makan.”Abuddarda’ lalu makan. Setelah malam tiba, Abuddarda’ mulai bangun. Salman berkata kepadanya: “Tidurlah!” Ia tidur lagi. Tidak lama kemudian bangun lagi dan Salman berkata pula: “Tidurlah!” Kemudian setelah tiba Akhir malam, Salman lalu berkata pada Abuddarda’: “Bangunlah sekarang!” Keduanya terus bersembahyang. Selanjutnya Salman lalu berkata:

إنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقّاً ، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ عَلَيكَ حَقّاً ، وَلأَهْلِكَ عَلَيكَ حَقّاً ، فَأعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ

“Sesungguhnya untuk Tuhanmu itu ada hak atas dirimu, untuk dirimu sendiri juga ada hak atasmu, untuk keluargamupun ada hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang berhak itu akan haknya masing-masing.

Abuddarda’ – paginya – mendatangi Nabi s.a.w. kemudian menyebutkan peristiwa semalam itu, lalu Nabi s.a.w. bersabda:  “Salman benar ucapannya.” (Riwayat Bukhari)

Ketiga :  Melakukan Kemaksiatan, dan Gaya Hidup Hura-Hura Dengan Dalih “Selagi Masih Muda”.

Biasanya di masa muda seseorang sedang merasa kuat, bersemangat, ingin melakukan banyak hal. Kesadaran penuh akan kebugaran yang sedang ia rasakan kadang membuatnya lupa untuk memanfaatkannya demi melakukan kebaikan, namun sebaliknya dorongan kuat dalam dirinya membuatnya melakukan banyak hal yang tidak benar dalam hidup ini mumpung masih muda. Maka sebagian mereka mengatakan “tidak apa-apalah mumpung masih muda, kapan lagi”. Disinilah dia tertipu melihat masa mudanya yang seharusnya dijadikan masa emas untuk menghasilkan banyak karya kebajikan.

Jauh-jauh hari Rasulullullah saw telah mengingatkan akan pentingnya mensikapi masa ini,

عَنْ بنِ عَبّاَسٍ رضي الله عنهما قَالَ : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ : ” اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ ”

“Rasulullah saw bersabda, “Manfaatkan lah lima hal sebelum tiba lima hal lainnya, masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kecukupanmu sebelum masa kemiskinanmu, masa luang sebelum tiba masa sibukmu dan masa hidup sebelum matimu”.

(HR Hakim dan disahihkan oleh al-Bani dalam kitab Shahih al-Jami )

Tampak dalam hadits ini Rasulullah saw menyebutkan masa muda padahal ini sudah tercakup pada “masa hidup sebelum mati”, memberi kesan betapa pentingnya mensikapi dengan benar masa muda dan tidak tertipu menilai masa ini.

Demikianlah tiga gambaran yang seringkali manusia salah mensikapi nikmat sehat, yang seharusnya meninggikan derajat malah merendahkan, yang seharusnya meningkatkan kualitas penghambaan malah menghempaskan ke jurang kemaksiatan.

Semoga usia yang telah kita lalui terampuni, masa yang sedang kita jalani terberkahi dan yang akan kita lewati senantiasa dalam naungan rahman-Nya. Demikian khutbah yang singkat ini semoga memberi daya guna.

.

BAGI
Artikel SebelumnyaBerdakwah kepada Keluarga
Artikel BerikutnyaIslam dan Toleransi